web page hit counter
Rabu, 11 Februari 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Menjadi Guru Katolik yang Bahagia dan Misioner

5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – Selama dua hari berturut-turut, sebanyak 286 orang peserta yang berasal dari 5 dekanat (Tanjung, Batulicin, Sungai Danau, Banjarbaru, dan Banjarmasin) mengikuti Temu Akbar-Hari Studi Guru Keuskupan Banjarmasin (KEBAN) dengan menghadirkan 2 orang narasumber, yaitu Pastor Antonius Vico Christiawan, SJ dan Prof. Djohan Yoga.

Tahun Misi dan Evangelisasi

Temu akbar-hari studi guru selama dua hari ini mengambil bertema “Menjadi Guru KEBAN yang Bahagia sebagai Terang dan Garam di Tengah Perubahan Zaman”. Melalui tema ini para guru di Keuskupan Banjarmasin diingatkan kembali untuk menyadari dan meneguhkan identitas mereka, pertama-tama sebagai putra dan putri Gereja yang bahagia karena sukacita Injil.

Mereka juga diajak untuk berjalan bersama dan membangun komitmen terhadap ciri khas pendidikan Katolik sebagai pewartaan Sabda, khususnya di Tahun Misi dan Evangelisasi 2026 yang dicanangkan oleh Keuskupan Banjarmasin.

Sebagian besar peserta pertemuan berasal dari Lembaga Pendidikan Katolik (LPK) yang ada di Keuskupan Banjarmasin. Selain itu, temu akbar-hari studi guru kali ini juga diikuti oleh guru-guru beragama Katolik yang mengajar di beberapa sekolah negeri dan swasta yang ada di Provinsi Kalimantan Selatan; dengan rincian peserta: 245 guru, 36 suster, 3 frater, dan 2 pastor.

Lifelong Learning

Kegiatan dibuka pada hari Kamis, 5 Februari 2026, pkl. 17.00 Wita, dengan menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” oleh semua yang hadir. Sesi pembukaan ini juga dihadiri Vikjen Keuskupan Banjarmasin Pastor Albert Jamlean MSC, Sekretaris Eksekutif Komisi Pendidikan KWI Pastor Antonius Vico Christiawan SJ, Ketua Komisi Pendidikan Keuskupan Banjarmasin Pastor Managamtua Simbolon SJ, Ketua Majelis Pendidikan Katolik Keuskupan Banjarmasin Sr. Stefani Restituta SFD, dan Pembimas Katolik Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Selatan Toniadi.

(Kiri-kanan) Pastor Managamtua Simbolon, SJ dan Pastor Antonius Vico Christiawan, SJ (Foto: HIDUP/Dionisius Agus Puguh)

Mewakili Uskup Keuskupan Banjarmasin, Vikjen Keuskupan Banjarmasin Pastor Albert Jamlean, MSC dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih kepada guru-guru dari setiap paroki yang sudah berkenan hadir dalam temu akbar kali ini.

“Terima kasih atas dedikasi Anda yang melaksanakan misi Gereja dalam dunia pendidikan sebagai terang dan garam. Tema yang diangkat dalam kesempatan ini menarik. Para guru bahagia bukan karena banyak harta, namun karena dipercaya Tuhan Yesus untuk menjadi terang dan garam di tengah dunia, di tengah perubahan zaman, di tengah-tengah situasi konkret, di mana guru-guru berada. Terima kasih juga kepada para narasumber yang datang jauh-jauh dan bersedia meninggalkan tempat tugasnya untuk menemani guru-guru di tempat ini,” ujar Pastor Albert.

Kepada semua yang hadir, Pastor Albert menekankan bahwa belajar adalah proses yang harus kita jalani sepanjang hidup (lifelong learning). “Harapannya guru-guru peserta pertemuan ini dapat saling memperkaya diri dan berbagi satu sama lain.”

Baca Juga:  Upaya Konkret Membangun Kesadaran dan Pemahaman Dasar Pesan Ensiklik Laudato Si’

Setelah Misa, dilanjutkan dengan sesi pertama yang dimulai pada pukul 17.30 Wita dengan menghadirkan Pastor Vico SJ sebagai narasumber. Tema yang diangkat adalah ,“Guru Bahagia dan Misioner”.

Di awal sesi, Pastor Vico menekankan bahwa kebahagiaan para guru adalah bisa bersyukur dalam berbagai tantangan yang dihadapi. “Sebenarnya profesi guru mengambil tugas Gereja untuk mengajar, seperti yang diteladankan oleh Kristus sendiri. Sehingga tugas sebagai guru adalah tugas yang mulia.”

Pastor Vico berpendapat, keberhasilan seorang guru tercapai ketika guru tersebut berhasil mencetak seorang guru. “Keberhasilan Yesus adalah ketika murid-murid-Nya berani menjadi seperti Dia. Yang awalnya takut mewartakan Injil, kemudian menjadi berani mewartakan sabda-Nya.”

Pastor Vico mengingatkan kepada semua yang hadir, “Bagi guru-guru yang Katolik harus setia kepada Kristus. Namun bagi guru-guru non-Katolik yang berkarya di sekolah-sekolah Katolik, harus setia pada values yang dihidupi dan diperjuangkan oleh lembaga tempatnya mengabdi.”

Bagi Pastor Vico, sangat penting bagi para guru untuk berakar dalam komunitas sekolahnya masing-masing. Semuanya itu dapat ditempuh melalui berbagai kegiatan kebersamaan, kegembiraan, dan dalam suasana kekeluargaan; di mana sikap saling menghormati dan menghargai satu sama lain menjadi kunci utamanya.

Sesi pertama berakhir sekitar pukul 18.30 Wita. Usai santap malam bersama, para peserta diajak untuk menikmati sajian “Malam Pentas Budaya” yang dimulai pukul 19.30 Wita.

(kiri-kanan) Prof. Djohan (berdiri) dan Pastor Antonius Vico Christiawan, SJ (Foto; HIDUP/Dionisius Agus Puguh)

SMA Frater Don Bosco Banjarmasin tampil pertama dengan mempersembahkan Tarian Nusantara, yang mengkombinasikan tarian dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, hingga Papua. Selanjutnya tampil secara berturut-turut perwakilan dari Yayasan Santa Maria Banjarmasin, SD-SMP Santa Angela Banjarmasin, KB-TK Miriam Banjarmasin, SD-SMP Sanjaya Banjarbaru, Yayasan Lazaris Batulicin, SMPK Santa Gemma Galgani Batulicin, guru-guru dari Warukin, dan SDK Santa Maria Kotabaru. Sebagai penutup, Don Bosco Crew dengan Tari Kreasi tampil sebagai acara pamungkas malam itu.

Salah satu peserta utusan dari Paroki Maria Bunda Karmel Sebamban Raya, Villa Nova Susanti mengaku merasa senang dan semakin terpanggil untuk menjadi guru yang bahagia seperti penjelasan Pastor Vico di sesi pertama.

“Selama mendampingi anak-anak SD belajar agama, terkadang saya mengalami rasa jenuh dan sedikit malas. Namun Pastor Vico mengingatkan bahwa menjadi seorang guru itu seperti meneladani Tuhan Yesus sendiri yang menjadi gurunya para rasul,” ujarnya berbinar.

Baca Juga:  Refleksi Teologis: Ketika Seorang Anak Kehilangan Harapan — Di Mana Gereja Berdiri

Hal senada juga diungkapkan salah satu guru perwakilan SDK Santa Maria Kotabaru, Anna Simanjutak. Menurut Anna, seorang guru harus bahagia. “Jika guru bahagia murid-murid pun bahagia dan semangat dalam proses belajar,” ujarnya. Melalui penjelasan Pastor Vico, dirinya merasa diajak untuk melihat kembali peran guru sebagai rekan dan teman bagi murid, orang tua, dan sesama rekan pendidik, karena tugas pendidik bukan hanya sekedar mengajar tetapi juga melayani setulus hati.”

Deep Learning dalam Tiga Sesi

Sesi di hari kedua, Jumat, 5 Februari 2026, disampaikan oleh Prof. Djohan Yoga yang membahas secara rinci tentang deep learning, dengan judul materi: “Strategi Implementasi Pembelajaran Mendalam.”

Salah seorang anggota Tim Ahli Deep Learning pada Kemendikdasmen RI ini mengawali penjelasannya tentang fondasi pembelajaran mendalam. “Transformasi peran guru dalam ekosistem pembelajaran mendalam, yaitu: guru sebagai aktivator, guru sebagai kolaborator, dan guru sebagai pengembang budaya belajar.”

Setelah itu para peserta hari studi guru diajak untuk membedah kerangka kerja pembelajaran mendalam, yang meliputi: praktik pedagogis, kemitraan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pemanfaatan digital.

Keseluruhan materi ditutup dengan bahasan mengenai implementasi pembelajaran mendalam, yang terbagi ke dalam tiga tahapan: perencanaan, pelaksanaan, dan asesmen. Agar wawasan para guru semakin terbuka, Prof. Djohan memberikan contoh-contoh pelaksanaan pembelajaran mendalam yang bisa diterapkan di sekolahnya masing-masing.

Menanggapi penjelasan Prof. Djohan, salah seorang guru dari SDK Santa Maria Kotabaru, Catarina Jati Andayani mengungkapkan pengalamannya di sekolah selama pembelajaran berlangsung. “Setelah anak-anak di kelas selesai belajar tentang materi uang kartal dan uang giral, anak-anak saya ajak untuk menyanyikan lagu yang berkaitan dengan tema tersebut. Saat itu saya memodifikasi lagu tertentu agar isinya dapat dipahami dan dicerna oleh anak-anak usia kelas 3 SD. Selain lagu, saya juga mengajak anak-anak bermain games yang seru. Setelah itu saya dan siswa membuat kesimpulan bersama. Tak lupa saya juga memberikan apresiasi kepada siswa yang bisa menjawab pertanyaan yang diberikan.”

Selama sekitar lima jam, Prof Djohan menyampaikan materinya secara runut dan menarik. Tak terasa tiga sesi terasa berlalu begitu saja; sejak pagi hari sesudah sarapan, hingga siang hari menjelang Misa Perutusan.

Di akhir paparannya, Prof. Djohan memberikan apresiasi kepada semua peserta atas antusiasmenya mengikuti sesi hari ini. “Saya berterima kasih banyak kepada teman-teman guru semua, luar biasa partisipasinya hari ini. Mudah-mudahan apa yang kita pelajari bersama dalam Hari Studi Guru dalam menjadi oleh-oleh di tempat tugas masing-masing.”

Baca Juga:  Upaya Konkret Membangun Kesadaran dan Pemahaman Dasar Pesan Ensiklik Laudato Si’

Bagi Villa Nova, materi deep learning yang dibagikan Prof. Djohan sangat baik untuk diterapkan, di mana guru dan murid dapat melakukan pembelajaran dari hati ke hati. “Deep learning membuka kesempatan anak untuk belajar secara mendalam.”

Villa Nova terkesan dengan anjuran Prof. Djohan yang mengajak guru-guru agak tak henti-hentinya terus memotivasi murid-murid yang diajarnya, misalnya dengan kalimat penguatan berikut: “Kamu hanya belum bisa, bukan tidak bisa. Ayo berusaha lagi!”

Sedangkan Anna merasa mendapat banyak inspirasi tentang bagaimana menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, membangun relasi yang baik dengan peserta didik, serta mengembangkan potensi mereka secara utuh; tidak hanya secara akademik, tetapi juga secara karakter dan spiritual. “Saya disadarkan betapa pentingnya pendekatan pembelajaran yang lebih manusiawi, kreatif, dan kontekstual.”

Misa Perutusan

Kegiatan selama dua hari hasil kerjasama Komisi Pendidikan KWI, Komisi Pendidikan Keuskupan Banjarmasin, dan Majelis Pendidikan Katolik Keuskupan Banjarmasin ini berlangsung dengan lancar sesuai harapan dan ditutup dengan Misa Perutusan.

Misa dipimpin oleh Vikjen Keuskupan Banjarmasin selaku konselebran utama, didampingi oleh Pastor Albert Slamet Pr, Pastor Yusuf Suhariyoso SJ, Pastor Managamtua Simbolon SJ, dan Pastor Antonius Vico Christiawan SJ.

Melalui homilinya Pastor Albert berkeyakinan bahwa semua peserta yang hadir telah mengikuti kegiatan ini dengan bahagia dan akan pulang ke tempat tugas masing-masing dengan gembira. “Semoga perjumpaan kita hari-hari ini dan disemangati oleh sabda Tuhan, dengan spirit misioner dari Santo Paulus Miki dan teman-temannya, semoga membakar semangat iman kita untuk mewartakan dan turut ambil bagian dalam misi Kristus sendiri.”

Di akhir homili, Pastor Albert berpesan agar para guru Katolik di Keuskupan Banjarmasin terus membangkitkan semangat misionernya, karena kita semua adalah Gereja. “Semoga Kabar Sukacita Injil dialami dan dirasakan oleh para peserta didik Anda!” ucapnya penuh harap.

Dalam sambutan singkatnya, Ketua Panitia Temu Akbar-Hari Studi Guru, Fr. Martinus Max Mangundap, CMM merasa bersyukur karena kegiatan selama 2 hari ini dapat terlaksana dengan baik. “Tim ahli mengingatkan kita bahwa di tengah dinamika perkembangan zaman yang terus berubah panggilan kita sebagai guru bukan hanya mengajar, tetapi juga untuk menghadirkan sukacita, keteladanan, dan nilai-nilai Kristiani dalam setiap tugas dan pelayanan kita.”

Sekitar pukul 16.00 Wita, keseluruhan acara selama 2 hari ini ditutup dengan sesi foto bersama para peserta Hari Studi Guru dengan para imam dan narasumber.

Dionisius Agus Puguh Santosa (Banjarmasin)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles