spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Uskup Mandagi Menyoroti Fenomena “Katolik KTP”

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Perayaan Misa Hari Raya Paskah di Gereja Katedral St. Fransiskus Xaverius, Merauke, berlangsung dengan penuh meriah. Perayaan Ekaristi ini dipimpin oleh Uskup Agung Keuskupan Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC. Ia didampingi oleh Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan sekaligus Pastor Paroki Katedral, Pastor Hengky Kariwop, serta Pastor Yohanis Elia Sugianto.

​Dalam homilinya yang menggugah, Mgr. Mandagi menyoroti esensi kebangkitan Kristus yang harus mewujud nyata dalam kesaksian hidup sehari-hari, secara khusus menekankan panggilan kekudusan bagi kaum awam.

Belajar dari Beato Peter To Rot dan Santa Maria Goretti

Mengawali refleksinya, Uskup Mandagi mengangkat sosok Beato Peter To Rot, seorang awam dan martir dari tanah Papua (Papua Nugini), sebagai teladan iman. Beliau menegaskan bahwa jalan kekudusan bukanlah eksklusif milik para rohaniwan seperti uskup, imam, atau biarawan-biarawati.

​“Hal ini harus membangkitkan semangat kepada orang Papua supaya menjadi kudus, menjadi saksi kebangkitan Yesus,” tegas Uskup Mandagi. “Dia bukan uskup, bukan imam, bukan biarawan. Dia seorang awam yang berkeluarga. Ini memberi pengharapan bagi kita, para awam yang berkeluarga, bahwa Anda mendapat kesempatan untuk menjadi kudus dengan syarat memberi kesaksian tentang Kristus yang bangkit dengan hidup benar.”

Baca Juga:  MISA KAMIS PUTIH,USKUP MANDAGI: CINTA KASIH MENEMBUS BATAS
Saat Perarakan (HIDUP/Komsos KAME)

​Selain Peter To Rot, Uskup juga mengisahkan keteladanan Santa Maria Goretti, seorang remaja martir kemurnian yang rela mengorbankan nyawanya demi mempertahankan kesucian tubuhnya dari niat jahat, dan secara luar biasa mampu mengampuni pelakunya sebelum wafat. Keberanian berkorban inilah yang diharapkan Uskup dapat dihidupi oleh umat Katolik saat ini.

Kritik Tajam terhadap “Katolik KTP” dan Praktik Sinkretisme

Lebih lanjut, Mgr. Mandagi memberikan otokritik yang tajam terhadap kualitas kehidupan beriman sebagian umat Katolik. Mengutip kisah Injil tentang Simon Petrus dan Yohanes yang berlari menuju kubur kosong, Uskup mengajak umat untuk merespons kebangkitan dengan tindakan nyata: “berlari menemui Yesus”, bukan sekadar menjadi orang Katolik yang pasif.

​Uskup menyayangkan masih adanya umat di wilayah Papua Selatan yang lebih takut dan percaya kepada roh-roh daripada kepada Yesus Kristus, bahkan hingga menolak kedatangan pelayan Gereja karena bisikan oknum tertentu.

Uskup juga menyoroti fenomena “Katolik KTP” di mana seseorang bangga dengan identitas agamanya namun absen dalam praktik doa, menghindar dari tanda salib di ranah publik, atau enggan berkorban demi imannya.

​“Kita memang tahu ajaran Katolik, tetapi tidak melaksanakan. Seperti Petrus dalam bacaan, dia cuma melihat saja. Yohanes, dia melihat dan dia percaya, yang berarti hidup Yohanes tersembunyi di dalam Kristus, hidup sesuai dengan kehendak Kristus,” jabarnya.

Baca Juga:  KALAHKAN BUDAYA DUSTA, JADILAH LILIN PASKAH DI TENGAH DUNIA MODERN

Panggilan Nyata Berdasarkan Profesi dan Status Hidup

Kebangkitan Yesus, menurut Mgr. Mandagi, memberikan garansi harapan bahwa hidup benar dan penderitaan demi Kristus di dunia tidak akan berujung sia-sia, melainkan berbuah kebangkitan dan kemuliaan. Oleh karena itu, kebangkitan menuntut transformasi dari setiap lapisan Gereja:

  • ​Bagi Klerus dan Biarawan/wati

Uskup mengajak rekan-rekan uskup, para imam, dan kaum selibat untuk memberi kesaksian hidup yang otentik dan menjadi teladan nyata, bukan hidup secara tidak bermoral atau melanggar kaul ketaatan, kemiskinan, dan kemurnian.

  • ​Bagi Perempuan

Secara khusus, Uskup mengapresiasi kaum perempuan dengan mengingatkan bahwa Kristus yang bangkit pertama kali menampakkan diri kepada Maria Magdalena dan perempuan-perempuan saleh lainnya. “Berbanggalah perempuan-perempuan, Kristus menampakkan diri (kepada kalian), dan mereka pergi bersaksi bahwa Kristus sudah bangkit,” ungkapnya.

  • ​Bagi Kaum Awam, Mahasiswa, dan Aparatur Negara

Beliau menyerukan agar umat awam menghidupi profesinya secara berintegritas. “Jadilah pegawai yang baik, bukan yang memeras dan korupsi. Jadilah pengusaha yang baik, bukan yang menipu rakyat. Jadilah militer dan polisi yang baik yang melayani masyarakat, bukan menyiksa masyarakat.”

Baca Juga:  Paus Leo XIV Akan Membawa Salib Sepanjang Via Crucis di Koloseum
Persiaan Persembahan (HIDUP/Komsos KAME)

​Uskup secara spesifik juga memberikan teguran keras kepada oknum mahasiswa atau kaum muda Katolik yang vokal bersuara mengatasnamakan umat, namun pada kenyataannya memiliki gaya hidup yang menjadi skandal bagi Gereja, seperti bermalas-malasan, tidak menghayati trihari suci, atau hidup bersama di luar ikatan pernikahan (kumpul kebo). Beliau menegaskan bahwa awam sejati adalah mereka yang mempraktikkan ajaran Katolik dalam kesederhanaan hidup sehari-hari, bukan yang sekadar mencari panggung di media massa.

Mengakhiri homilinya, Mgr. Mandagi menyampaikan bahwa 99 persen anggota Gereja adalah kaum awam, dan merekalah ujung tombak pewartaan yang sesungguhnya.

​“Jatuh bangunnya Gereja Katolik, jatuh bangunnya Keuskupan Agung Merauke, tergantung dari awam. Tapi awam Katolik yang baik bukan Cuma tahu ajaran, tetapi mempraktikkannya dalam hidup,” pesan Uskup Mandagi. Ia pun mengajak seluruh umat yang hadir di Katedral Merauke untuk terus berdoa agar mampu mengambil inspirasi dari Beato Peter To Rot dan Santa Maria Goretti dalam bersaksi dan menghidupi spirit kebangkitan Kristus.

Pastor Roy Sugianto (Merauke)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles