HIDUPKATOLIK.COM – BERADA menuju cinta (b eing toward love), sebuah frasa yang diciptakan tidak oleh filsuf sekelas Martin Heidegger dengan frasa being unto death. Frasa ini adalah prinsip a priori yang mendasari eksistensi manusia (Dhimas Anugrah, Filosofi Cinta. Rahasia Menikmati Keindahan Hidup, Kanisius, 2025). Tanpa maksud menegasi Heidegger, Dhimas Anugrah menemukannya lewat studi, permenungan panjang dan diskusi bersama sejumlah pemikir filsafat di Indonesia.
Keberadaan manusia yang tidak pernah sendiri tetapi selalu berada bersama (koeksistensial), membuat manusia mewujudkan eksistensinya secara penuh dan otentik. Heidegger benar, bahwa kesadaran akan kefananaan membuat manusia terarah pada kematian sebagai eksitensi tertingginya (being untho/toward death). Tetapi di saat siklus biologis manusia eksistensial “berada menuju kematian”, dalam “berada menuju cinta” manusia tidak hanya menyadari dirinya tetapi juga melampaui dengan membangun keterhubungan otentik dengan yang lain. Cinta tidak hanya pengalaman emosional, tetapi juga struktur ontologis yang mendefinisikan keberadaan manusia (hlm. 42-53).
Awal tahun 2025 ini terjadi musibah banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat yang meluluh-lantakkan alam bersama isinya, termasuk ratusan jiwa manusia meninggal, terluka atau hilang. Musibah ini menjadi batu ujian pemerintahan dan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, bahkan ujian praksis bernegara kita. Mata ujiannya ialah, tidak salah tingkah dan salah ucap dalam manajemen krisis–apalagi diwarnai maksud pencitraan–tetapi pengingat perlunya mengurangi kemungkinan terjadinya kembali musibah atau bencana. Sebab berlaku pepatah, “tak ada asap tak ada api”.
Mengatasi krisis musibah merupakan ujian pertama di satu pihak, kejujuran atas faktor-faktor penyebab musibah sekaligus melakukan berbagai kebijakan merupakan ujian kedua yang lebih berdampak masa depan. Tidak saling menyalahkan, bertindak secara cerdas-tulus tanpa pamrih, menerima secara terbuka tawaran bantuan dari semua yang berkeinginan baik – termasuk dari luar—merupakan ekspresi frasa “berada menuju cinta” sebagai sesama penghuni planet bumi.
Musibah tanah longsor dan banjir bandang adalah sebab-akibat terjadinya krisis ekologi. Walaupun sebenarnya saat ini kita sedang mengalami aneka krisis (Pesan Natal Persekutuan Gereja–gereja di Indonesia dan Konferensi Waligereja Indonesia Tahun 2025). Gereja Indonesia dan umat manusia sedang mengalami krisis kebangsaan, kekerasan kemanusiaan, ekologi, pendidikan, dan budaya. Salah satu akar dari berbagai krisis tersebut adalah kecenderunga manusia yang mengikuti keinginannya sendiri.
Pesan Natal bersama 2025, mengingatkan peranan keluarga sebagai awal dan sumber mengatasi berbagai krisis. Kelahiran dan kehidupan Yesus Kristus di tengah keluarga, cara Maria dan Jusuf berkeluarga relevan untuk mengatasi berbagai krisis keluarga saat ini. Keluarga adalah tempat di mana suami dan istri mengambil peran yang setara dan siapa pun dalam keluarga.
Keluarga adalah Gereja terkecil. Dalam sosiologi pun dikenal beberapa pepatah, seperti as the family goes, so goes the nation”, “the family is the basic unit of society”, keluarga berantakan, masyarakat rusak”. Oleh karena keluarga sebagai tempat Allah hadir dan mengerjakan karya penyelamatan-Nya, semestinya keluarga-keluarga kristiani didampingi serius dan berkelanjutan sejak persiapan, saat pernikahan, dan sepanjang hidup berkeluarga.
Ketika Yesus sejak lahir dan selama hidupnya kurang lebih 30 tahun, berada di tengah dunia yang membencinya. Tetapi di tengah kehangatan hidup dalam keluarga Nasaret, lantas dalam kehidupan publik sesudahnya, Yesus memberikan diri sehabis-habisnya. Itulah being toward love, berdampingan dengan being toward death.
St. Sularto, Wartawan Senior
Sumber: Majalah HIDUP, Edisi No. 52, Tahun Ke-79, Minggu, 28 Desember 2025





