web page hit counter
Kamis, 5 Maret 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Imam Kapusin Pertama Asal Vietnam

5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – DI antara delapan diakon Kapusin (OFM Cap) yang ditahbiskan menjadi imam di Gereja Santo Fransiskus Asisi, Brastagi, Sumatera Utara, 24/1/2026, sosok pria asal Vietnam ini langsung mencuri perhatian umat. Namanya Pastor Paulus Ta Trong Tri. Nama yang tak mudah dilafalkan, bahkan sempat membuat Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung, OFM Cap, yang menahbiskan mereka, tersenyum kecil saat menyebutnya. Tujuh imam baru lainnya adalah Pastor Stefan Sianturi, Pastor Firdaus Depari, Pastor Evander Purba, Pastor Nofrendi Sihaloho, Pastor Angelo Purba, Pastor Sofyan Sinurat, dan Pastor Moel Sinaga.

Tahbisan imamat ini berlangsung meriah dalam balutan nuansa budaya Batak Karo yang kental. Menggunakan mobil terbuka, para diakon diarak dari pusat Kota Brastagi menuju Gereja Santo Fransiskus Asisi. Perarakan ini turut diikuti oleh Bupati dan Wakil Bupati Tanah Karo, menambah semarak suasana. Setibanya di pintu gerbang gereja, para pernanden—sebutan bagi ibu-ibu paroki—menyambut mereka dengan lagu dan tarian khas Karo.

Para diakon pun larut dalam suasana. Mereka ikut menari, termasuk Paulus Ta Trong Tri. Meski gerakan tangannya tampak belum seluwes rekan-rekannya, senyum yang terus mengembang di wajahnya membuat umat tak henti mengarahkan kamera ponsel. Sesekali ia menundukkan kepala sebagai tanda hormat. Seusai misa tahbisan, umat berbondong-bondong berebut berswafoto dengannya. Dalam acara ramah-tamah, para imam baru kembali “ditantang” menari. Lagi-lagi Pastor Tri tampil percaya diri. Ia dan teman-teman menyanyikan lagu-lagu daerah Batak Karo, Toba, dan Simalungun—sebuah kejutan yang disambut tepuk tangan meriah.

Baca Juga:  Yang Terbaru dari Majalah HIDUP Edisi Nomor 10
Pastor Paul Ta Trong Tri, OFM Cap diapit oleh anggota keluarganya saat perarakan menjelang tahbisan di Brastagi pada Sabtu, 24 Januari 2026/ (HIDUP/Hasiholan Siagian)

Perjalanan Pastor Tri hingga ditahbiskan sebagai imam Kapusin bukanlah jalan yang singkat. Ia mengikuti pendidikan sejak novisiat hingga mengikrarkan kaul sementara/kekal di berbagai biara Kapusin di Pematang Siantar, termasuk menjalani masa novisiat di Parapat. Ia mengakui, tantangan terbesarnya selama menjalani formasi di Indonesia adalah soal bahasa.

“Tantangan terbesar yang saya alami adalah bahasa. Di Indonesia, khususnya di Sumatera Utara, bahasa Indonesia sering bercampur dengan berbagai bahasa daerah seperti Batak Toba, Simalungun, Karo, dan lainnya. Hal ini tidak mudah bagi saya yang berasal dari Vietnam. Namun perlahan-lahan, dengan bantuan para saudara dan umat, saya belajar dan menyesuaikan diri,” ujarnya kepada HIDUP.

Baca Juga:  Perempuan Pemimpin: Cahaya Perubahan bagi Indonesia Timur

Pastor Paulus Ta Trong Tri adalah “bulir” pertama dari misi Kapusin di Negeri “Naga Biru”, Vietnam. Ia lahir di Ba Ria–Vung Tau, Vietnam, pada 2 Maret 1980, dari keluarga sederhana. Ia merupakan anak keempat dari lima bersaudara—tiga laki-laki dan dua perempuan—pasangan Ta Trong Trung dan Nguyen Thi Suu. Panggilan imamatnya tergolong panggilan terlambat. Setelah lulus dari universitas dan menjalani kehidupan awam selama hampir dua puluh tahun, barulah ia memutuskan menjadi religius.

Pilihannya jatuh pada Ordo Kapusin. “Saya tertarik pada Kapusin karena kesederhanaannya. Para Kapusin hidup dekat dengan umat, apa adanya, dan menjunjung tinggi semangat persaudaraan. Cara hidup yang sederhana namun penuh sukacita Injili itu sangat menyentuh hati saya. Saya merasa di dalam spiritualitas Kapusin, saya dapat bertumbuh sebagai pribadi dan pelayan Tuhan yang dekat dengan semua orang, tanpa membeda-bedakan,” tuturnya.

Para Ibu Pernanden bersiap menyambut para diakon di depan gerbang Gereja St. Fransiskus, Brastagi (24/1/2026)

Menariknya, panggilan hidup religius di kalangan muda Vietnam cukup menggembirakan. Tahun ini tercatat 22 orang muda mengikuti formasi Kapusin: satu novis, satu frater tingkat IV, empat frater TOPP (Tahun Orientasi Pastoral dan Panggilan), lima fraterf TPKK (Tahun Persiapan Kaul Kekal), satu frater pra-tingkat V, empat frater tingkat V, satu frater tingkat VI, dan dua frater pra-diakon. Setelah masa novisiat, para frater melanjutkan studi filsafat dan teologi di STFT St. Yohanes Sinaksak, Pematang Siantar.

Baca Juga:  Umat Kristen dan Muslim Bersatu di Pakistan untuk Berdoa Demi Perdamaian

Selain Ordo Kapusin, sejumlah tarekat religius dari Indonesia juga mengembangkan misi ke Vietnam serta negara-negara Asia lainnya seperti Myanmar, Kamboja, dan Thailand. Populasi umat Katolik di Vietnam mencapai lebih dari tujuh persen dari sekitar seratus juta penduduk. Sekitar tujuh juta di antaranya adalah Katolik, menjadikan Vietnam negara dengan jumlah umat Katolik terbesar ketiga di Asia Tenggara setelah Filipina dan Indonesia. Meski dikenal sebagai negara komunis, benih iman Katolik telah tumbuh sejak awal abad ke-16. Hingga tahun 2026, Vietnam memiliki 27 keuskupan, 2.328 paroki, sekitar 6.000 imam, serta 31.000 biarawan dan biarawati.

F. Hasiholan Siagian dari Brastagi, Tanah Karo, Sumatera Utara

Sumber: Majalah HIDUP, Edisi No.8, Minggu, 22 Februari 2026

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles