spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

BUKAN MANAJER, BUKAN DONATUR

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Hari-hari belakangan ini, realitas kehidupan para imam tak pelak kerap disoroti oleh umat secara langsung. Ada semacam kerinduan yang tak terucapkan, namun sering kali termanifestasi dalam bentuk kekecewaan batin tatkala umat mendapati gembalanya seolah tak lagi hidup dalam sikap wajar layaknya seorang imam. Banyak umat yang mengeluh karena figur bapa rohani yang penuh belas kasih perlahan tergantikan oleh sosok pekerja yang terlalu sibuk dengan urusan-urusan jasmaniah belaka.

Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC (pegang tongkat) bersama para imam. (HIDUP/Komsos Keuskupan Agung Merauke. Foto hanya untuk  ilustrasi tulisan.

Di satu sisi, kerja keras ini sering kali diniatkan sebagai dedikasi untuk kemajuan fisik dan struktural paroki. Namun di sisi lain, muncul ironi yang memprihatinkan manakala kesibukan itu justru merampas waktu esensial sang imam untuk merayakan Ekaristi dan mendaraskan doa pribadi secara hening. Ketika salus animarum (keselamatan jiwa-jiwa) tidak lagi terlihat sebagai tujuan utama dari pelayanan pastoral, kita patut merenungkan kembali hakikat panggilan suci ini secara kritis dan membawanya kembali ke bawah terang Sabda.

Menggugat Kuasa “Emas dan Perak”

Dalam realitas pelayanannya, para imam sangat rentan tergoda untuk bertindak bak seorang donatur demi mendulang pujian duniawi, seolah kuasa material dan kedermawanan finansial adalah penentu segalanya. Kita dapat menarik garis komparasi yang sangat tajam dengan sikap fundamental para rasul dalam kisah penyembuhan di Gerbang Indah. Ketika orang lumpuh mengharapkan sedekah materiil, Petrus dengan lugas meruntuhkan ekspektasi komersial tersebut dengan berseru: “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!” (Kis. 3:6). Menurut penafsiran biblis, teks ini menegaskan secara definitif bahwa kekuatan Gereja perdana murni bersumber pada nama Kristus dan kuasa Roh Kudus, bukan pada kapitalisme parokial atau filantropi lahiriah (Bergant & Karris, 2002).

Uskup Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko (kedua dari kanan) dan para imam. (HIDUP/Naning). Foto hanya ilustrasi tulisan.

Pesan dari perikop Perjanjian Baru ini sangat ringkas namun radikal bagi laku pelayanan hari ini. Harta terbesar dan satu-satunya yang patut dibanggakan oleh seorang imam bukanlah kemampuannya membagi-bagikan kekayaan material atau kemahirannya menyusun program yang mentereng demi tepuk tangan umat. Jika seorang imam lupa pada kewajibannya yang paling asali untuk menempatkan pujian bagi Allah di atas segalanya, niscaya pelayanannya akan terjebak pada glorifikasi diri sendiri. Imam tersebut berpotensi menjadi pelayan yang merasa dirinya bertindak sebagai “Penyelamat”, padahal ia tak lebih dari sekadar perantara dari Sang Penyelamat yang sejati.

Baca Juga:  OMK Paroki Sedayu Tampilkan Tablo “Hanya Ada Satu Cinta: Penebusan”

Sindrom Manajer Paroki dan Lelahnya Pelarian dari Yerusalem

Aktivisme pastoral yang tak terkendali perlahan dapat menjadi racun mematikan yang mengeringkan sumur spiritualitas seorang klerus. Saat seorang imam mulai menempatkan dirinya murni sebagai seorang “manajer”, segala sesuatu dalam paroki mulai diukur semata-mata menggunakan metrik keberhasilan sekuler. Perhatian manajerial tersedot pada seberapa megah gedung gereja yang sedang direnovasi, seberapa surplus neraca keuangan paroki bulan ini, atau seberapa mulus suatu acara diselenggarakan oleh kepanitiaan dewan pastoral. Dalam pusaran efisiensi kerja yang menyilaukan ini, keselamatan jiwa-jiwa—yang diamanatkan secara eksplisit oleh Kitab Hukum Kanonik sebagai suprema lex atau hukum tertinggi Gereja (KHK kan. 1752)—menjadi terabaikan. Keselamatan rohani umat dengan tragis dinomorduakan setelah ambisi “kesuksesan berjalannya program”.

Berkat para imam tanda Penerimaan dalam kolegialitas imam. Foto hanya untuk ilustrasi tulisan.

Akibat dari orientasi yang keliru ini, imam rentan kehilangan identitas ontologis imamatnya dan tereduksi menjadi sekadar fungsionaris institusi yang haus akan validasi sosiologis. Situasi krisis ini sesungguhnya bagaikan cermin dari pengalaman eksistensial dua murid yang berjalan menuju Emaus (Luk. 24:13-35). Mereka melangkah gontai menjauhi Yerusalem. Secara teologis, Yerusalem adalah lambang penderitaan, salib, dan pengorbanan, tetapi justru di sanalah letak jantung penebusan yang sejati. Murid-murid ini berjalan dengan hati yang lelah, letih, dan amat kecewa karena ekspektasi manusiawi mereka tentang kesuksesan politis Sang Mesias hancur berantakan (Brown, 2010).

Kini kita patut bertanya: berapa banyak gembala kita di era modern ini yang tanpa sadar secara perlahan sedang “berjalan menjauhi altar” karena dirundung kelelahan oleh ekspektasi umat dan himpitan birokrasi keuskupan? Saat doa ofisi (brevir) mulai dianggap sekadar beban teknis dan Ekaristi dilihat tak lebih dari rutinitas seremonial yang menyita waktu dari “pekerjaan nyata”, sang imam sesungguhnya sedang melakukan pelarian. Padahal, dokumen Konsili Vatikan II dengan sangat benderang menegaskan bahwa para imam tidak akan pernah dapat membangun sebuah komunitas kristiani jika mereka tidak meletakkan akar dan tumpuannya pada perayaan Ekaristi suci (Konsili Vatikan II, Presbyterorum Ordinis, 1965, art. 6).

Baca Juga:  Uskup Victorius: Memiliki Terang Berarti Memiliki Kehidupan, Keselamatan, dan Masa Depan

Pembenaran sepihak bahwa “bekerja keras melayani umat adalah wujud doa yang paling sejati” sering kali menjadi ilusi psikologis yang menipu batin sang pelayan. Pekerjaan apa pun, sehebat apa pun gaungnya, tanpa persatuan yang mesra dengan Allah melalui doa pribadi, hanyalah dentang gong yang bising. Tanpa persahabatan yang sunyi di hadapan pendaran lampu Tabernakel, seorang imam akan cepat kehilangan kompas teologisnya. Ia akan lupa menempatkan Allah sebagai pusat orbit pelayanannya, dan berbalik mencari kepuasan semu dari panggung puja-puji manusiawi (Yohanes Paulus II, Pastores Dabo Vobis, 1992, art. 26).

Ekaristi sebagai Sumber Daya Kekuatan Ilahi

Kelelahan batin, kejatuhan, dan kekecewaan imamat ini tidak akan pernah bisa disembuhkan melalui terapi psikologis, rekreasi pariwisata, apalagi kompensasi pekerjaan belaka. Pintu kesembuhannya hanya satu: perjumpaan radikal dengan Yang Ilahi. Bagi kedua murid di jalan Emaus, letargi rohani mereka sama sekali tidak dijawab oleh Yesus dengan memberikan strategi manajerial yang baru. Mata batin mereka terbuka secara utuh pada momen sakramental in fractione panis: Pemecahan Roti. “Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka” (Luk. 24:30).

Uskup Amboina Mgr. Ino Ngutra bersama Pastor Yakobus Zakaria Balia dan Pastor Fransiskus Panggola. Foto untuk ilustrasi.

Di meja altar pelayanannya inilah letak jantung imamat seorang tertahbis berdetak. Ekaristi adalah Sumber Daya kekuatan Ilahi yang dari padanya kekuatan sejati hidup dan karya pelayanan setiap imam memancar tiada henti. Paus Yohanes Paulus II secara puitis dan mendalam pernah menyebutkan bahwa Gereja, dan secara khusus kehidupan imamat, hidup seutuhnya dari Ekaristi; sebab Sakramen Imamat dan Sakramen Ekaristi lahir dari rahim ruang perjamuan terakhir yang sama, tak terpisahkan satu dengan yang lainnya (Yohanes Paulus II, Ecclesia de Eucharistia, 2003, art. 31). Ekaristi menarik imam keluar dari kesempitan egoismenya untuk masuk ke dalam keluasan kasih pengorbanan Kristus.

Baca Juga:  Warga Binaan Kristiani Membarui Janji Baptis Saat Misa Paskah di Rutan

Lebih jauh lagi, tindakan Yesus di Emaus sesungguhnya adalah cerminan paling utuh dari siklus teologis kehidupan seorang imam yang sejati. Imam adalah representasi roti yang “diambil” (dipilih dari tengah-tengah kelemahan kodrat manusiawinya), “diberkati” (diberi kuasa Roh Kudus melalui Sakramen Imamat), rela “dipecah-pecahkan” (berani mengorbankan ego, memangkas waktu istirahat, dan menyerahkan kenyamanan dirinya setiap waktu), untuk kemudian “diberikan” (demi keselamatan umat yang ia gembalakan). Jika seorang imam menolak untuk “dipecah-pecahkan” di atas kerasnya altar pengorbanan pastoral dan kenyamanan egonya tidak mau diusik sedikit pun oleh penderitaan umat, ia tak akan pernah bisa membagikan kehidupan yang sungguh-sungguh menghidupkan bagi domba-dombanya.

Akhirnya haruslah diingat Kembali bahwa imamat pada hakikatnya adalah sebuah misteri rahmat yang harus terus-menerus dikalibrasi, dipertanyakan, dan dimurnikan di bawah terang Sakramen Mahakudus. Tanpa kedalaman kontemplatif dan persatuan dengan Roti Kehidupan ini, umat beriman akan terus dibayangi oleh kekecewaan karena di paroki mereka hanya mendapati seorang administrator birokrasi berbalut jubah suci, alih-alih menemukan seorang bapa rohani yang menghadirkan wajah belas kasih Allah. Kesibukan duniawi tidak boleh menyingkirkan kemutlakan akan kehadiran Kristus.

Para imam hendaknya menyadari dengan sungguh-sungguh bahwa sebagaimana kehadiran Yesus nampak nyata bagi para murid di Emaus lewat tindakannya yang mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkan dan memberikannya kepada mereka, demikian pula hendaknya para imam: Karya Perutusan akan menjadi hal yang membahagiakan, apapun tantangannya bila Kristus yang diwartakan bukan hal lain.

Pastor Yohanis Elia Sugianto, alumnus Pascasarjana STF Driyarkara/Imam Diosesan Keuskupan Amboina, berkarya di Keuskupan Agung Merauke

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles