HIDUPKATOLIK.COM – SOSOK Franciscus Georgius Josephus van Lith telah memikat perhatian saya sejak bangku SMA. Ketertarikan itu bermula dari sebuah dokumenter di YouTube. Dari sana, nama Van Lith tidak lagi sekadar tokoh sejarah. Ia tampil sebagai figur yang hidup – dipaparkan oleh para narasumber seperti Murti Hadiwijaya, Budi Subanar, hingga para imam dan alumni yang mewarisi jejaknya. Gambaran itu diperkaya oleh film Bethlehem Van Java. Kesan pertama saya sederhana, tetapi kuat: Van Lith adalah sosok luar biasa – seorang Belanda yang mencintai Nusantara secara konkret dan membumi.
Van Lith tiba di Jawa pada akhir abad ke-19. Setelah singgah di Semarang, ia melanjutkan karya misinya ke Muntilan, sebuah wilayah yang kala itu menjadi pusat penyebaran Katolik. Namun, metode yang digunakan saat itu problematik: baptisan dilakukan secara transaksional. Iman diukur dari jumlah, bukan kedalaman. Hasilnya jelas – umat tidak memahami ajaran dasar. Dalam Sakramen Tobat, misalnya, banyak yang hanya mampu mengucapkan “Pater Noster” tanpa makna.
Van Lith menolak pendekatan ini. Ia memecat para katekis dan mengajukan protes kepada pimpinan misi. Respons yang ia terima dingin. Bagi otoritas saat itu, angka baptisan tetap dianggap keberhasilan. Namun bagi Van Lith, iman tidak bisa dibangun di atas transaksi.

Ia memilih jalan lain: pendidikan
Di awal abad ke-20, Van Lith merintis sekolah pendidikan guru di Muntilan. Langkah ini terbilang berani. Muridnya tidak sampai sepuluh orang. Ia sendiri turun langsung, mendatangi keluarga-keluarga untuk meyakinkan pentingnya pendidikan. Visinya jelas dan melampaui zamannya: sekolah pribumi harus lebih baik daripada sekolah pemerintah kolonial Belanda.
Dari ruang kelas sederhana itu lahir tokoh-tokoh besar. Di antaranya Albertus Soegijapranata, Ignatius Joseph Kasimo, Yos Sudarso, dan Cornel Simanjuntak. Mereka bukan hanya murid, tetapi buah dari visi pendidikan yang membebaskan.
Menariknya, Van Lith tidak pernah memaksa muridnya untuk dibaptis. Ia justru menanamkan kebebasan. Albertus Soegijapranata sendiri meminta untuk dibaptis atas kesadaran pribadi. Pendidikan bagi Van Lith adalah proses memanusiakan manusia – lembut, dialogis, dan menghargai budaya lokal. Ia menghidupi prinsip inkulturasi jauh sebelum istilah itu populer.
Pendekatan serupa tampak dalam liturgi. Van Lith menggunakan bahasa Jawa dalam doa dan perayaan iman. Ia menerjemahkan doa “Bapa Kami” dengan nuansa lokal, menandakan kedalaman penguasaannya terhadap budaya setempat. Baginya, iman tidak boleh terasa asing; ia harus berakar dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, jalan ini tidak mudah. Bertahun-tahun, jumlah baptisan stagnan. Metode transaksional lama tampak lebih “berhasil” secara angka. Van Lith tetap bertahan.
Titik balik datang melalui seorang tokoh lokal: Sarikrama. Seorang penganut Kejawen yang sakit keras dan mencari kesembuhan ke Muntilan. Ia bertemu Van Lith dan dirawat oleh Bruder Kersten. Dalam proses itu, Sarikrama mengalami perjumpaan iman yang mendalam. Ia kemudian dibaptis dengan nama Barnabas.
Kesembuhannya menyebar sebagai kabar dari mulut ke mulut di Kalibawang. Rasa ingin tahu tumbuh. Dialog iman dimulai. Sarikrama – kini Barnabas – menjadi katekis pribumi pertama.
Peristiwa ini mencapai puncaknya pada tahun 1904. Sebanyak 171 orang dibaptis di Sendangsono, sebuah mata air yang kemudian menjadi tempat ziarah penting. Dari sini, benih Gereja lokal tumbuh. Bukan lagi bergantung pada misionaris asing, tetapi digerakkan oleh umat sendiri.
Buahnya terasa pada masa krisis. Saat pendudukan Jepang (1942–1945), banyak imam asing ditahan. Gereja nyaris lumpuh. Namun, para katekis dan awam yang telah dibina tetap menjaga kehidupan iman. Mereka menjadi tulang punggung Gereja. Model ini, seperti yang pernah diungkapkan Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, adalah “Gereja yang sesungguhnya”—Gereja yang hidup dari partisipasi umat.
Van Lith tidak berhenti di pendidikan guru. Ia membangun asrama putra dan putri, membentuk komunitas yang kelak melahirkan keluarga-keluarga Katolik. Ia juga merintis pembinaan calon imam pribumi. Dua nama awal muncul: Petrus Darmasepoetra dan FX Satiman. Mereka menjadi cikal bakal lahirnya Seminari Menengah Mertoyudan – tonggak penting bagi Gereja lokal yang mandiri.
Di luar Gereja, Van Lith juga aktif dalam dialog lintas agama dan perjuangan sosial. Ia menjalin relasi dengan Agus Salim dalam Volksraad (dewan rakyat). Keduanya bersama-sama memperjuangkan hak-hak kaum pribumi. Kedekatan ini menunjukkan bahwa Van Lith tidak hanya misionaris, tetapi juga jembatan antariman.
Lebih dari satu abad kemudian, warisan Van Lith tetap relevan. Ia bukan sekadar tokoh misi. Ia adalah pendidik, perintis, dan visioner. Ia membangun iman bukan dengan angka, tetapi dengan akar. Bukan dengan paksaan, tetapi dengan kebebasan.
Van Lith menunjukkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil – dan keyakinan yang teguh.
Jefferson Kenzhi Kurniawan







