Mengurai Jejak Luka dalam Badai Salju

89
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – “SAYA mengampuni dosa-dosa saudara, dalam Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus,” Pastor di balik pembatas berucap sambil membuat tanda salib.

Shira mengikuti membuat tanda salib, lalu beranjak dari ruang pengakuan dosa. Mendekati kereta bayi di sisinya, mendorong ke luar. Bayi mungil tidur tenang dalam balutan selimut tebal, sarung tangan dan topi menutupi telinga. Shira berusaha mendorong pintu gereja tua yang tinggi dari kayu kokoh. Berat, tapi sepertinya beban hidup lebih berat dari pintu itu. Untung sudah terlepaskan sedikit setelah menjalani Sakramen Pengakuan Dosa.

Suara pastor di balik pembatas begitu menyejukkan semacam muncul dalam memori lama. Berbahasa Belanda fasih, tapi dialeknya agak kental. Pintu gereja terbuka, tampak seluruh tanah tertutup salju tebal. Suasana Natal diwarnai angin kencang namun diselingi dengan manis serpihan salju lalu menebal di bumi memutihkan semua.  Akhirnya bisa melantunkan White Christmas dalam suasana pas, bukan sekadar mengucap I’m dreaming of a white Christmas… tapi White Christmas is real……!

Alles goed……? Deze winter is erg sterk joh..!”  tiba-tiba terdengar suara berat menyapa, menanyakan apakah semua baik-baik saja sebab Musim Dingin kali ini cukup ekstrem.

Shira menoleh, kaget luar biasa. Suara dan dialek terasa sama persis dengan yang tadi terdengar di ruang pengakuan dosa, juga sangat lekat dalam memori. Bibirnya gemetar sambil terucap pelan, “Ben? Euughhh… pardon.. Pastor Ben?”

“Bert… niet Ben!” ulang pria yang dipanggil Ben.

“Maaf…. eh… Het spijt me…!”

“Orang Indonesia juga?”

Shira terkesima. Tiba-tiba bayi dalam kereta dorong menangis, bola matanya sekarang terbuka lebar. Pastor Bert yang dipanggil Ben tadi oleh Shira mengelus pipi bayi, berusaha mendiamkan. Perlahan tangisan berubah senyuman.   Pastor muda itu terhenyak  melihat matanya ada pada mata bayi itu. Sekali lagi mengelus pipi bayi yang terlihat  bahagia mendapat kehangatan tangannya dan itu membuat pandangan Pastor Bert meredup. Tulang pipi dan senyum bayi dalam kereta dorong persis sama dengan yang dimilikinya, seakan melihat wajahnya pada bayi itu.

Mendadak Pastor Bert berdiri dan sekarang menatap wajah Shira dalam-dalam lalu bertanya pelan, nyaris tak terdengar. “Di mana ayahnya?”

Shira tidak langsung menjawab, malah menarik pegangan kereta bayi dan berusaha menjauhkan bayinya dari Pastor muda itu.

“Pastor boleh melupakan semua yang telah terjadi, tapi wajah bayi ini tidak bisa berdusta tentang siapa ayahnya. Ternyata pakaian kebesaran pun tidak menunjukkan kebesaran hati apalagi sebuah kejujuran,” Shira nyaris tak kuasa menahan tangis sambil menatap jubah putih Pastor Bert yang disebutnya sebagai lambang kebesaran.

“Aku tidak mengerti makna kalimatmu,” Pastor Bert mengerutkan kening.

“Pastor boleh lari dari Indonesia dan sembunyi dalam balutan jubah, tapi tetap akan terjerat kenyataan dalam tubuh bayi ini. Dan tak perlu mengubah identitas dalam pelarian.”

Shira berusaha bergegas berlalu. Tetapi salju tebal menghalangi langkah. Sekali lagi matanya menembus tajam mata Pastor Bert seakan memuntahkan ribuan tanya.

Kenapa Bert pergi begitu saja dari hidupnya setelah melalui malam indah, meski keindahan itu dalam bungkusan cinta mendalam telah menyebabkan terpleset pada perbuatan terlarang?

Apakah Bert mengira dalam balutan jubah putihnya akan memutihkan semua perbuatan kelam di waktu lalu dan meninggalkan bukti otentik?

Masih pantaskan Bert berada di depan altar setelah menggores sendiri catatan masa lalunya?

Benar Tuhan Mahapengampun! Tetapi pernahkan Bert berpikir ada orang yang bahkan tidak pernah bisa mengampuni diri sendiri, terus berkelana mencari yang hilang mendadak dari hidupnya. Bahkan rasa itu memberikan jejak utuh bernyawa.

Sekarang Bert seolah baru terserang amnesia akut, kehilangan seluruh memori sampai tidak ingat lagi siapa perempuan di depannya ini, sementara dalam hatipun dia pasti mengakui ada wajahnya di wajah bayi mungil tak berdosa. Bahkan Bert tak berkenan dipanggil dengan nama kecil hanya karena sudah pindah atau tepatnya ‘melarikan’ diri ke negeri tulip.

Aaahhh… Bert sekerdil itu kamu, sementara jubah putihmu begitu megah. Demikian kalimat tertahan di sanubari terdalam Shira.

“Aku tidak akan mengganggumu lagi Bert.. eeh.. Pastor, minimal akhirnya bisa menemukanmu dalam pelarian. Satu lagi bukti, orang pasti selalu dipertemukan dengan cinta sejatinya bila tetap tulus.” Shira berbisik nyaris tak terdengar lalu beranjak.

“Jangan pergi….!” Cepat pastor muda itu meraih tangan Shira, menggengam erat.

“Lepaskan! Tak perlu mengulang romansa apapun dalam masa kini sebab aku masih ingin merenda masa depan anakku yang tak berayah.”

“Ikut aku….!”

“Jangan bikin skandal. Apa kata orang nanti melihat seorang pastor menarik paksa perempuan muda beranak satu tanpa memiliki silsilah garis ayah.”

“Akan kubuat anakmu bangga akan silsilah ayahnya.. dan paham betapa besar cinta ayahnya, bahkan sudah mempersiapkan masa depannya.”

“Omong kosong apa ini?”

“Ini memang sekadar omongan, tapi percayalah tidak kosong.”

“Biarkan aku pulang dan menutup semua ini. Anakku akhirnya bahagia pernah merasakan pelukan hangat ayahnya. Biarkan itu sekali ini saja. Jangan nodai lagi dirimu untuk kedua kali. Kamu milik umat, kami tidak berhak lagi menjadi bagian dari hidupmu, tapi kami bisa memilikimu sebab kami juga umatmu.”

“Perempuan bijaksana….!”

“Tapi meranaaa….!”

***

          “Di sini lebih hangat. Akan kubuatkan kopi, kamu boleh menunggu di sini sampai badai salju mereda.”

Shira menerima tawaran kopi panas yang tampak nikmat di tengah badai salju. Sepanjang hidup dia memimpikan white Christmas dan sekarang nyata, tetapi kenapa harus ternoda kenangan kelam masa lalu?

“Ayo ke ruang kerja. Akan kutunjukkan sesuatu.”

Shira gemetar. Tak hendak beranjak. Kata ruang kerja begitu menakutkan. Kejadian itu berlangsung di ruang kerja Bert saat badai angin melanda kota dan dia tak bisa pulang. Terjebak kisah atas nama asmara di ruang kerja Bert.

Haruskah terulang di tengah badai salju? Terlalu jauh mengulang kesalahan sampai ke negeri kitiran. Bukan kebetulan terjebak dalam badai dua kali meski berbeda jenis, angin dan salju. Juga tak perlu mengukir kisah kelam kembali meski akan terasa indah. Tapi sesaat.

“Ayo..! Senja ini, di tengah badai salju kau akan menyelesaikan kisah lama dan memulai kisah baru dalam sukacita.”

Shira menahan diri sekuat tenaga. Pikirnya berkecamuk, bertanya dalam nurani, inikah yang disebut orang janji menyesatkan dari balik jubah dan topeng kepedulian? Bagai terhipnotis Shira ikut melangkah sambil memeluk erat bayinya. Paling tidak ini akan menjadi sebuah kekuatan dan senjata untuk bertahan, pikirnya. Bukan bertahan dari sebuah tindak kekerasan tetapi justru melankolia lebih dominan.

“Bert.. ehh.. Pastor… kamu tidak akan mengulangi kesalahan lalu dan membuat noda baru kan,” tanya Shira sangat hati-hati.

“Jangan lagi panggil Bert. Aku Ben. Itu Bert yang kamu cari,” tegas Pastor Ben   saat pintu terbuka di mana langsung terlihat foto berukuran 50 x 70cm. Jelas tampak di foto, dua pemuda ganteng tertawa sambil berpelukan.

Shira gemetar dan bayinya nyaris jatuh dari gendongan. Sigap disambut Bert dan pindah ke dalam pelukannya.

“Tidak ada yang kebetulan, meski terlihat semua peristiwa ini tidak mungkin dan hanya ada di cerita sinetron striping. Tapi ini terjadi. Kamu telah dituntun ke tempat ini guna menutup kisah lama yang membebani. Saat badai mereda dan salju mencair, jejak lukamu akan terkubur di bawah telapak kakimu sendiri saat menapak. Jejak yang tertinggal akan tertutup kembali oleh salju yang tetap turun membungkus bumi menjadi putih. Seputih hatimu kembali.”

“Pastor Bert… !”

“Aku Ben, bukan Bert, dan Bert bukan pastor.”

“Bert tidak pernah cerita punya saudara kembar.”

“Tidak penting juga kan…! Yang penting dia cerita tentang kamu dan saat di ruang pegakuan, aku merasa pernah mendengar kisah yang kamu tuturkan. Beruntung badai salju menahan langkah kalian dan pertemuan ini terjadi.”

“Kenapa Ben menghilang? Dia tidak mencintai aku? Dan anak ini berarti hanya sebatas korban nafsu kami? Bukan cinta?”

“Kata Ben, kesalahan terbesarnya adalah jatuh cinta. Sebab dia yakin akan menyakiti orang yang dicintai karena tahu hidupnya singkat. Sel kanker dalam tubuhnya tak pernah bisa ditundukkan.”

“Bukankah cinta sejati bisa menerima segala situasi?”

“Kamu mungkin bisa, tapi dia tidak. Berat baginya menyaksikan saat air matamu menetes bila dia pergi kelak.”

“Dia tidak yakin besarnya cintaku.”

“Justru sangat yakin dan cintanya kepadamu tanpa batas. Hanya saja tak hendak melihatmu berduka. Baginya pergi tanpa melihat air matamu membuatnya tenang.”

“Apa dia tahu ‘warisan’ nyawa yang dia titipkan ini?”

“Sangat tahu! Dia berharap kamu memaafkannya. Meskipun cara ini tidak pantas, tapi dia bahagia bisa meninggalkan seseorang yang akan menjagamu kelak. Anak ini. Darah dagingnya!

“Di mana Bert sekarang?”

“Mari saya antar kamu menemuinya!”

***

Mobil Pastor Ben memasuki Kota Bergen Op zoom dan berbelok ke sebuah tempat bertuliskan CREMATORIUM. Tangis Shira pecah sambil memeluk erat bayinya.

Ada titik air tak terbendung dari kelopak mata.

Saat tanganmu menjauh dan lambaian itu menggores korneaku.

Oleh Ita Sembiring

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here