SPM Bertumbuh Subur, Rahmat dari Amersfoort

46
Para Suster SPM.
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – MENAPAKI peziarahan panjang SPM (Kongregasi Suster-Suster Santa Perawan Maria dari Amersfoort), selanjutnya disebut SPM Amersfoort, telah memberikan sebuah kesaksian tentang hebatnya penyelenggaraan ilahi. Selama dua abad perjalanan itu diwarnai suka dan duka. Maka patutlah kutipan dari surat Santo Paulus yang pertama kepada jemaat di Tesalonika menjadi acuan dalam refleksi Kongregasi SPM Amersfoort.

Tujuh suster misionaris awal karya SPM di Indonesia.

Pelacakan peziarahan panjang ini membutuhkan narasumber yang berperan besar dalam kepemimpinan umum yang cukup panjang, yakni Suster M. Felisita Budiarti, SPM. Suster Felisita, akrab disapa, berperan di Dewan Pimpinan Umum (DPU) di Belanda selama 16 tahun. Sejak tahun 2000 hingga 2006 menjadi anggota DPU, kemudian tahun selama dua periode terhitung tahun 2006-2016 menjadi Pimpinan umum, dan di tahun 2016 hingga 2022 menjadi Wakil Provinsial Provindo Probolinggo.

Awal Mula

SPM tidak dapat dipisahkan dari Kongregasi Soeurs de Notre Dame (SND) dari Namur, Belgia. Kongregasi SND pertama-tama didirikan di Amiens, Prancis Utara pada tanggal 2 Februari 1804 oleh Santa Julie Billiart dengan bantuan Pater Varin, SJ. Kongregasi ini didirikan untuk melayani kebutuhan masyarakat terutama dalam bidang pendidikan dan pengajaran. Pelayanan dari Kongregasi SND bagi anak-anak miskin, terlantar dan cacat akibat terjadinya revolusi. Mereka sangat membutuhkan perhatian dan bimbingan dalam bidang keagamaan. Regula Kongregasi SND bernafaskan semangat Santo Ignatius.

Letak wilayah Namur, Belgia jauh dengan Belanda bagian utara. Pada waktu itu, Belanda Utara khususnya di Paroki Culemburg dikepalai oleh seorang pastor yang bernama Pater Mathias Wolff, SJ. Ia mempunyai perhatian besar terhadap pendidikan bagi anak-anak dan remaja putri dalam parokinya.

Pater Mathias ingin membantu mereka dengan mendatangkan suster SND tetapi karena situasi politik tidak bisa. Dengan halangan itu, ia berusaha mencari jalan lain dengan mengirimkan pemudi dari Belanda yang ingin menjadi suster.

Kesepakatan antara Mere Joseph (pemimpin umum kongregasi Suster SND setelah Santa Julie Billiart) dengan Pater Mathias Wolff, SJ yang tertuang dalam surat Mere Joseph Steenhout – no.72 pada tanggal 17 November 1819 menuliskan, ketika tiga orang calon pertama dari Amersfoort tiba di Gent – Belgia, apabila masa pendidikan sebagai religius dinyatakan sudah selesai, Pater Mathias Wolff, SJ akan memanggil kembali mereka ke Belanda untuk memulai kongregasi di Amersfoort. Ini sebagai landasan untuk mendirikan lembaga baru di Amersfoort. Pater Mathias pun meminta kepada Mere Yoseph agar para calon dibina sesuai model pembinaan dan tata aturan lembaga religious suster SND de Namur.

Namun, ketika para calon masih mengikuti pendidikan kebiaraan di Kongregasi suster SND Namur, pada tanggal 29 Juli 1822, bertepatan dengan pesta Santa Martha, di Amersfoort didirikan lembaga yang disebut “Pedagogie Chretienne”. Yang anggotanya secara diam-diam hidup sebagai seorang suster dengan peraturan yang masih sangat sederhana. Karena pada saat itu, Raja Wilem I melarang lembaga kebiaraan di Wilayah Belanda Utara.

Rumah Induk SPM di Ameersfoort, Belanda

Kelompok awal ini hidup di tengah masyarakat sebagai guru. Maka Pater Mathias menulis peraturan hidup dan sebagian besar berdasarkan peraturan hidup suster SND de Namur. Pada tanggal10 Juni 1823, Nuntius dengan perantaraan Vikep Utrecht, Van Nooy dan oleh Vikep Belanda, Gramer Banning menyetujuinya.

Beberapa bulan sesudahnya, didirikanlah “Asosiasi Firma van Werkhoven & Compagnie” di Amersfoort, dengan tujuan agar mendapat status yang sah dari pemerintah untuk mendirikan sekolah dan asrama. Betul sekali harapannya terpenuhi. Pada tanggal 6 Desember 1824, Yayasan pendidikan Katolik untuk anak-anak putri di Belanda Utara terwujud.

Wariskan Tiga Obor

Setelah beberapa calon yang dipersiapkan di Gent dan Namur kembali ke Amersfoort. Kongregasi membuka beberapa rumah cabang baru. Keadaan kongregasi dan lembaga “Pedagogie Chretienne” dalam tahap rintisan.

Situasi awal yang belum mantap ini membawa dampak beberapa postulan dipulangkan dan beberapa suster (Sr. Joseph Kisters, Sr. Agnes Kisters, dan Sr. Brigitte Hans) tidak membaharui kaulnya. Situasi ini juga dipengaruhi oleh situasi di Belanda yang sejak tahun 1830-1839, mengalami ketidaktenangan karena pemberontakan Belgia.

Syukurlah dalam terang Roh Kudus mereka berubah pikiran. Pada 14 April 1840, mereka menulis surat kepada Nuntius, “Kami bertiga mengikatkan diri kembali, kami membeli rumah, sambil menyatukan kepercayaan dan berkat dari Bapa di surga. Kami ingin membaktikan diri selama-lamanya kepada pendikan kaum muda, dan anak-anak miskin.” Pernyatataan tersebut disetujui oleh paduka yang mulia sebagai wakil Allah (Sejarah Kongregasi, 30).

Santa Julie Billiart

Namun tantangan dan kesulitan tidak beranjak dari peziarahan kongregasi ini. Meski demikian, SPM Amersfoort tetap dimampukan bersyukur sebagaimana St. Julie Billiart selaku ibu rohani telah memberi teladan berkomitmen kepada-Nya dengan senantiasa memuji dan meluhurkan Dia, “Alangkah baiknya Tuhan yang Mahabaik.”

Ungkapan ini menjadi doa yang mantap sepanjang hidupnya. Selebihnya ibu rohani juga mewariskan tiga obor, yaitu (1) Percaya pada penyelenggaraan illahi, (2) Peka akan tanda tanda zaman, (3) berpihak pada yang miskin dan terlantar. Ketiga obor ini menjadi pegangan dan tetap menjadi pagangan di mana pun dan kapan pun. Warisan tersebut beserta penyelenggaraan illahi-Nya menopang SPM Amersfoort menuju masa depan yang penuh harapan.

Menuju Masa Depan

14 April 1844, ketiganya telah menjadikan Allah kekuatan dalam hidupnya. Selanjutnya dalam semangat iman Maria seperti yang telah diteladankan oleh St. Julie Billiart, mereka pergi ke SND de Namur, Belgia untuk mencocokkan peraturan hidup mereka dan sekaligus membaharui semangatnya.

Pada tahun 1850, SPM Amersfoort mengalami kejayaannya di Belanda. Hal tersebut nampak dari banyaknya anggota komunitas biara dan karya pelayanannya. Dari Belanda berkembang ke Norwegia, namun setelah diadakan evaluasi dari berbagai aspek, banyak kesulitan yang dialami khususnya dalam mengelola sekolah. Maka misi di Norwegia tidak dilanjutkan.

Penyelenggaraan Ilahi

Bertepatan dengan Pesta Maria Menerima Kabar Gembira tanggal 25 Maret 1926, Moeder Philomina, pemimpin umum kongregasi menerima permohonan dari Pater JM. Cyprianus Verbeek, O.Carm untuk membuka misi di Probolinggo, Jawa Timur.

Permohonan ini ditertima dan mengutus tujuh orang suster, yaitu: Moeder M.Oda (Pimpinan pertama), Sr. M. Arnolda, Sr.M. Rosario, Sr.M. Bernardetta, Sr. M. Agnesia, Sr.M. Emiliana, dan Sr.M. Vincenta. Kedatangan misionaris yang pertama ini disambut meriah oleh umat Probolinggo dan sampai mencapai depan pintu gereja diperciki air suci. Di saat memasuki gerea menggema lagu “Te Deum”. Selanjutnya Pater Clemen Van der Pas menyambut serta mengungkapkan kegembiraannya atas kedatangan tujuh misionaris dari Belanda.

SPM Amersfoort mencapai peziarahan 200 tahun, semata-mata karena penyelenggaraan illahi-Nya bersama warisan tiga obor, dan spritualitas yang diwariskan oleh St. Julie Billiart bersama dengan bimbingan Pater Mathias Wolff, SJ untuk mengawalinya. Kini SPM Amersfoort berkembang di delapan keuskupan di Indonesia (Keuskupan  Malang, Surabaya, KA Semarang, KA Jakarta, Banjarmasin, KA Samarinda, Denpasar-Bali, Manokwari-Sorong), Malawi Afrika, dan Filipina.

Kongregasi SPM membaktikan diri kepada kebahagiaan manusia dengan berusaha melaksanakan karya belas kasih rohani dan jasmani, tetap memperjuangkan kesamaan martabat pribadi manusia sebagai citra Allah. Karya perutusan yang ditangani oleh Kongregasi SPM di Indonesia antara lain bidang pembinaan dan pendidikan, layanan kesehatan, sosial kemasyarakatan, pastoral dan berbagai bentuk layanan dalam kerjasama dengan lembaga lain.

Sr. M.Lina, SPM

HIDUP, Edisi No. 33, Tahun ke-76, Minggu, 14 Agustus 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here