Keuskupan Labuan Bajo Bermula dari Lima Awam Ruteng

431
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Terbentuknya Keuskupan Labuan Bajo tidak lepas dari keuskupan induknya, Keuskupan Ruteng yang kini digembalakan oleh Mgr. Siprianus Hormat.

Keuskupan ini bermula dari kedatangan para imam Serikat Jesus (SJ) tahun 1910-1911, yaitu Pastor Hendrikus Looijmans, SJ. Ia membaptis pertama kali di Tanah Manggarai, tepatnya umat Allah di Reo tanggal 17 Mei 1912.

Lima orang yang terpanggil mengikuti kehendak Tuhan memberi diri dibaptis. Mereka adalah Katarina Arbero, Henricus, Agnes Mina, Caecilia Weloe, dan Helena Loeoe. Dengan pembaptisan kelima orang tersebut menjadi peletak dasar berdirinya Gereja Katolik di wilayah Manggarai.

Dari Jesuit, pelayanan pastoral diserahkan kepada Misionaris Serikat Sabda Allah (SVD). Hal ini diwujudkan dengan kedatangan Pastor Piet Noyen, SVD dan Pastor Wilem Baack, SVD. Secara resmi SVD masuk di Tanah Manggarai pada 23 September 1920.

Metode misi SVD hampir sama dengan misi misionaris Eropa lain di Nusantara, yaitu mendirikan Sekolah Raykat Rekas yang kemudian wilayah Rekas menjadi pusat Misi di Manggarai Barat. Sekolah ini didirikan tahun 1921 dan selain menjadi tempat pendidikan juga menjadi tempat ibadah. Dengan sekolah tersebut, misionaris SVD silih berganti melayani di Rekas. Dirasa perlu adanya sebuah gedung gereja permanen maka tahun 1922, berdirilah sebuah gedung gereja.

Dalam buku Indonesianisasi, Pastor Hubb Boolers, OFM Cap menulis bahwa di tahun 1925, jumlah umat Katolik di wilayah itu menjadi meningkat dari lima bibit panggilan menjadi 7.036 umat dan tidak lagi satu paroki tetapi menjadi dua paroki, yaitu Paroki Rekas dan pemekaran paroki baru yaitu Paroki Lengko Ajang. Di Tahun 1929-1931, Gereja Katedral Ruteng dibangun.

Melihat perkembangan umat yang begitu signifikan, Takhta Suci menaikan status Gereja Dekanat Manggarai di Ruteng dari Prefektur Apostolik menjadi Vikariat Apostolik Ruteng tanggal 8 Maret 1951. Mgr. Wilhelmus Van Bekkum, SVD ditunjuk sebagai Vikariat Apostolik pertama Gereja Manggarai. Gereja Paroki Ruteng yang terbesar di Manggarai itu menjadi Gereja Paroki Katedral Ruteng. Dalam rentang waktu 1951-1961, Paroki ini digembalakan oleh Pater Markus Malar, SVD, lalu Pater Karel Bale, SVD dari tahun 1957 sampai dengan 1967.

Tanggal 3 Januari 1961, Paus Yohanes XXIII mendirikan hierarki  (hieros Arke; pemerintahan kudus) Gereja Katolik Nusantara. Rahmat ini diikuti dengan hadiah istimewa yaitu kenaikan status beberapa vikariat menjadi keuskupan dengan harapan terjadi kemandirian dalam hal tenaga pastoral, finansial, dan reksa pastoral di beberapa keuskupan, termasuk Vikariat Apostolik Ruteng menjadi keuskupan.

Dalam perjalanan, Mgr. Wilhelmus mengundurkan diri sebagai Uskup Ruteng tanggal 31 Januari 1972. Takhta Suci kemudian mengangat Pastor Vitalis Djebarus, SVD menjadi Administrator Apostolik Keuskupan Ruteng dan ditahbiskan menjadi Uskup Ruteng yang kedua pada tanggal 5 Mei 1973.

Setelah Mgr. Vitalis, Takhta Suci Vatikan mempercayakan tongkat penggembalaan kepada Pastor Eduardus Sangsun, SVD sebagai Uskup Ruteng pada tanggal 3 Desember 1984. Perencanaan pembangunan Katedral baru dimulai pada tahun 1985 dan ditahbiskan tanggal 15 Agustus 2002. Mgr. Eduardus Sangsun, SVD meninggal dunia pada tanggal 13 Oktober 2008. Rm. Laurens Sopang, Pr. diangkat menjadi Administrator Keuskupan Ruteng pada tanggal 16 Oktober 2008. Uskup Hubertus Leteng diangkat menjadi Uskup Ruteng pada tanggal 14 April 2010.

Dalam pertumbuhan iman umat, Gereja Ruteng menjadi gereja yang khas dengan denyut nadi Gereja bertumpuh pada para petani, nelayan, dan orang kecil di desa-desa terkecil. Berbeda dengan Jesuit yang corak pastoralnya sporadis, SVD mengawali misi penggembalannya dengan membuka sekolah misi yang awalnya bermula dari Manggarai Barat hingga ke Timur. Tana pede dise ende agu tana redong dise empo (tanah Manggarai warisan leluhur) menjadi penguat kebersamaan umat dalam menguatkan keuskupan baru ini. SVD langsung terlibat dalam pelayanan konkret kepada orang-orang kecil. Perkembangan Gereja ini kemudian hari berkembang pesat di salah satu wilayah Manggarai Barat yaitu Labuan Bajo.

Labuan Bajo

Labuan Bajo, dalam pertumbuhan dan perkembangan gereja Katolik sungguh sangat pesat. Hal ini berangkat dari sebuah refleksi spiritual seorang misionaris, Pastor Eichman (1930-1936) di Rekas.

Pater Eichman adalah sosok gembala yang memiliki bakat, talenta, serta berwibawa. Pastor ini mewartakan Terang Kristus kepada para murid Sekolah Rakyat Rekas waktu itu, termasuk Bapak Dula dari Rambang (orang tua kandung dari bapak Frans Dula Burhan, mantan Bupati Manggarai dan bapak Agustinus Ch. Dula, mantan Bupati Manggarai Barat).

Kini, Labuan Bajo, dengan pertumbuhan pariwisata holistik dan ekonomi dan ekologis yang berkelanjutan, wajar dan sudah tiba saatnya didorong untuk dijadikan sebagai Keuskupan di masa depan.

Geliat perkembangan suku bangsa dan interaksi sosial yang datang dan berdomisili di kota ini, semakin hari semakin tambah tumbuh, dan berkembang, beradaptasi dalam kebhinnekaan Tunggal Ika, multikural, indah, permai tanpa konflik sosial, kini dan yang akan datang.

Yusti H. Wuarmanuk (Dari berbagai sumber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here