HIDUPKATOLIK.COM – Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero menggelar rapat senat terbuka luar biasa dalam rangka pengukuhan Otto Gusti Ndegong Madung sebagai Guru Besar Filsafat Politik. Meski matahari pagi Sabtu, 18 April 2026 itu cukup menyengat, namun acara yang bertempat di Auditorium St. Thomas Aquinas, IFTK Ledalero ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting dari unsur Gereja, pemerintah, dan dunia akademik.

Dalam sambutannya, Wakil Rektor I IFTK Ledalero, Dr. Yosef Keladu, SVD menyebut pengukuhan ini sebagai peristiwa bersejarah bagi IFTK Ledalero. Sebab, setelah penantian cukup lama, IFTK Ledalero akhirnya kembali menambah jumlah professor lewat pengukuhan Otto Gusti Ndegong Madung. Melalui momen ini pula, dosen Etika Politik di IFTK Ledalero ini mendorong segenap dosen untuk juga memperbanyak penelitian dan karya ilmiah di masing-masing bidang keahlian mereka. “Momentum ini harus menjadi pemicu bagi para dosen untuk terus berkarya dan mencapai jenjang akademik tertinggi” tegasnya.
Sementara itu, Gubernur Nusa Tenggara Timur, Melkiades Laka Lena, yang hadir pada acara tersebut mengapresiasi refleksi filosofis yang disampaikan Prof. Otto. Ia menilai bahwa terdapat ketegangan antara idealitas filsafat politik dan praktik politik di lapangan. “Tantangan kita adalah bagaimana mendekatkan gagasan besar tentang keadilan dan demokrasi dengan praktik politik sehari-hari,” ujarnya.
Lewat orasi ilmiah berjudul, “Legitimasi Kekuasaan, Epistemologi Demokrasi, dan Daya Pertimbangan Politik”, Prof. Otto menegaskan bahwa demokrasi tidak cukup hanya bertumpu pada mekanisme procedural, seperti pemilihan umum, tetapi harus didukung oleh kemampuan rasional warga negara dalam menilai dan mempertanggungjawabkan keputusan politik. “Demokrasi hanya bisa hidup jika warga memiliki daya pertimbangan politik, yakni kemampuan memahami informasi, mengevaluasi argumen, dan mempertimbangkan berbagai perspektif sebelum mengambil keputusan,” ujar imam SVD ini.

Prof. Otto juga menggarisbawahi pentingnya fondasi epistemologis dalam demokrasi. Dalam konteks ini, kebebasan berpendapat dan ruang dialog menjadi syarat utama agar demokrasi tetap hidup dan berkembang. Untuk alasan tersebut, alumni Hochschule für Philosophie München, Jerman ini juga menekankan perlunya membangun ekosistem demokrasi yang sehat, mulai dari media yang kredibel, pendidikan yang mendorong berpikir kritis, hingga peran agama sebagai sumber etika publik yang memperkuat empati, solidaritas, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Pengukuhan ini tidak hanya menjadi pencapaian pribadi, tetapi juga tonggak penting bagi IFTK Ledalero, dalam memperkuat perannya sebagai pusat pemikiran kritis di kawasan timur Indonesia. Momentum ini sekaligus diharapkan mampu mendorong pengembangan tradisi akademik dan memberi kontribusi nyata bagi penguatan demokrasi di Indonesia.

Rapat senat terbuka ini dihadiri oleh sejumlah uskup, misalnya, Uskup Agung Ende Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD; Uskup Larantuka Mgr. Yohanes Hans Monteiro, Ketua Yayasan Persekolahan Santo Paulus Ende, Kepala LLDIKTI Wilayah XV, Gubernur NTT, para bupati dari beberapa kabupaten di NTT, para rektor dari sejumlah perguruan tinggi, dan segenap civitas akademika IFTK Ledalero, serta keluarga besar Prof. Otto.
Laporan Chia Benu, mahasiswi IFTK Ledalero, Maumere, NTT






