Banyak Orang yang Membantu

264
Rate this post

HIDUPKATOIK.COM – Blak-blakan, terbuka, dan tidak suka menyembunyikan perasaan, bahkan kadang lupa bahwa dia adalah tokoh publik. Karakter demikian membuatnya mudah diterima karena ia percaya banyak orang yang membantunya.

SEBUAH pesan mendarat di handphone Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono, “Segera mengabari kalau sudah punya waktu luang.” Di belakang pesan itu ada simbol salib dan tulisan Nunsio. Memang sebelum mendapat pesan itu, Mgr. Sutikno beberapa kali ditelepon nomor yang sama. Tetapi ia tidak mengangkatnya dan pikirnya kalau telepon balik menggunakan rooming, biayanya mahal.

Rasa penasaran akan pesan itu membuat Mgr. Sutikno menceritakannya kepada Pastor Adrianus Akik Purwanto. Pastor Akik, sapaannya, sedang mengurus persiapan studi master pendidikan di Universitas de La Salle, Manila, Filipina.

Pastor Adrianus Akik Purwanto

Pastor Akik bercerita, saat menerima pesan dan telepon dari Nunsio yang dianggap sebagai “April Mop” karena persis 1 April 2007. Kemudian Mgr. Sutikno meminta Pastor Akik untuk mencari tahu alamat nomor SMS dan telepon itu. “Setelah saya bertanya sana-sini, serta secara meyakinkan diberitahu Pastor Benny Susetyo, ternyata benar nomor tersebut dari kantor Nunsio di Jakarta,” cerita Pastor Akik. Lanjutnya, “Sehari setelahnya, Mgr. Sutikno menerima telepon Nunsio yang menyampaikan harus balik ke Surabaya dan tidak perlu menyelesaikan studi doktoralnya, sebab dirinya diangkat jadi Uskup Surabaya.”

Pastoral Pendidikan

Pastor Akik mengenal Mgr. Sutikno sejak tahun 1987 di Seminari Menengah St. Vincentius a Paulo, Garum, Blitar. Ia dikenal dengan panggilan Pastor Tikno, ekonom seminari. Sayang perjumpaan hanya setahun karena Mgr. Sutikno diutus studi master Psikologi Konseling di Filipina. Perjumpaan itu terjadi lagi di Seminari Tinggi Interdiocesan Giovanni Malang, dan Mgr. Sutikno menjadi rektor. Perjumpaan selanjutnya saat terjadi sede vacante Keuskupan Surabaya tahun 2007 dan Pastor Akik diminta Pastor J. Haryanto, CM Administrator Apostolik untuk melanjutkan studi program master pendidikan di universitas yang sama dengan Mgr. Sutikno.

Di mata Pastor Akik, Mgr. Sutikno seorang yang spontanitas. Misal, saat liburan di Seminari Garum, Pastor Akik pernah bersamanya mengangkat kasur-kasur seminaris untuk dijemur di lapangan basket. Di seminari tinggi juga demikian, Mgr. Sutikno tidak segan bekerja bakti bersama para frater dalam berkebun, beternak ikan, ayam, sampai sapi. “Saya juga mengenalnya sebagai sosok kebapakan dan juga sebagai teman. Meski sebagai rektor, tidak segan mengadakan dialog, perjumpaan di kamar para frater,” cerita Pastor Akik.

Hal menarik lainnya adalah Pastor Akik baru mengetahui bahwa Mgr. Sutikno yang merekomendasikan dirinya untuk studi lanjut agar ada pastor yang belajar tentang pendidikan. Dari hal ini, betapa Mgr. Sutikno begitu memikirkan dan bertindak untuk karya pastoral pendidikan di Keuskupan Surabaya. “Bahkan setelah diangkat sebagai uskup, perhatian pertama adalah dunia pendidikan. Dalam Surat Pastoral pertama tahun 2008, ia memutuskan untuk ada kolekte kedua di minggu pertama untuk dunia pendidikan,” tuturnya.

Kepemimpinan Partisipatif

Cerita menarik lain datang dari Pastor Petrus Canisius Edi Laksito. Pastor Laksito mengenal pertama kali Mgr. Sutikno saat memberi rekoleksi untuk para seminaris Garum. Waktu itu Mgr. Sutikno baru saja tahbisan diakon, dan Pastor Laksito seminaris kelas 2 SMP tahun 1981. Dua tiga tahun kemudian, Mgr. Sutikno ditugaskan sebagai pembina di Seminari Garum hingga kelas 1 SMA lalu ditugaskan ke Manila untuk studi. Ketika kembali dan menjadi Rektor Seminari Tinggi Giovanni, Pastor Laksito berada di tingkat IV. “Sampai dengan selesainya pembinaan saya di Giovanni, dilanjutkan dengan tahbisan diakon dan kemudian tahbisan imam 9 Januari 1996, Mgr. Sutikno yang berperan penting bagi pembinaan saya, selain Romo Yatno, Romo Sipri, SVD dan Romo Koelman, SJ,” ujarnya.

Pastor Petrus Canisius Edi Laksito

Menurut Pastor Laksito, perayaan 40 tahun imamat Mgr. Sutikno merupakaan saat istimewa dan penuh syukur, karena mengingatkan dirinya akan perjalanan panggilan dan imamatnya sendiri. “Saya pantas berterima kasih karena perhatian Bapak Uskup. Sebagai imam muda yang masih banyak gejolak, maupun sebagai rekan kerja yang “harus menjadi dewasa” ketika ditugasi sebagai Vikjen pada saat awal menjabat sebagai Uskup, tahun 2007.”

Bagi Pastor Laksito, Mgr. Sutikno seorang yang blak-blakan, terbuka, dan tidak suka menyembunyikan perasaan. Keberhasilan Mgr. Sutikno menggembalakan keuskupan pertama-tama karena kemampuannya menerima masukan dan melibatkan banyak orang untuk ambil peran.

Gaya kepemimpinan Mgr. Sutikno adalah gaya kepemimpinan partisipatif, lugas dan berani memulai hal-hal baru dalam penataan Keuskupan. Salah satu yang masih dicita-citakan Mgr. Sutikno hingga hari ini adalah mengembangkan Institut Teologi Yohanes Maria Vianney sebagai pusat teologi di Keuskupan Surabaya.

Pribadi Belarasa

Tak berbeda jauh dengan Pastor Laksito, Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Surabaya, Pastor Yosef Eka Budi Susila angkat bicara. Kebersamaan dengan Mgr. Sutikno tidak saja sejak 11 April 2017 saat diangkat jadi Vikjen. “Kami pernah bekerja sama waktu saya pastoral di Seminari Garum dan Bapak Uskup menjadi rektor. Ini pengalaman paling menyenangkan karena terjadi relasi yang harmonis di antara kami. Saya pernah dipinjami motor Honda GL Max untuk pelayanan,” cerita Pastor Susila.

Pastor Yosef Eka Budi Susila

Waktu itu, tugas Pastor Susila salah satunya setiap Rabu Pukul 15.00 WIB, berangkat lebih dahulu ke Stasi Swalu Buluroto, di kawasan perkebunan kopi. Ia diminta mengajar anak-anak dan nanti Pukul 17.00 Mgr. Sutikno memimpin Misa. “Usai Misa ada makan malam lalu kami kembali dengan naik motor masing-masing. Saya tidak bisa dihindarkan untuk balapan dengan Mgr. Sutikno. Kelakuan kami berdua pernah membuat Pastor Adam van Mensfort meradang,” cerita Pastor Susila mengingat masa pastoralnya.

Lanjutnya, saya menghormati Mgr. Sutikno waktu itu bukan untuk mendapatkan nilai baik, tetapi karena watak yang tercermin dalam dirinya. Saat tiba di tempat tugas, Pastor Susila sering menggunakan bahasa Jawa madya atau karma inggil. Hal ini membuat Mgr. Sutikno menyuruhnya berbahasa Jawa ngoko. “Ko wis gak usah ngomong basa krama, basa Suroboyoa wae”, katanya di ruang rekreasi Seminari Garum.

Setelah menjadi uskup, sikap egaliternya masih terus dipertahankan hal ini membuat Dewan Imam, Dewan Konsultores, Dewan Keuangan Keuskupan Surabaya bisa berkembang lebih baik. Mgr Sutikno adalah pribadi yang gampang prihatin terhadap penderitaan orang. Pernah di Seminari Garum, beberapa orang tua menyerahkan anak mereka ke Mgr. Sutikno dengan berkata, “Romo borong anak saya ini saya serahkan kepada Romo”. Maksud dari kalimat ini yaitu mereka menyerahkan anak agar dibiayai Mgr. Sutikno.

“Wah aku ini tidak pernah punya istri, tidak pernah kawin, tetapi disuruh bertanggung jawab membiayai anak. Yahh enaknya sampeyan, sorone aku,” kelakar Uskup. Walau begitu, sampai sekarang Mgr. Sutikno tetap memilih membiayai anak-anak yang kurang mampu. Beberapa telah berhasil di tempat kerja masing-masing.

Banyak Orang Baik

Sementara Pastor Agustinus Tri Budi Utomo menceritakan pengalaman kebersamaan dengan Mgr. Sutikno. Tahun 1986, Mgr. Sutikno mewawancarainya ketika masuk Seminari Garum. Selanjutnya relasi keduanya cukup dekat karena Pastor Tri ditunjuk sebagai Ketua Umum di seminari dan Mgr. Sutikno adalah pamong. “Waktu itu dia pastor muda yang energik, suka guyon, suka naik motor, cewawakan tertawa lepas, suka pakai gaya Suroboyoan. Makanya dia sangat dicintai seminari.”

Pastor Agustinus Tri Budi Utomo

Ketika Mgr. Sutikno di Manila, Pastor Tri sering berkorespondensi. Ketika kembali sebagai Rektor Seminari Giovanni Malang, Pastor Tri meminta oleh-oleh kamus Teologi dan Buku Jerome Biblical Commentary. “Ternyata ketika tiba di Malang, dia membawanya,” cerita Pastor Tri.

Relasi keduanya cukup dekat karena memiliki kegemaran yang sama, khususnya soal seni. “Saya diajak merancang kapel Seminari Tinggi dengan memanfaatkan limbah kayu dan hiasan dari kuningan. Hal ini terus berulang beberapa kali hingga kini. Bahkan ketika dipilih jadi uskup, saya dipanggil ke Surabaya untuk merancang lambang episkopalnya,” ujar Pastor Tri.

Dalam pemikiran Pastor Tri, Mgr. Sutikno terkadang terlalu spontan dan “sembrono” dalam mempercayakan tugas kepada dirinya yang kadang-kadang di luar kemampuannya seperti menjadi vikaris episkopal lalu menjadi Vikjen.

“Memang kalau tidak mengenal Bapak Uskup orang akan merasa kaget. Dia seorang yang spontan dan tidak bisa menyembunyikan perasaan bagi yang kekurangan. Kadang-kadang juga dirinya lupa bahwa dia adalah public figur yang mestinya menjaga image. Tapi itulah pribadi Mgr. Sutikno dan saya yakin lebih banyak karya Roh Kudus yang bekerja dalam penggembalaannya,” ujar Pastor Susila.

Satu lagi, Mgr. Sutikno sangat yakin bahwa di sekelilingnya, Tuhan telah mengutus orang-orang baik. Misal, Mgr. Sutikno pernah memeluk buku Arah Dasar Pastoral hasil Musyawaran Pastoral sambil meneteskan airmata. Menurutnya, representasi pluralitas umat Katolik yang menyukseskan Ardas ini selain dukungan banyak orang juga karya Roh Kudus.

Yusti H. Wuarmanuk

HIDUP, Edisi No. 04, Tahun ke-76, Minggu, 23 Januari 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here