Hampir Dua Abad Tanpa Pelayanan: Datangnya Dua Jesuit Menghidupkan Kembali Iman Umat Manado

138
Mgr. Rolly sesaat setelah ditahbiskan menjadi Uskup Manado lima tahun lalu. (Foto: Ist.)
5/5 - (3 votes)

HIDUPKATOLIK.COM – GEREJA Katolik hadir di wilayah, yang sekarang disebut Keuskupan Manado, pada tahun 1563 ketika Pastor Mahelhaes membaptis Raja Manado, Raja Siau dengan 1.500 umat. Misi Katolik terhenti karena pertikaian VOC sehingga hampir dua abad tidak ada pelayanan kepada umat.

Gereja Katolik berkembang lagi dengan datangnya Pastor Johanes de Vries, SJ tahun 1868. Ia mempermandikan 254 orang di pelbagai tempat di Minahasa, khususnya permandian pertama di Kema (sekarang menjadi Minahasa Utara) pada 14 September 1868 untuk 24 orang.

Pelayanan misi dilanjutkan tahun 1873 oleh Pastor G. Metz, SJ dan Pastor J van Meurs, SJ. Tahun 1883/1884 Pastor Le Cocg, SJ mempermandikan 1.318 orang. Pada tahun 1907 umat Katolik telah berkembang sekitar 8.000 orang.

Prefektur Apostolik Celebes terbentuk pada 19 November 1919 dari Vikariat Apostolik Batavia. Wilayah Apostolik Batavia mencakup seluruh Sulawesi dan dipercayakan kepada imam dari Tarekat Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC).

Desember 1919, Pastor Gerard Vester, MSC diangkat sebagai Prefek Celebes. Jabatan ini dipegangnya hingga ia diangkat sebagai Uskup Titular Diocletianopolis di Palestina pada 16 Februari 1923.

Karena Mgr. Vester harus berangkat menuju ke tempat tugas yang baru pada 15 Mei 1923 maka Pastor A. Brocker, MSC  menjadi Proprefek sampai Sri Paus mengangkat Prefek Apostolik yang baru yakni Pastor Joannes Walter Panis, MSC.

Status Apostolik Celebes kemudian ditingkatkan menjadi Vikariat Apostolik Celebes pada 10 Februari  1934. Karena itu, pada 24 Juni 1934 Mgr. Panis ditahbiskan menjadi uskup. Pada 27 April 1937 Vikariat Apostolik Celebes (Sulawesi) dibagi menjadi dua yakni Vikariat Apostolik Manado dan Vikariat Apostolik Makassar.

Vikariat Apostolik Manado dipimpin Mgr. Panis dibantu beberapa imam dari Tarekat MSC dan Prefektur Apostolik Makassar dipimpin Mgr. Martens yang dibantu para imam dari CICM.

Pada 31 Januari 1961, Takhta Suci mengangkat semua  Prefektur Apostolik dan Vikariat Apostolik di Indonesia menjadi diosis (keuskupan). Mgr. N. Verhoeven, MSC diangkat sebagai Uskup Manado pada 2 Februari 1961.

Sejak ditetapkan sebagai Keuskupan Manado pada tahun 1961 dengan Uskup pertama Mgr. Verhoeven, telah terjadi beberapa kali pergantian uskup di keuskupan ini.

Pastor Dr. Theodorus Hubertus Antonius Jakobus Moors, MSC yang sebelumnya dipercayakan Mgr. Verhoeven sebagai Vikaris Jenderal, pada 20 Mei 1967 diangkat menjadi Uskup Auxilier. Pada 26 Juli 1969, Mgr. Verhoeven (karena telah lanjut usia) menyerahkan kepemimpinan Keuskupan Manado kepada Mgr. Moors.

Dikarenakan usia sudah lanjut dan kondisi kesehatan yang makin menurun, pada 17 Maret 1990, sesuai ketetapan Sri Paus Johanes Paulus II, Pastor Josephus Suwatan, MSC yang sedang menjadi Pemimpin Provinsi MSC Indonesia diangkat sebaga Uskup Manado. Pada 29 Juni 1990, pastor yang akrab disapa Josef atau Yos ini menerima tahbisan uskup dan memimpin Keuskupan Manado hingga  Juli 2017.

Jajaran imam yang hadir saat upacara tahbisan Mgr. Rolly lima tahun lalu. (Foto: Ist.)

Pada 8 Juli 2017, Pastor Benedictus Estephanus Rolly Untu, MSC ditahbiskan sebagai Uskup Keuskupan Manado yang diadakan di Stadion Tondano. Jumat (8/7/2022), Mgr. Rolly akan memperingati lima tahun kegembalaannya sebagai Uskup Manado.

Mgr. Rolly, ketika ditahbiskan sebagai Uskup Manado mengusung moto In lumine tuo, videmus lumen (Mazmur 36 ; 10) yang artinya Dalam terangMu, kami melihat Cahaya.

Persekutuan yang Menghidupkan

Dalam tugas kegembalaannya, Mgr. Rolly menetapkan visi Keuskupan Manado, sebagaimana termuat dalam Renstra lima tahun pertama, yakni Dalam terang sabda Allah, Gereja Keuskupan Manado menata persekutuan yang menghidupkan dan yang saling membantu sebagai saudara.

Sementara misinya ada tujuh. Pertama, menata struktur dan manajemen pastoral dengan bertumpu pada paham Gereja adalah persekutuan komunitas-komunitas basis.

Kedua, menggalakkan dengan memperhatikan pengadaan sarana, pembinaan dan pengupahan layak para katekis, pembentukan kelompok-kelompok pendalaman iman dan dukungan finansial.

Ketiga, menyusun dan menerapkan pedoman liturgi khusus Keuskupan Manado.

Keempat, memajukan karya-karya kerasulan awam dalam kerjasama penuh dengan kaum tertahbis di bidang martabat keluarga, sosial ekonomi, politik, option for the poor, hukum, hubungan antaragama dan keutuhan ciptaan.

Kelima, merevitalisasi persekolahan Katolik di bawah lembaga Yayasan Pendidikan Katolik Keuskupan Manado dan mengusahakan pendidikan Katolik luar sekolah.

Keenam, menginventarisasi, mengadministasi dan memberdayakan seluruh harta benda gereja demi pembangunan umat dan menata manajemen keuangan secara profesional.

Ketujuh, mengundangkan dan menetapkan statuta dan pedoman-pedomam keuskupan.

Berdasarkan data statistik Keuskupan Manado tahun 2021, jumlah umat Katolik Keuskupan Manado berjumlah 145.424 orang. Paroki 74 (termasuk 1 paroki quasi).

Jumlah imam diosesan berjunlah 108 orang; iman tarekat (MSC, OCD dan CSE) 60 orang; bruder (MSC dan BTD) 32 orang; frater (CMM dan CSE) 32 orang; suster (SJMJ, DSY, OCD, PBHK, OSF, OSU dan Putri Karmel) 180 orang.

Wilayah gerejani Keuskupan Manado tersebar di tiga provinsi pemerintahan yakni Sulawesi Utara, Gorontalo dan Sulawesi Tengah.

Sementara kevikepan terdiri dari sembilan yakni: Manado, Tombulu, Tonsea, Tomohon, Tondano, Sangihe Talaud, Stella Maris, Palu, dan Luwuk Banggai.

Uskup Rolly dan Makna Logonya

USKUP Manado Mgr. Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC dilahirkan di Lembean Kabupaten Minahasa (sekarang Minahasa Utara) Provinsi Sulawesi Utara pada 4 Januari 1957. Ia adalah anak kedua dari sembilan bersaudara pasangan ayah Gerardus Damianus Untu (alm) dan ibu Geertruida Lasut (alm.) Seorang saudaranya menjadi imam (alm) dan seorang lagi menjadi suster Kongregasi Dina Santo Yosep (DSY).

Tahun 1961, ia masuk TK Malaikat Pelindung Manado dan tahun 1962 SD RK IV Manado. Tahun 1969 Seminari Menengah St. Fransiskus Xaverius Kakaskasen dan tahun 1976 Seminari Agung Pineleng. Tahun 1978 Novisiat di Karanganyer Kebumen (Jateng) dan pada 6 Desember 1978 mengikrarkan kaul pertama dalam Tarekat MSC. Tahun 1979 lanjut studi di Seminari Agung Pineleng. Tahun 1981-1982 tahun pastoral di Dobo, Kepulauan Aru (Maluku). Tahun 1982-1983 lanjut studi di Seminari Agung Pineleng (teologi).

Tanggal 15 Januari 1983 mengikrarkan kaul kekal dalam di Pineleng dan keesokan harinya (16/1/1983) tahbisan diakon oleh Mgr. Theodorus Moors, MSC di Pineleng. Tanggal 29 Juni 1983 ditahbiskan sebagai imam oleh Mgr. Moors di Katedral Manado.

Tahun 1983 menjadi Pastor Paroki Tondano dan tahun 1984 Pastor Paroki Tuminting Manado. Tahun 1985-1986 studi Spiritualitas di Bangalore, India. Tahun 1986-1991 Socius Novisiat MSC di Karanganyer Kebumen (Jateng).

Tahun 1991-1994 studi Dogma di Universitas Leuven Belgia. Tahun 1995 jadi Dosen Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng merangkap Dewan Imam dan Konsultor Uskup Manado. Tahun 2003-2005 Superior Skolastikat MSC Pineleng merangkap Dewan Imam dan Konsultor Uskup Manado.

Tahun 2005-2008 Wakil Provinsial MSC Indonesia. Tahun 2008 Asisten II Provinsial MSC Indonesia. Tahun 2011-2016 Provinsial MSC Indonesia. Tanggal 7 April 2017 menjadi Uskup Keuskupan Manado menggantikan Mgr. Josef Suwatan, MSC.

Sebagai Uskup, ia memiliki moto tahbisan yakni In lumine tuo, videmus lumen yang artinya Dalam terangMu, kami melihat cahaya (Mzm. 36 : 10).

Lambang Uskup adalah perisai yang terbagi menjadi tiga bagian: dua bagian atas, kiri dan kanan, dan satu bagian di bawah.

Di bagian kiri atas, dengan latar belakang warna biru adalah gambar Hati Yesus yang Mahakudus dengan warna merah, bermahkotakan duri warna keemasan di bagian tengahnya dan dengan nyala api warna keemasan di bagian atasnya. Gambar ini menerangkan, Uskup berasal dari taerkat religius menghidupi Spiritualitas Hati.

Di bagian kanan atas, dengan latar belakang warna merah adalah sebuah bintang berwarna putih, lambang Allah, dengan sebuah lampu minyak berwarna keemasan di bawahnya. Lampu minyak dari bahan tanah liat seperti ini biasa digunakan sebagai alat penerangan di zaman Yesus. Lampu ini memiliki satu simbu di ujung di sebelah kiri, dengan api yang menyala menerangi area sekitarnya.

Di bagian bawah, dengan latar belakang warna putih adalah laut biru dan sebuah gunung berwarna hijau di atasnya, melambangkan wilayah Keuskupan Manado yang meliputi daratan dan gunung-gunung yang hijau dan banyak kepulauan serta laut yang kaya.

Di atas gunung, di sebelah kanan adalah gambar burung gagak berwarna hitam, yang membawa di paruhnya sepotong roti; ini adalah atribut yang biasa ditemui bersama Santo Bemedictus Abbas dari Norcia.

Masih di atas gunung, di sebelah kiri adalah tiga buah batu berwarna keemasan dengan selembar daun palma berwarna hijau di atasnya; ini adalah atribut yang biasa ditemui bersama Santo Stephanus Martir Pertama yang wafat dirajam.

Di sebelah perisaj ditempatkan sebuah galero atau topi khas klerus berwarna hijau, dengan enam jumbai pada masing-masing sisinya. Di bagian tengah belakang perisai adalah sebuah salib pancang berwarna kuning keemasan. Galero hijau dengan enam jumbai berikut salib pancang ini merupakan penanda bahwa sang empunya lambang adalah seorang uskup.

Di bagian bawah perisai terdapat pita berwarna kuning keemasan bertuliskan moto penggembalaan Uskup Rolly.

Lexie Kalesaran (Manado) dari berbagai sumber

HIDUP, Edisi No.27, Tahun ke-76, Minggu, 3 Juli 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here