spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Jejak Cinta Seorang Misionaris: Pastor Wan Ibung Natale Belingheri, OMI

5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – Seorang misionaris sederhana penuh dedikasi telah menutup perjalanan hidupnya. Pastor Wan Ibung Natale Belingheri, OMI – yang akrab disapa Pastor Natalino – menghembuskan napas terakhir pada 10 April 2026. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam sekaligus warisan iman yang kuat bagi umat di Kalimantan Utara.

Pastor Natalino lahir di Colore, Italia, pada 5 Agustus 1943. Ia ditahbiskan sebagai imam pada 29 Maret 1969 di San Giorgio, Italia. Tak lama kemudian ia diutus ke Tanah Misi. Laos menjadi tujuan pertamanya pada 1969 hingga 1975. Namun situasi politik yang tidak kondusif memaksanya bersama para misionaris OMI lainnya untuk meninggalkan wilayah tersebut.

Jenazah Pastor Wan Ibung Natale Belingheri, OMI disemayamkan (Dok. Komisi Komsos Keuskupan Tanjung Selor)

Perjalanan misinya berlanjut ke Indonesia. Pada 25 April 1977, Pastor Natalino tiba di Pulau Borneo. Saat itu wilayah utara pulau ini dipercayakan kepada tujuh misionaris perintis OMI, termasuk dirinya. Bersama rekan-rekannya, ia merintis pelayanan di daerah yang masih sangat terbatas ini.

Buah dari kerja keras itu nyata. Wilayah itu berkembang menjadi Keuskupan Tanjung Selor.

Karya pastoral Pastor Natalino menjangkau banyak tempat. Ia pernah melayani Tering, Mara Satu, Malinau, dan Pulau Sapi. Hampir 49 tahun hidupnya ia habiskan bersama umat di Kalimantan Utara. Ia bukan hanya hadir sebagai imam, tapi juga sebagai sahabat dan bagian dari masyarakat. Ia fasih berbahasa Indonesia dan Dayak Punan. Ia bahkan mampu menari Sapek Tunggal, sebuah bentuk kedekatan budaya yang jarang dimiliki misionaris asing.

Salah satu karya yang paling dikenang adalah Asrama Apo Deno di Pulau Sapi. Melalui asrama ini, Pastor Natalino mendidik dan membina anak-anak, yang kini banyak dari mereka berhasil menjalani hidup dengan baik. Ia tidak hanya menanam iman, tapi juga membentuk masa depan generasi muda.

Kedekatannya dengan masyarakat adat juga terlihat dari nama Dayak Kayan yang ia terima: Wan Ibung, yang berarti “rebung di tengah rumpun bambu”. Nama ini bahkan tercantum dalam KTP-nya saat ia menjadi Warga Negara Indonesia, sebuah tanda bahwa ia telah menjadi bagian dari wilayah yang ia layani.

Ulang tahun imamatnya ke-58 pada 29 Maret 2026 dirayakan secara sederhana di sebuah rumah sakit karena kondisi kesehatannya menurun. Hingga akhirnya, pada 10 April 2026, ia kembali kepada Sang Khalik.

Penghormatan terakhir bagi Pastor Natalino dilaksanakan di Paroki St. Maria Imakulata, Tarakan. Umat dari berbagai wilayah – Mara Satu, Malinau, dan Pulau Sapi – datang memberi penghormatan. Bahkan ritual adat turut dilaksanakan, dengan tarian Sapek dan ratapan Dayak Punan, sebagai ungkapan cinta dan kehilangan.

Misa requiem dipimpin oleh Uskup Tanjung Selor, Mgr. Paulinus Yan Olla, MSF. Ia didampingi oleh Provinsial OMI Indonesia, Pastor Ignatius Wasono Putro, OMI dan Kepala Paroki Tarakan, Pastor Adrianus Atmaka, OMI serta para imam lainnya.

Mgr. Paulinus Yan Olla, MSF berfoto bersama para imam di depan jenazah Pastor Wan Ibung Natale Belingheri, OMI seusai Misa Requiem. (Dok. Komisi Komsos Keuskupan Tanjung Selor)

Jenazah Pastor Natalino dimakamkan di kompleks Goa Maria Sei Mentogog, berdampingan dengan sahabat seperjuangannya, P. Toni.

Kepergian Pastor Natalino menandai berakhirnya era para misionaris perintis di Keuskupan Tanjung Selor. Kini, Gereja setempat memasuki babak baru, terlebih menjelang pesta perak keuskupan tahun depan. Namun, benih iman yang telah ia tanam selama puluhan tahun diyakini akan terus tumbuh dan berbuah.

Pastor Natalino telah pergi, tapi cintanya tetap hidup di hati umat. Ia datang sebagai orang asing, namun pulang sebagai bagian dari keluarga besar Kalimantan Utara.

Rhina Enho, Komisi Komsos Keuskupan Tanjung Selor

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles