Spiritualitas Kongregasi SPM dari Amersfoort: Kepenuhan Martabat Manusia sebagai Citra Allah

47
Seorang Suster SPM (baju biru) bertemu dengan lansia.
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – DUA ratus tahun Kongregasi Santa Perawan Maria (SPM) Amersfoort di tengah dunia (1822-2022), mengukir sejarah Allah dalam manusia. Spiritualitas dan kharisma dari Ibu rohani, St. Julie Billiart dan pendiri, Pater Mathias Wollf, SJ terus mengalir dari zaman ke zaman dan dari generasi ke generasi. Apa yang menjadi alasan Kongregasi SPM tetap hidup di tengah gelombang sekularisasi, individualisme, konsumerisme, serta dampak globalisasi lain yang mengancam keutuhan pribadi manusia sebagai citra Allah?

Demikian para Suster SPM Amersfoort mengidentifikasikan diri pada Santa Perawan Maria mengimani bahwa keutuhan pribadi manusia senantiasa menjadi perhatian Allah. Sejak awal mula penciptaan, kejatuhan manusia pertama dalam dosa hingga peristiwa penebusan Yesus dari Nazaret putra tunggal-Nya menunjukkan bahwa harga manusia sangat mahal.

Allah dengan berbagai cara berinisiatif untuk mengembalikan hakikat manusia yang Dia ciptakan seperti gambaran-Nya. Ketika manusia jatuh dalam dosa, Allah tidak berlama lama tinggal dalam diam. Dengan berbagai cara Dia senantiasa berinisiatif untuk membebaskan manusia dari penderitaan akibat dosa. Gerak hati Allah yang berbelas kasih terhadap penderitaan manusia dan alam ciptaan menggerakkan-Nya pula untuk memanggil para pilihan-Nya. Hati yang berbelas kasih dan kolegialitas Allah untuk melibatkan manusia dalam karya keselamatan menjadi alasan dasar Kongregasi SPM ada hingga saat ini.

Napas Hidup Kongregasi SPM

Kepenuhan martabat manusia sebagai citra Allah bagaikan napas yang terus memompa darah dari jantung hingga ke seluruh tubuh Kongregasi. Napas yang para Suster SPM terima secara cuma cuma dari Allah itu adalah iman.

Santa Perawan Maria menjadi model sikap iman para Suster SPM dimana Allah menjadi kekuatan dalam manusia. Ia mempercayakan diri kepada-Nya, tanpa menduga ke mana ia akan dibawa oleh fiatnya (bdk Konst. SPM bagian Spiritualitas).

Seperti Santa Perawan Maria, para suster  SPM  dari Amersfoort mengimani  panggilan Allah untuk hidup menurut warta gembira-Nya. Yesuslah warta gembira itu. Seluruh hidup, sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya hanya diperuntukkan untuk memperjuangkan arti manusia di mata Tuhan: setiap orang ada artinya, tidak seorangpun hina (bdk Konst. SPM bagian Spiritualitas).

Sebagai jawaban atas panggilan Tuhan, para suster SPM dari Amersfoort yang hidup seutuhnya bagi Kristus seperti Maria, TOTA CHRISTI PER MARIAM. Totalitas hidup bagi Kristus seperti Maria menjadi daya penggerak untuk mengenal, mengakui dan mempertaruhkan diri demi martabat manusia yang diciptakan menurut citra Allah.  Dalam kemurnian, kemiskinan, serta ketaatan, doa dan karya hidup para suster SPM diarahkan kepada persekutuan hidup baru yang pusatnya kepenuhan kesamaan martabat manusia citra Allah.

Medan Persemaian Spiritualitas

Manusia adalah makhluk sosial. Hanya dalam relasinya dengan sesama manusia mampu mengenali hakikatnya sebagai pribadi citra Allah. Hidup persekutuan bagi  Suster SPM menjadi medan persemaian spiritualitas. Mengapa? Sebab persekutuan religius Kongregasi berakar dalam sejarah Allah dan manusia, di mana Allah membangun relasi dengan para pilihan-Nya untuk  maksud pembebasan dari cara hidup perbudakan akibat dosa, menjadi bebas seperti Yesus, berlaku adil dan berbelas kasih (bdk Konstitusi SPM bagian Persekutuan). Hidup persekutuan ini dibangun dengan menjadi saudari satu dengan yang lain; memperkembangkan kepribadian dengan saling membangun, membela, dan tidak membiarkan seorang pun; berbagi semangat dan saling menciptakan suasana krasan, setiap kali berdamai satu dengan yang lain dan tidak menghambat karya Allah (bdk Konstitusi SPM bagian Persekutuan).

Setiap dari kita manusia akan menemukan hidup yang sesungguhnya dan menemukan pengungkapan diri yang sesungguhnya hanya dalam relasi dengan Tuhan dan sesama. Oleh karena itu, hidup persekutuan menjadi sentral untuk perkembangan setiap pribadi menuju keutuhan diri sebagai citra Allah dan tempat mengolah, menguji, menggodok spiritualitas pengakuan kesamaan martabat manusia citra Allah menjadi nyata.

Di tengah kemajuan dunia yang semakin mengagungkan individualisme, masihkan tujuan Kongregasi SPM untuk membangun hidup persekutuan menjadi relevan? Dalam kesendirian manusia tidak akan bisa bertahan dan hidup. Dalam kebersamaan manusia menemukan gambaran dirinya yang utuh dan integral, unik, dan menarik, berharga serta mulia saat setiap pribadi saling mengakui dirinya sebagai gambar Allah. Tujuan hidup manusia pada akhirnya kembali kepada Allah, ketika hidup persekutuan menjadi tempat persemaian kepenuhan martabat manusia, niscaya langit dan bumi baru terwujud.

Pembinaan SPM

“Dalam Yesus dari Nazareth, kita mengenal Putra Allah yang hidup. Dia berhasil secara manusiawi memberi wujud kepada gambar Allah yang tidak kelihatan” (Konstitusi SPM bagian Pembinaan). Manusia tidak dapat melihat dirinya tanpa cermin. Manusia tidak dapat mengakui dirinya sebagai citra Allah tanpa mengalami keutuhan pembentukan diri seperti Yesus, kepenuhan gambar Allah.

Para Suster SPM.

Model pembinaan para Suster SPM bermodel pada pembentukan Yesus yang dimulai pada Yosef dan Maria. Melalui keluarga Yesus sebagai manusia mengenal dasar hidup-Nya yakni menempatkan perkara-perkara Bapa sebagai pusat perhatian-Nya siang dan malam. Sama seperti Yesus mengembangkan pribadi-Nya dengan bersikap terbuka terhadap Roh dan mencari kehendak Bapa-Nya, demikian pula suster SPM berusaha membentuk diri dan membiarkan diri dibentuk menjadi manusia gambar Allah.

Pembentukan itu berarti belajar bahwa hidup adalah mengamalkan kebenaran dengan melimpah, tidak mengadili saudari dan saudara, berdoa dan berpuasa tanpa menonjolkan diri, dan tidak mengkawatirkan hari esok.

Sebagaimana Santa Perawan Maria dan Yesus, pembentukan dalam pembinaan para Suster SPM tertuju pada terpenuhinya kehendak Bapa dalam seluruh napas hidup. Hubungan manusia sebagai citra Allah dan kehendak Bapa terletak pada terwujudnya gambaran Kerajaan Allah, suasana penuh keharmonian dan kedamaian; kebenaran dan keadilan.

Mungkinkah pembinaan model ini di tengah bisingnya hiruk pikuk dunia? Tantangan sekaligus peluang para Suster SPM diundang untuk menjadi pribadi pribadi yang kontemplatif sekaligus aktif untuk terus mengutamakan kehendak Bapa di tengah jeritan ciptaan yang mengeluh dan merintih bagaikan wanita bersalin.

Menjadi Saksi Semangat Yesus

Digerakkan oleh Roh yang sama dengan Roh Yesus yang menyerukan, “Roh Tuhan ada pada-Ku, Ia telah mengurapi Aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang orang miskin”, demikian pula Suster SPM diutus untuk terlibat dalam misi Yesus.

Keterlibatan dalam misi berlandaskan pada relasi dan pengalaman personal dengan Yesus, seperti dikatakan Yesus kepada murid Yohanes yang menanyakan kepastian datangnya Mesias. “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan dengar.” Kualitas relasi personal dengan Allah menentukan kualitas Kabar Gembira yang diwartakan.

Pengakuan dan pertaruhan diri untuk kebahagiaan hidup manusia, dibaktikan melalui “karya belas kasih rohani dan jasmani” sesuai tradisi dibaktikan melalui karya bidang pendidikan dan pembinaan.  Diilhami oleh belas kasih dan keadilan Allah, para suster SPM  bergaul dengan setiap  orang yang dijumpai diamana pun berada dan diutus mengakui dengan hormat serta memulihkan  martabat manusia yang dicipta seturut gambar Allah. Pengakuan akan kesamaan martabat manusia citra Allah menentukan hidup matinya inti spiritualitas SPM.

Nada Dasar Kepemimpinan SPM

Melayani menjadi nada dasar kepemimpinan Kongregasi SPM. Sebagaimana Yesus mengabdi Bapa dan bangsa-Nya demikian juga mereka yang memimpin mengabdi saudara-saudarinya dengan siapa mereka mencari Allah dan kerajaan-Nya.

Sebagai suster SPM dengan kesungguhan hati saling menerima dalam mencari yang azasi dan tidak pernah merasa puas sebelum mencapai kebenaran. Siapa dan apa pun kita, diuji dan dinilai oleh Kabar Gembira, tidak mengutamakan hukum dari pada manusia, sebab barang siapa tidak melayani manusia tidak membawa kepada Allah.

Pada jalan menuju perikemanusiaan yang berkenan kepada Allah, lenyaplah perbudakan dan berubah menjadi kesamaan martabat: tidak seorang pun lebih tinggi atau lebih rendah, dan semua  saling tergantung satu sama lain[1].

Berdasarkan spiritualitas  Kongregasi SPM, setiap orang yang memegang pimpinan diharapkan mengusahakan secara khusus kepenuhan kesamaan martabat manusia. Artinya, seorang pemimpin mengundang setiap anggota untuk ikut bertanggung jawab secara keseluruhan, sehingga tujuan pokok Kongregasi menjadi nyata. Itu berarti dalam semangat kolegial saling menyapa  tanggungjawab  masing-masing.

Bersama menghayati  spiritualitas  kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah berarti hidup dalam nama Allah yakni Bapa, Putera dan Roh Kudus.

Sr. Theresien, SPM

HIDUP, Edisi No. 33, Tahun ke-76, Minggu, 14 Agustus 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here