spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Merayakan Biofilia di Pekan Suci

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Umat Katolik seluruh dunia memasuki Pekan Suci mulai dari hari Minggu 29 Maret 2026 hingga 5 April 2026. Pekan Suci merupakan momen refleksi iman yang penuh makna humanis sekaligus transendental. Momen ini humanis, karena Tuhan hadir mengalami penderitaan manusia, namun sekaligus transendental karena mengangkat manusia dari penderitaan itu, serta meletakkan dasar iman bahwa penderitaan dan kematian bukan akhir dari segalanya, melainkan jalan bagi kehidupan melalui kebangkitan Yesus Kristus.

Menarik bahwa  bagi umat Keuskupan Agung Jakarta (KAJ),  refleksi iman itu berfokus pada kerusakan lingkungan dengan tema “Keutuhan Alam Ciptaan” pada Aksi Puasa Pembangunan (APP) KAJ 2026. Tema ini merupakan wujud kepedulian nyata umat beriman atas kejadian yang menimpa negeri  belakangan ini.

Gerakan 3M pada Tahun Ekologis Arah Dasar KAJ 2026. (HIDUP/Andreas Ramli)

Refleksi dimulai dengan situasi awal alam, yang menurut kisah penciptaan pada mulanya  “Segala sesuatu diciptakan baik adanya” (Kejadian 1). Di sana, awalnya terjadi harmoni dan Tuhan menganugerahkan harmoni itu secara cuma-cuma bagi manusia di Taman Eden. Sayangnya, karena keserakahan (dosa asal) manusia (baca: Adam), keharmonisan dengan alam itu rusak, dan di kemudian hari hancur karena  naluri tamak dan rakus segelintir manusia.

Momen Refleksi

Masa Prapaskah merupakan kesempatan bagi umat untuk menyadari dan mawas diri atas dosa-dosa ekologis seperti sikap dan tindakan eksploitatif terhadap alam tanpa henti, yang menyebabkan banjir bandang dan tanah longsor, yang menenggelamkan tempat berteduh dan berlindung manusia seperti terjadi di Pulau Sumatera di akhir tahun 2025.

Masa Prapaskah adalah momen bagi umat beriman untuk melakukan pembaharuan diri.  Bersama manusia yang lain ia dipanggil untuk memiliki keprihatinan yang sama sebagai persekutuan umat dan diajak untuk melakukan gerak bersama menjaga keutuhan alam, tanpa mengabaikan keberlanjutan kehidupan ekonomis manusia. Dalam tujuan ini penciptaan ekonomi kreatif baru dengan tetap menghargai  ciptaan menjadi langkah penting, sekaligus buah konkret refleksi ekologis itu. Semua ini menjadi pokok permenungan umat di Keuskupan Agung Jakarta di tahun 2026 selama Masa Prapaskah.

Baca Juga:  Dari Indonesia untuk Dunia: Bahasa Indonesia Kini Hadir di Vatican News

Dengan demikian bagi umat Katolik Masa Prapaskah tidak lepas dari tiga sasaran permenungan yang diperteguh dalam Pekan Suci, yakni momen evaluasi atas  kualitas diri, kualitas relasi sosial, dan kualitas hidup spiritualitas terhadap sesama lebih-lebih alam semesta.

Refleksi ekologis itu juga termuat pada masa Pekan Suci, ketika kita menyisir makna penggunaan sejumlah isi bumi dalam perayaan mulai di Minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung hingga Vigili Paskah/Hari Raya Paskah.

Kardinal Antonio Tagle membasuh kaki para migran pada Kamis Putih di Vatikan. (Dok. Vaticannews)

Di Minggu Palma dua elemen bumi dihadirkan, yakni daun palma dan seekor keledai. Umat menggunakan daun palma dalam menyambut Yesus, yang menunggangi seekor keledai. Menurut tafsiran bebas penulis, penggunaan daun palma mensiratkan ajakan umat menghargai bumi dan isinya, karena di situ juga Tuhan hadir dan memberikan kehidupan bagi manusia. Sedangkan tunggangan  keledai memberi makna ekologis pentingnya kedekatan manusia atas makhluk bumi sebagaimana Tuhan dekat dengan makhluk yang mengisinya dengan penuh tanggung jawab, dan menjadikannya teman perjalanan.

Makna etika ekologis juga terdapat pada penggunaan air di Kamis Putih. Ketika Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya dengan air, di sana ada juga tersirat ajakan untuk merawat bumi demi kehidupan dalam kerendahan hati. Air memiliki arti penting bagi manusia, yakni selain digunakan  membersihkan hal-hal yang kotor, juga memberi kehidupan bagi makhluk hidup di bumi.

Dengan demikian, air tidak hanya fungsional, tetapi juga esensial bagi kehidupan. Dalam bingkai berpikir demikian, filsuf klasik Yunani bernama Thales, cukup rasional untuk  menempatkan air sebagai elemen dasar atau prinsip utama (arche) dari segala sesuatu yang ada di alam semesta. Ia bahkan menempatkan air sebagai sumber awal dan titik akhir kehidupan.

Barangkali dalam makna itu pula, penginjil Johanes menuliskan kata “air” sejajar dengan kata “darah” dalam Injilnya, ketika prajurit menusuk lambung Yesus dengan tombak di kayu salib (Yohanes 19:34), yakni  memberi kehidupan yang begitu intim. Makna yang sama tentang “air” bisa dikaitkan di Vigili Paskah, ketika umat diperciki dengan air untuk membaharui janji baptisnya, yakni menjadi jalan bagi kehidupan, karena itu pula perlu keterlibatan menjaganya.

Baca Juga:  Mengendus Misi Redemptoris di Media Sosial

Jadi, pesan spiritual Minggu Palma dan Tri Hari Suci menguatkan refleksi ekologis masa prapaskah, bahwa pengikut Yesus ikut menjaga kehidupan di alam dan segala isinya.

Perayaan Biofilia

Puncak peristiwa iman Kristiani adalah Paskah, yakni kebangkitan Yesus Kristus dari alam maut. Sebagai rangkaian peristiwa iman, makna Paskah dapat menjadi puncak refleksi ekologis itu. Terkait dengan ini sangat tepat dihadirkan pesan Paskah Uskup Keuskupan Agats Asmat, Mgr. Aloysius Murwito OFM tahun 2025 lalu.

Ia menyatakan bahwa Hari Raya Paskah adalah perayaan kehidupan, dalam mana manusia ditebus, dipulihkan, dan dibarui. Namun, ia mengajak umat untuk mendengarkan jeritan dunia  ciptaan, karena luka-luka ekologis yang ditimbulkan oleh tangan manusia, dan membuat rumah bersama mengalami penderitaan yang tak bisa diabaikan, yakni perubahan iklim, pencemaran, hilangnya keanekaragaman hayati, dan eksploitasi sumber daya alam yang berkelanjutan (www.keuskupanagatasmat.co.id).

Umat Paroki Cikarang Gereja Ibu Teresa, saat prosesi upacara cahaya di Misa Malam Paskah.

Terhadap situasi demikian, ia  mengajak umat menyadari panggilannya untuk membarui hubungan dengan ciptaan, belajar dari Santo Fransiskus Asisi, yang melihat seluruh alam semesta sebagai saudara dan saudari sebagaimana terlantunkan dalam lagu “Gita Sang Surya”.

Mgr. Aloysius Murwito, OFM

Pesan Paskah Uskup Murwito di atas cukup jelas bermakna ekologis. Paskah adalah kebangkitan pribadi sekaligus kebangkitan komunitas dan seluruh ciptaan. Kristus bangkit untuk memperbarui seluruh alam semesta. Buah Paskah paling nyata adalah pertobatan ekologis, yakni titik balik dari ketidakpedulian menuju kepekaan, dari eksploitasi menuju tanggung jawab, dari sikap “tuan atas ciptaan” menuju sikap sebagai “penjaga ciptaan”.

Jadi, rangkaian perayaan iman prapaskah hingga Pekan Suci seyogianya membuahkan satu sikap hidup yang jelas, yakni biofilia. Istilah biofilia digunakan oleh Erich Fromm dalam bukunya War within Man: A Psycological Enquiry into the Roots of Destructiveness: A Study and Commentary in the Beryond Deterrence Series (1936). Kata biofilia berasal dari dua kata Yunani, yakni bio, artinya “hidup”, dan “philia”, artinya “cinta”. Jadi, biofilia makna sederhananya, cinta kepada kehidupan.

Baca Juga:  Seribu Nasi Bungkus Bukti Nyata Solidaritas dan Kasih

Sebagai makna Pekan Suci dan puncaknya Paskah, menghidupi biofilia berarti bertemperamen sangat peduli pada kehidupan. Sikap ini tercermin dalam emosi, sikap, dan dalam pikiran. Seorang biofilius melihat kecenderungan hidup dalam semua substansi di sekitarnya seperti rumput yang merengsek di sela-sela bebatuan demi memperoleh cahaya dan hidup, hewan yang berjuang mencari makan, manusia yang berjuang berkarya demi mempertahankan hidup.

Jadi, orientasi sikap biofilia mempertahankan kehidupan. Dalam benaknya  hidup berpadu dan menyatu dengan entitas-entitas yang berbeda da berlawanan, namun tumbuh saling mendukung. Penyatuan dan pertumbuhan terpadu adalah ciri segala proses hidup, termasuk rasa dan pikiran.

Paus Fransiskus saat perayaan misa Malam Paskah di Basilika Santo Petrus, Vatikan [Dok.Vatican Media]
Orang yang berkarakter biofilus memiliki orientasi produktif,  menghasilkan hal-hal yang baik, yang dapat dirasakan oleh orang lain. Dia mampu berpikir dan lebih suka mencari sesuatu yang baru daripada merasa nyaman di zonanya sendiri, dan lebih mencintai petualangan dan perjuangan bersama demi kehidupan itu. Baik baginya adalah yang membawa dan menghormati kehidupan. Nuraninya digerakkan oleh ketertarikannya pada kehidupan dan sukacita. Ia juga tidak tenggelam dalam rasa sesal dan bersalah yang hanyalah aspek benci diri dan kesedihan. Justru dengan segera dalam situasi itu ia berpaling pada kehidupan dan berupaya berbuat kebaikan.

Pesan Uskup Murwito nampaknya sejalan dengan makna biofilia itu. Sebagaimana Kristus yang bangkit memberikan kehidupan bagi manusia, demikian halnya Paskah menggerakkan umat untuk bangkit dari ketidakpedulian ke partisipasi aktif merawat kehidupan di bumi. Dan ini dihayati sebagai panggilan yang hidup dan berkelanjutan. Singkatnya, umat Kristiani bangkit dari apatisme menuju kepedulian pada nilai-nilai kehidupan alam semesta. Itulah biofilia.

Kasdin Sihotang, Dosen Filsafat Moral di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles