HIDUPKATOLIK.COM – Senja perlahan merunduk di atas Lapangan Santo Petrus, membalut langit dengan warna temaram yang syahdu. Cahaya keemasan dari lampu-lampu mulai memeluk kubah Basilika, memantulkan kehangatan di tengah udara yang kian hening. Di bawahnya, ribuan umat dari berbagai penjuru dunia menyatu dalam diam, bukan sekadar sunyi, melainkan keheningan yang sarat harap dan doa.
Di tengah dunia yang diliputi konflik dan kegelisahan, mereka datang membawa satu kerinduan yang sama yakni damai. Beberapa menit sebelum doa dimulai, Paus Leo XIV memberikan kejutan kepada umat beriman yang berkumpul di alun-alun Basilika St. Petrus, Vatikan. Dia hadir dan menyapa, bukan sekadar sebagai pemimpin Gereja, tetapi sebagai suara hati yang mengajak dunia untuk bersama-sama perdamaian.
Dengan sapaan yang sederhana namun hangat, ia mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada umat yang telah berkumpul.
“Terima kasih banyak telah berkumpul di sini untuk berdoa bagi perdamaian. Kita berdoa agar perdamaian benar-benar berkuasa di seluruh dunia, agar kita menjadi orang-orang yang membawa pesan ini ke dunia,” katanya.
Ia kemudian menegaskan keyakinan iman yang menjadi dasar pertemuan itu, bahwa Tuhan mendengarkan dan menyertai umat-Nya.
“Ketika dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Nya, Dia hadir bersama kita,” lanjutnya, meneguhkan bahwa kebersamaan itu adalah panggilan iman.
Mengajak seluruh umat untuk bersatu dalam doa Rosario Suci, Paus Leo menambahkan bahwa melalui perantaraan Bunda Maria, dunia masih memiliki harapan.
“Kita ingin mengatakan kepada seluruh dunia untuk membangun perdamaian,” ujarnya.
Setelah memberikan berkat, ia kemudian melangkah menuju Basilika Santo Petrus untuk memimpin ibadat dan doa Rosario dengan ujud khusus bagi perdamaian dunia. Sebuah doa yang dipanggul bersama oleh ribuan hati yang hadir malam itu.
Doa Bersama yang Menyatukan Dunia
Tepat pada Sabtu, 11 April 2026, doa dimulai tepat pukul 18.00 waktu Roma, yang dipimpin oleh Paus Leo. Vatican News mencatat bahwa pada saat itu, sekitar sepuluh ribu umat beriman dari berbagai belahan dunia memenuhi Basilika dan Lapangan Santo Petrus. Mereka datang tanpa tiket, hanya dengan iman, harapan, dan kerinduan yang sama akan damai.

Dalam doa khusus tersebut, Paus Leo menyampaikan seruan yang jelas kepada para pemimpin negara agar menghentikan konflik dan memilih jalan dialog serta mediasi. Ia juga mengungkapkan bahwa Gereja menerima begitu banyak surat dari anak-anak yang hidup di wilayah konflik.
“Saat membacanya, melalui kacamata kepolosan, kita dapat melihat semua kengerian dan ketidakmanusiaan dari tindakan yang dibanggakan oleh sebagian orang dewasa,” ungkapnya.
Doa sebagai Ungkapan Iman yang Mengubah
Doa Rosario dengan Peristiwa Mulia didaraskan dengan penuh khidmat. Setiap butiran rosario menjadi doa yang sederhana namun dalam. Disana mengalir harapan akan lahirnya perdamaian, khususnya di wilayah-wilayah yang sedang dilanda konflik.
Dalam renungannya, Paus Leo menegaskan bahwa doa adalah ungkapan iman yang hidup. Ia mengutip perkataan Yesus bahwa iman mampu memindahkan gunung (bdk. Mat 17:20), mengingatkan bahwa doa bukanlah sesuatu yang kecil atau sia-sia.
Ia tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada semua yang hadir dan telah menjawab undangan untuk berkumpul dalam doa bersama.
“Perang memecah belah; harapan mempersatukan. Kesombongan menginjak-injak orang lain; kasih mengangkat,” katanya.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa doa bukanlah tempat berlindung untuk menghindari tanggung jawab, dan bukan pula “obat bius” untuk mematikan rasa sakit akibat ketidakadilan. Sebaliknya, doa adalah respons yang tanpa pamrih, universal, dan transformatif terhadap kehidupan.
“Doa mengajarkan kita bagaimana bertindak. Dalam doa, keterbatasan kemampuan manusia kita disatukan dengan kemungkinan tak terbatas dari Tuhan,” tambahnya.
Seruan Tegas “Hentikan Perang, Pilih Dialog“
Nada suaranya kemudian menguat, membawa pesan yang lebih tegas. Paus Leo memperingatkan bahaya penyembahan terhadap diri sendiri dan uang. Dua hal yang sering menjadi akar konflik manusia.
“Cukup sudah pemujaan diri dan uang! Cukup sudah pameran kekuasaan! Cukup sudah perang! Kekuatan sejati ditunjukkan dalam melayani kehidupan,” serunya.
Ia mengajak semua orang untuk menyatukan kekuatan moral dan spiritual, jutaan bahkan miliaran manusia, muda dan tua yang memilih untuk percaya pada perdamaian, merawat luka, dan memperbaiki kerusakan yang ditinggalkan oleh kegilaan perang.
Secara khusus, ia menegaskan tanggung jawab para pemimpin bangsa.
“Kepada mereka kita berseru: Hentikan! Sudah saatnya perdamaian! Duduklah di meja dialog dan mediasi, bukan di meja tempat persenjataan ulang direncanakan dan tindakan mematikan diputuskan!”
Ia juga mengingatkan bahwa menolak perang bukan hanya soal kata-kata, tetapi harus menjadi tindakan nyata. Doa mengajak setiap orang untuk meninggalkan segala bentuk kekerasan yang masih tersisa dalam hati dan pikiran.
“Marilah kita berpaling kepada Kerajaan perdamaian yang dibangun hari demi hari, di rumah kita, sekolah, lingkungan, dan komunitas sipil serta keagamaan kita.”
Pulang dengan Komitmen Berdoa Tanpa Henti
Di penghujung doa, Paus Leo menitipkan pesan yang mendalam agar umat tidak hanya pulang dengan perasaan tersentuh, tetapi dengan komitmen untuk terus berdoa tanpa henti dan mengalami pertobatan hati yang sejati.
Ia menegaskan bahwa Gereja adalah umat besar yang melayani rekonsiliasi dan perdamaian. Gereja terus melangkah tanpa ragu, bahkan ketika penolakan terhadap logika perang dapat menimbulkan kesalahpahaman dan penghinaan.
Gereja, katanya, mewartakan Injil perdamaian dan menanamkan ketaatan kepada Tuhan di atas segala otoritas manusia, terutama ketika martabat manusia terancam oleh pelanggaran hukum internasional yang terus terjadi.
Ia juga mengingatkan harapan agar setiap komunitas menjadi “rumah perdamaian,” tempat orang belajar meredakan permusuhan melalui dialog, mempraktikkan keadilan, dan menghargai pengampunan.
Dengan nada yang sendu namun penuh harapan, ia menutup permenungannya dengan mengingatkan bahwa umat manusia, meski berasal dari berbagai bahasa, bangsa, dan negara adalah satu keluarga yang sama-sama menangis, berharap, dan bangkit kembali.
“Tidak ada lagi perang, sebuah perjalanan tanpa kembali; tidak ada lagi perang, sebuah lingkaran setan kesedihan dan kekerasan,” katanya, menggemakan kutipan Santo Yohanes Paulus II, dalam Doa untuk Perdamaian, pada 2 Februari 1991.
Menutup renungannya, Paus Leo mengatakan, saudara-saudari terkasih, damai sejahtera bagi kalian semua yakni damai sejahtera Kristus yang telah bangkit, buah dari pengorbanan kasih-Nya di kayu salib. Karena alasan inilah, kita memanjatkan doa kepada-Nya:
Tuhan Yesus,
Engkau menaklukkan maut tanpa senjata atau kekerasan.
Engkau menghancurkan kekuatan-Nya dengan kekuatan damai sejahtera.
Berikanlah kepada kami damai sejahteraMu
seperti yang Engkau berikan kepada perempuan-perempuan
yang penuh keraguan pada pagi hari Paskah.
em>Seperti yang Engkau berikan kepada para murid
yang bersembunyi dalam ketakutan.
Utuslah Roh-Mu, nafas yang memberi hidup dan mendamaikan,
yang mengubah musuh dan lawan menjadi saudara dan saudari.
Ilhamilah kami untuk percaya kepada Maria, ibumu yang berdiri di kaki salibmu
dengan hati yang hancur, teguh dalam iman bahwa Engkau akan bangkit kembali.
Semoga kegilaan perang berakhir dan bumi dijaga dan dibudidayakan oleh mereka
yang masih tahu bagaimana menumbuhkan, melindungi dan mencintai kehidupan. Dengarkanlah kami ya Tuhan kehidupan.
Salam damai sejahtera bagimu semua, bagi bangsa dan negara, bagi dunia kita. Amen.
Doa itu mengalir sebagai permohonan sekaligus harapan agar dunia yang terluka ini dipulihkan, agar permusuhan berubah menjadi persaudaraan, dan agar manusia kembali belajar mencintai kehidupan.
Di bawah langit Vatikan yang mulai gelap, doa itu tidak berhenti sebagai rangkaian kata. Ia menjadi komitmen bahwa perdamaian bukan sekadar sesuatu yang didoakan, tetapi panggilan yang harus dihidupi, diperjuangkan, dan dimulai dari hati setiap manusia.

Dari Vatikan, Sr. M. Angela Siallagan, FCJM (Kontributor)








