Direktur Eksekutif Caritas Indonesia Romo Fredy Rante Taruk: Gereja Terbuka Melayani Semua

41
Romo Clemens Joy Derry (paling kanan) mendampingi Mgr. Rolly Untu, MSC; Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ; dan Mgr. A.M. Sutrisnaatmaka, MSF mengunjungi salah satu area likuifaksi di Petobo, Palu Selatan.(HIDUP/Karian Chrisyantia).
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – CARITAS Indonesia (Karina) mengikuti pesan Paus Fransiskus untuk mencari yang terlemah, menjangkau perbatasan yang paling sulit untuk membebaskan orang dari perbudakan yang menindas mereka, dan menjadikan mereka pemeran utama dalam hidup mereka sendiri. Pesan ini begitu relevan bagi peristiwa bencana gempa bumi, tsunami dan likuifaksi yang menerjang wilayah Palu, Kab. Sigi, dan Kab. Donggala, Sulawesi Tengah pada 28 September 2018. Membawa pesan itu, Karina bersama Caritas PSE Manado ingin mencari mereka yang terlemah. Bagaimana perjalanan Caritas di Palu hingga saat ini ? Berikut nukilan wawancaran bersama Direktur Eksekutif Caritas Indonesia, Romo Fredy Rante Taruk pada Senin, 1/11/2021 via zoom.

Pastor Fredy Rante Taruk

Pada bencana level berapakah Karina akan turun tangan?

Pada pertemuan tahun 2019 di Wisma Canossa (Bintaro) diputuskanlah sebuah Standart Operation Procedure (SOP) Tanggap Darurat yang telah disepakati oleh semua keuskupan di Indonesia. SOP ini mengatur level bencana di mana disepakati bersama bahwa pada skala 0-1 korban jiwa dan terdampak langsung sampai 100 orang maka yang berperan adalah paroki; skala 1-10 orang korban jiwa dan terdampak langsung 100-1.000 orang masuk dalam level regional (masuk sekitaran provinsi) ini ditangani keuskupan; skala 100-1000 orang korban jiwa dan terdampak langsung 1.000-50.000 orang masuk dalam level nasional. Di skala nasional ini Caritas Indonesialah yang berperan. Jika skala korban mencapai 1.000-10.000 korban jiwa seperti Palu, ini bukan hanya nasional saja tetapi dalam protokol Caritas Internasionalis, direspons juga dalam Caritas dari negara-negara lain. Bencana di Palu sendiri masuk dalam skala internasional karena korban mencapai lebih dari 1.000 jiwa. Pada awal bencana di Palu, Caritas dari Roma bersama facilitating partner yang mengikutkan komunitas negara-negara membantu di Palu hingga bulan September 2018. Di tahun 2019, Karina mengambil alih dan menjadi pemimpin dalam pemulihan bencana di Palu.

KARINA mengusung protokol kemanusiaan, apakah yang dimaksud dengan itu?

Protokol itu menyangkut standar. Jadi kita mengenal yang disebut protokol Caritas Internasionalis dalam pelayanan kemanusiaan. Protokol ini menyangkut nilai dan prinsip dasar yang harus dipenuhi ketika melakukan pelayanan. Nilai ini meliputi: keadilan, kebaikan bersama, pengembangan manusia yang integral, bela rasa, keprihatinan utama pada dan bersama dengan yang miskin dan tertindas, hormat, dan solidaritas. Sedangkan prinsipnya melingkupi: kemitraan, subsidiaritas, partisipasi, pemberdayaan, kemerdekaan, penemanan dan akuntabilitas, kesetaraan, universalitas, ketidakberpihakan dan keterbukaan kepada semua bangsa, perlindungan, ekonomi lokal, peduli pada ciptaan dan perhatian pada dampak lingkungan, koordinasi, advokasi, pembelajaran dan pengembangan staf, peduli staf.

Jadi dalam pelayanan kemanusiaan disadari bahwa mesti melibatkan semua pihak tetapi berpegang pada jalur koordinasi. Dalam protokol itu pula terjadi pembagian peran dan tanggung jawab yang jelas antarsemua pihak. Dalam hal itu semua, prinsip Ajaran Sosial Gereja (ASG) harus dipatuhi kemudian bagaimana standar layanan itu semua diatur termasuk tentang perlindungan atas pribadi. Sekarang pemberian bantuan itu tetap ada Safe Guarding dan Child Protection, mengedepankan prinsip dan nilai perlindungan bagi semua.

Mengapa Palu menjadi sasaran “Learning Event” Karina tahun ini?

Pada tahap awal tanggap darurat Palu, pertama diberikan bantuan pangan, sandang, dan kebutuhan bukan makanan bersama bantuan uang tunai bagi keluarga terdampak. Di sini ada program yang bisa kita pelajari. Kedua, ada program pembangunan rumah yang sampai sekarang sudah pada tahap ketiga, bersama dengan Regio Jawa berarti tahap yang keempat. Dari sini, banyak orang bisa melihat ada begitu banyak karya yang bisa dilakukan pada saat kebencanaan. Ketiga, kita mau menyakinkan bahwa Caritas itu inklusif, melayani bagi semua. Semua komunitas dilayani di Palu meskipun umat Katolik minoritas tetapi semua orang terus dilayani. Jadi di sini kita belajar bahwa Gereja itu terbuka dan melayani semua, mengamalkan ASG. Keempat, memperlihatkan kesetiaan dan konsistensi Caritas bahwa ketika masih bisa membantu dari apa yang ada, maka kita tetap membantu di situ. Caritas hingga saat ini masih ada dan menjangkau yang paling rentan dan membutuhkan seperti satu kelompok asli yang tidak mendapat perhatian selama ini. Jadi, menjadi tempat Learning Event karena banyak hal yang bisa ditimba untuk mengasah belarasa, sikap dan hati kita terhadap implementasi ASG dalam persoalan martabat, solidaritas, dan inklusifitas.

Mengapa Desa Ape Maliko menjadi sasaran bantuan Karina di Palu ?

Bantuan sebenarnya tersebar di beberapa Kabupaten Sigi, Donggala, Palu, namun ketika kita membuat peninjauan (assesment) dari beberapa tahap itu kita akan selalu mencari yang paling membutuhkan dari yang paling membutuhkan, yang paling terdampkan dari yang terdampak, yang paling miskin dari yang miskin, dari yang paling lemah dari yang lemah. Kemudian setelah beberapa kali berlangsung proses, sebelumnya kami tidak tahu ada keberadaan mereka tetapi karena proses peninjauan ini, kita menemukan mereka. Dengan kata lain, sebelumnya tidak ada rencana khusus mendatangi tempat itu tetapi basis dari pelayanan adalah mencari yang terdampak, lemah, membutuhkan. Kita juga persis pada titik di mana awal tahun ini ingin melanjutkan program dan melanjutkan peninjauan melalui komunikasi dengan Kepala Desa Ape Maliko. Dari sini kita sepakat untuk merespons kebutuhan itu karena mereka paling membutuhkan kebutuhan saat ini.

Seberapa besar urgensi pembangunan hunian ini karena banyak orang menilai mereka tidak akan tinggal lama di dalamnya?

Jadi perjumpaan dengan masyarakat miskin dan sederhana adalah perjumpaan yang mestinya membawa manfaat. Kita menemukan bahwa mereka ini sangat terdampak. Memang banyak juga yang memprediksi jika mereka akan tidak nyaman tinggal di dalam rumah yang tetap, tetapi bagaimanapun juga secara kemanusiaan, de facto, mereka tinggal dalam tenda yang sangat tidak layak, penuh lumut dan langsung di atas tanah. Maka kita tetap optimis bahwa pembinaan supaya mereka bisa menggunakan fasilitas rumah dengan baik itu akan sejalan dengan ketersediaan rumah. Program lanjutan  ini adalah Community Manage Disaster Reach Reduction (CMDRR). Di sini masyarakat sendiri yang melihat kebutuhan lanjutan apa yang diperlukan sekaligus edukasi. Kedepan bisa kita perkuat livelihood mereka agar mencari nafkah dengan lebih efisien. Kita tidak boleh pesimis dalam menghadapi mereka yang memang terkendala bahasa, justru kita harus semakin bersemangat mengangkat harkat dan martabat mereka.

Bagaimana proses dialog pembangunan hunian ini terjadi?

Tentu syaratnya harus ada kesediaan mereka menerima. Jadi masyarakat tidak dibuatkan rumah jikalau mereka tidak mau. Mereka mengajukan kebutuhan ini melalui kepala desa. Untuk mengkonfirmasi hal ini dilakukan juga peninjauan lapangan. Staf Caritas PSE Manado bertemu langsung dengan mereka dan merasakan animo mereka. Dari situ kita semakin yakin bahwa mereka benar menginginkan rumah. Saya pun datang mengunjungi mereka sebelum pembangunan rumah dilakukan. Jadi indikator mereka mau menerima bantuan hunian terlihat dalam proses peninjauan dan ketika diadakan verifikasi nama, tidak ada yang menolak. Sejujurnya, mereka adalah masyarakat yang sangat terabaikan selama tiga tahun. Mereka bahkan tidak menyangka akan mendapat bantuan seperti itu karena sudah pasrah sebagai kelompok minoritas yang hidup ditengah hutan pasti tidak akan ada yang menaruh kepedulian lebih untuk mereka. Inilah panggilan kemanusiaan.

Berkaca dari peristiwa bencana yang telah dialami Indonesia, Karina memiliki impian untuk membangun Paroki Tangguh Bencana, apakah itu?

Kita mulai dari pemahaman bahwa Gereja Indonesia adalah Gereja yang hadir dalam sukacita dan dukacita masyarakat. Dari sini Caritas memandang bahwa dengan situasi geografis yang berada di area cincin api, maka pengalaman membuktikan hampir setiap saat terjadi bencana. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana bersama data statistik lainnya memperlihatkan bahwa tidak mungkin Indonesia tanpa bencana. Berangkat dari situ, Karina merasakan dalam fase respon di kurun waktu lima tahun terakhir yang diamati, bahwa yang mempercepat respon tanggap darurat adalah orang muda. Ini terbukti di Lombok, Palu, Mamuju, NTT. Sehingga, alangkah baiknya jika Orang Muda yang ada di paroki mendapat pelatihan dasar tanggap bencana. Faktanya, orang muda baru dilatih ketika sudah terjun dalam bencana. Jika orang muda memiliki ketrampilan dasar ini, mereka bisa langsung menolong korban dan menyalurkan bantuan lebih baik. Contohnya di Mamuju, rapid respond tiga bulan pertama itu cepat dan melibatkan 180an OMK dari paroki-paroki. Ini berarti apa? Gerakan Paroki Tangguh Bencana itu sisi pertama yang harus digarap melalui pelibatan OMK. Komisi Kepemudaan KWI juga telah menangkap cita-cita ini.

Ozagma Lorenzo Simorangkir (kanan) mendampingi Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ (tengah) ketika mengunjungi Selfin (kiri), penerima manfaat di Dusun II, Desa Ape Maliku. (HIDUP/Karina Chrisyantia)

Belum bencana kita harus sudah siap untuk apa? yang paling penting adalah mengurangi risiko dan jika terjadi, diharapkan jumlah korban akan berkurang. Dasar semangat gerakan ini adalah solidaritas antar wilayah dan ini yang paling membantu untuk meringankan beban penyintas sekaligus menghadirkan wajah Gereja yang siap sedia dan tanggap kebencanaan dimanapun dan kapapun.

Usai Learning Event di Palu, selanjutnya langkah apa yang akan Karina ambil?

Kami sedang merapikan program untuk 2022. Ada tiga tema yang tetap akan kami lanjutkan yakni, Gerakan Paroki Tangguh Bencana, melakukan respon Covid-19 yang melibatkan beberapa elemen yang menitikberatkan pada masalah sosial ekonomi. Program ini sedang kami rancang bersama keuskupan yang berminat untuk melakukan respon sambil meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran virus ini. Karena itu, edukasi dan publikasi penyadaran masyarakat tetap dilanjutkan. Kemudian kami merancang beberapa program strategis berkaitan dengan mitra pengungsi dan persoalan kemanusiaan yang lain. Ini kami tetap lanjutkan dengan kolaborasi beberapa mitra di KWI dan juga organisasi terkait.

Sedangkan program yang sudah jalan antara lain pendampingan keuskupan dan program ketahanan pangan, ketahanan perempuan kepala rumah tangga, rehabilitasi di NTT. Saat ini, ada program yang sedang berjalan yakni respons seroja berbasis dana lokal yang bisa mungkin digunakan untuk jadi learning event tahun depan. Kemudian ada program pengurangan risiko bencana dan pendampingan di Kalimantan Barat berfokus pada penguatan masyarakat lokal. Ini bisa juga menjadi learning event karena kita menerapkan pendampingan yang kita sebut pembangunan masyarakat berbasis aset yang mereka miliki aset komunitas.

Felicia Permata Hanggu/Karina Chrisyantia

HIDUP, Edisi No.46, Tahun ke-75, Minggu, 14 November 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here