spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Bagaimana Memaknai Perjuangan Kartini Masa Kini

5/5 - (2 votes)

HIDUPKATOLIK.COM – Bangsa Indonesia patut berbangga hati karena dalam sejarahnya ada tokoh yang hebat berasal dari kalangan perempuan. Dia adalah Raden Ajeng (R.A) Kartini. Pada 21 April seantero Republik ini memperingati hari kelahiran Kartini ke 147 tahun. Kehadiran Kartini merupakan sebuah anugerah bagi bangsa Indonesia, karena ia telah meletakkan dasar nilai-nilai kemanusiaan, tepatnya kesetaraan gender dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Agak sulitlah dibayangkan perempuan-perempuan Indonesia bisa maju sekarang dan menduduki jabatan strategis di pemerintahan maupun dalam bidang kehidupan yang lain, jika Kartini tidak hadir di Republik ini.

 

Kartini meninggal tergolong di usia muda. Namun pun demikian gagasan-gagasannya begitu hebat, pemikirannya berorientasi pada kemajuan kaumnya. Ia meletakkan titik pijak yang kokoh bagi masa depan kaum perempuan. Kehadiran Kartini bagaikan secercah cahaya yang menerangi jagat republik serta membuka pintu lebar  bagi kaum perempuan untuk berkesempatan menatap masa depan dan meraihnya. Melalui semboyannya “Habis gelap terbitlah terang”, Kartini hadir membawa terang, menghalau kegelapan yang menyelimuti kaum perempuan.

Penghargaan

Bung Karno dalam masa pemerintahannya menyadari betul sumbangan besar Kartini bagi republik ini. Karena itulah Bung Karno tidak segan-segan mengeluarkan sebuah keputusan sebagai penghargaan atas perjuangan Kartini  dengan menetapkan tanggal 21 April sebagai Hari Kartini. melalui Keputusan Presiden RI Nomor 108  tertanggal 2 Mei 1964.  Penetapan tanggal dan bulan dipilih bertepatan dengan hari kelahiran Raden Ajeng Kartini.

Penetapan demikian cukup beralasan mengingat sumbangsih yang begitu besar  bagi kaum perempuan di republik ini.  Melalui SK No 108 tahun 1964 itu, Bung Karno mengakui Kartini tidak saja sebagai seorang pahlawan tetapi juga sosok pejuang wanita yang pantas hari kelahirannya diperingati, sekaligus mengingatkan kaum perempuan untuk meneladani Kartini menjadikannya inspirasi kehidupan dan kemajuan.

Dalam kekinian Hari Kartini sesungguhnya memiliki makna yang tentu tidak sama lagi seperti pada masa Kartini hidup. Namunpun demikian, tetap ada makna yang relevan, inspiratif dan menjadi insight bagaimana menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Baca Juga:  Nada Bumi, dari Panggung ke Aksi Nyata

Bagi penulis, Kartini menggaungkan satu etika penting dalam kehidupan, yakni sikap peduli yang begitu besar bagi masa depan kaumnya secara khusus, dan bagi bangsanya secara umum. Kartini telah membumikan lebih dulu sebuah gagasan menarik yang kemudian digemakan kuat oleh Gilligan, yakni etika kepedulian sebagai penciri nilai etis yang melekat dalam kaum ibu.

Dalam buku Dalam Suara Yang Lain (terj A Sonny Keraf, 1997). Gilligan mencoba membedah nilai inti kaum perempuan yang sekaligus penciri dari keperempuanan, yakni etika kepedulian. Penekanan pada etika kepedulian merupakan sebuah kritik pedas dari Carol Gilligan terhadap identifikasi nilai mendasar dan paling tinggi yang diklasifikasikan oleh Lawrence Kohlberg dalam perkembangan moral.

Gilligan merasa penempatan rasionalitas sebagai puncak perkembangan moral, tidak sejalan dan seiring dan pengalaman hidup kaum perempuan. Baginya nilai penciri utama kaum perempuan justru ada di kepedulian yang begitu besar terhadap kehidupan, bukan pada kemampuan berpikir dan sifat otonomi moral. Singkatnya, yang menandai kaum perempuan adalah rasa kepedulian yang begitu besar.

Hal itu sudah terlihat dengan jelas sejak kaum ibu mengandung. Betapa dalam hal ini seorang ibu begitu peduli pada janinnya. Ia begitu berjuang untuk mempertahankan kehidupan manusia dalam rahimnya, dan terus merawat bayi yang keluar dalam rahimnya hingga menjadi besar.  Karena itu bagi Gilligan, nilai yang paling mendasar dihayati oleh kaum perempuan adalah kepedulian. Dengan demikian etika penciri kaum perempuan adalah etika kepedulian, bukan rasionalitas.

Kepedulian Kartini

Jika kita kaitkan gagasan pokok Carol Gilligan, sungguh-sungguh itulah tertancam dalam dan kuat dalam diri RA Kartini sepanjang hidupnya. Sejak ada peluang baginya untuk mengenyam pendidikan, ia gunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Tetapi, ia menempuhnya bukan untuk pengembangan dirinya semata, tetapi demi masa depan  bangsanya. Kartini menyuarakan suara profetis yang tidak lazim pada jamannya, dalam hal mana kaum perempuan selalu ditempatkan pada posisi lemah, baik dalam peran maupun cara pandang.

Baca Juga:  Menyambut 125 Tahun Katedral Jakarta, Akan Digelar Pameran Fotografi

Sebelum kehadiran Kartini, kaum perempuan mendapat tiga julukan yang bermakna peyoratif, yakni sumur, dapur dan kasur. Julukan sumur mengandung ungkapan bahwa kaum perempuan tugasnya hanyalah mencuci, sedangkan kata dapur menunjukkan fungsi utamanya memasak, sedangkan kasur, menempatkan kaum perempuan sebagai pelampiasan libido kaum laki-laki.

Etika kepedulian yang mengelora dalam batin Kartini mengubah julukan itu. Kaum perempuan bukan objek, bukan pula golongan masyarakat yang rendah. Kaum perempuan adalah manusia yang memiliki harga diri, bermartabat sama dengan laki-laki.

Sebagai makhluk yang sederajat dengan laki-laki, kaum perempuan harus diperlakukan dengan baik. Perlakuan yang baik itu terejawantah dalam adanya kesempatan yang sama dalam berbagai bidang kehidupan.

Selain gema kepedulian, dalam diri Kartini juga kuat muncul kesadaran baru bagaimana peranan pendidikan sebagai syarat kemajuan kaum sebuah bangsa. Gema ini tentu tidak bisa dilepaskan dari pengalaman konkret yang dialami oleh Kartini selama pendidikan di luar negeri. Tidak bisa dimungkiri bahwa Kartini mengamini apa yang dikatakan oleh Francis B acon tentang ungkapan “knowledge is power”, pengetahuan merupakan kekuatan.

Kartini sendiri membuktikan itu dengan memanfaatkan peluang yang ada. Berkat pergaulan dan dukungan teman-temannya dari luar negeri, Kartini mendidik kaum perempuan. Gerakan emansipasipun tumbuh dan menggema dalam antero republik hingga memberi inspirasi bagi pejuang perempuan lainnya seperti Marta Christina Tiahahu dari Indonesia Timur.

Kartini jelas sekali memiliki motivasi yang begitu luhur dan mulia. Cita-citanya dinyatakannya dengan ungkapan yang sangat sederhana, yakni “Habis Gelap, Terbitlah Terang”. Ungkapan ini bermakna adanya transformasi situasi, yakni dari situasi kegelapan menuju situasi yang terang.

Makna Perjuangan

Dari perspektif filsafat manusia, apa yang dilakukan Kartini mengandung tiga hal, yakni sebagai sebuah kesaksian, berpesan nilai yang mendalam yang digali terus menerus, dan harapan, bahkan komitmen untuk melanjutkan perjuangan.

Baca Juga:  Peringatan Seratus Tahun Paus Benediktus XVI: Inisiatif untuk Mengenang Joseph Ratzinger

Kartini adalah kesaksian sejarah tentang perjuangan kaum perempuan agar diakui  setara dan sederajat dengan kaum laki-laki. Ia memberi kesaksian sejarah untuk melawan ideologi dominasi. Perjuangannya menjadi titik tumpu kokoh tentang kesetaraan kedudukan kaum perempuan dengan kaum laki-laki.

Selain saksi sejarah, Kartini juga mengguratkan prinsip moral dalam kehidupan bersama. Apa yang diperjuangkan Kartini persis sejalan dengan gagasan moral  Immanuel Kant, filsuf Jerman yang menempatkan martabat manusia berada pada posisi yang paling berharga dalam kedudukan dan posisi apapun.

Setiap manusia adalah pribadi yang memiliki martabat yang sama. Karena memiliki martabat yang sama, maka siapapun memiliki kewajiban untuk menjunjung tinggi martabat manusia itu, yang disebut Kant dengan istilah imperatif kategoris. Kartini dan pejuang kaum perempuan lainnya mengukir nilai itu juga dalam perjuangan mereka. Nilai itu harus disebarkan terus menerus.

Apa yang sudah dimulai oleh Kartini tentu tetap relevan untuk diteruskan di era dewasa ini. Tidak bisa disangkal di sudut-sudut republik ini, kaum perempuan masih sering mendapat perlakuan yang tidak adil.

Kita baru-baru ini dikejutkan dengan sejumlah perempuan yang dipekerjakan secara tidak manusiawi di NTT. Untungnya ada Suster Fransiska Imakulata (Suster Ika). Semangat yang sama juga ditunjukkan oleh Suster Natalia, KYM dari Aek Nabara yang memperjuangkan uang umat yang raib sebanyak 28 milyar dari salah satu bank. Kedua biarawati ini adalah bagian dari Kartini masa kini. Mereka begitu peduli bagi keadilan dan masa depan manusia yang lain. Nilai ini menjadi pesan berharga dari peringatan Hari Kartini.

Selamat Hari Kartini!

Kasdin Sihotang, Dosen Filsafat Moral di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta/Sekretaris Himpunan Dosen Etika Seluruh Indonesia

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles