spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Martha Tilaar: Kisah Kesetiaan, Cinta, dan Iman yang Menguatkan Hidup

Martha Tilaar ( 4 September 1937 – 14 Oktober 2026)

HIDUPKATOLIK.COM– Kepergian Dr. (H.C.) Martha Tilaar pada 14 Oktober 2026, dalam usia 89 tahun, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan dunia kecantikan Indonesia. Namun, di balik keberhasilannya membangun Martha Tilaar Group, tersimpan kisah kehidupan yang jauh lebih dalam: tentang kesetiaan kepada pasangan, kekuatan iman, ketekunan dalam perjuangan, dan kepedulian kepada sesama.

Martha Tilaar (4 September 1937–14 Oktober 2026) bukan hanya dikenal sebagai pengusaha perempuan yang berhasil membawa kekayaan tradisi kecantikan Indonesia ke panggung yang lebih luas. Ia juga seorang istri, ibu, dan pribadi yang menjadikan iman sebagai bagian penting dalam perjalanan hidupnya.

Kisah hidup Martha tidak dapat dipisahkan dari sosok suaminya, Prof. Dr. Henry Alexis Rudolf Tilaar, M.Sc.Ed., yang akrab disapa Alex Tilaar. Keduanya menikah pada 12 Januari 1963. Perpaduan budaya Jawa dan Minahasa mewarnai kehidupan rumah tangga yang mereka bangun selama puluhan tahun.

Ketika Alex melanjutkan pendidikan di Indiana University, Amerika Serikat, Martha mendampinginya. Kesempatan itu sekaligus dimanfaatkan untuk memperdalam keterampilan di bidang kecantikan. Dukungan sang suami menjadi salah satu kekuatan yang mendorong Martha mengembangkan potensi dan mewujudkan cita-citanya.

Bagi Martha, perjalanan bersama Alex bukan sekadar membangun rumah tangga. Mereka saling memberikan ruang untuk bertumbuh, mendukung impian masing-masing, dan menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Merintis dari Garasi Rumah

Sekembalinya ke Indonesia, Martha mulai merintis usaha kecantikan pada 1970. Berawal dari salon sederhana di garasi rumah orang tuanya di kawasan Menteng, Jakarta, ia membangun usaha dengan ketekunan dan visi yang kuat.

Tidak mudah bagi seorang perempuan untuk membangun bisnis dari nol. Berbagai tantangan harus dihadapi, mulai dari mengembangkan usaha hingga membangun kepercayaan pasar. Namun, Martha tidak berhenti pada usaha salon.

Ia melihat potensi besar dalam kekayaan alam dan tradisi Indonesia. Bahan-bahan alami, jamu, serta kearifan lokal kemudian menjadi bagian dari pendekatan yang dikembangkan dalam industri kecantikan yang dibangunnya.

Dari sebuah usaha sederhana, Martha Tilaar Group berkembang menjadi salah satu nama yang dikenal dalam industri kecantikan Indonesia. Perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana keberanian, kreativitas, dan ketekunan dapat mengubah sebuah cita-cita menjadi karya yang memberi dampak luas.

Namun, kesuksesan bisnis bukan satu-satunya warisan yang ingin ditinggalkan Martha. Ada nilai-nilai kehidupan yang terus ia pegang dan tanamkan kepada keluarganya.

Iman Katolik sebagai Sumber Kekuatan

Dalam wawancara dengan HIDUP pada Kamis (15/10/2026) malam di rumah duka, putra sulungnya, Bryan David Emil Tilaar, mengenang kehidupan doa sang ibu.

Setelah suaminya berpulang pada 30 Oktober 2019, Martha semakin tekun berdoa dan bersyukur. Bagi keluarga, iman Katolik bukan sekadar identitas keagamaan, melainkan sumber kekuatan dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan.

Nilai iman tersebut juga tercermin dalam cara Martha menjalankan bisnis. Bryan mengenang bagaimana sang ibu menempatkan kejujuran dan tanggung jawab sebagai prinsip yang tidak boleh dikompromikan.

Salah satu ujian besar terjadi ketika krisis ekonomi 1997–1998 menekan perusahaan. Di tengah situasi sulit dan kewajiban kepada konsorsium bank yang harus diselesaikan, keluarga memilih tetap bertanggung jawab serta mengupayakan restrukturisasi utang.

Bagi Martha, kesulitan bukan alasan untuk mengabaikan etika. Kejujuran dan tanggung jawab harus tetap dijaga, apa pun keadaan yang sedang dihadapi.

Prinsip JITU, yakni Jujur, Iman, Inovatif, Tekun, dan Ulet, menjadi nilai yang ditanamkan Martha dalam menjalankan bisnis sekaligus diwariskan kepada anak-anaknya.

Lima prinsip tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari pertumbuhan usaha atau pencapaian materi. Ada integritas dan nilai kemanusiaan yang harus menyertainya.

Kepedulian Martha kepada sesama juga menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Bantuan kepada mereka yang membutuhkan, termasuk panti asuhan, menunjukkan bahwa keberhasilan usaha semestinya membawa manfaat lebih luas.

Dengan demikian, iman tidak berhenti sebagai keyakinan pribadi. Iman menemukan wujudnya melalui tindakan, kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap orang lain.

Ingin Dikenang dengan Sukacita

Ada pesan Martha yang disampaikan keluarga dalam Misa Requiem pada Kamis (15/10/2026), yang dipimpin Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo.

Putra bungsunya, Dr. Kilala Ezra Tilaar, mengungkapkan bahwa sang ibu berpesan agar Misa Requiem tidak diiringi lagu-lagu sedih. Martha ingin kehidupannya dikenang dengan rasa syukur dan kegembiraan.

Selama 89 tahun, ia merasa telah menerima banyak berkat dan kesempatan untuk menjadi berkat bagi banyak orang.

Pesan tersebut menyimpan makna mendalam. Martha tidak ingin kepergiannya hanya dikenang melalui kesedihan, tetapi juga melalui rasa syukur atas kehidupan yang telah dijalani.

Kilala juga mengungkapkan keinginan ibunya agar anak-anak berkumpul dan mendoakannya. Di tengah perjalanan panjang sebagai pengusaha, keluarga tetap menjadi bagian utama dalam kehidupan Martha.

Martha, yang memiliki nama Tionghoa Tjie Pwee Giok, meninggalkan empat anak, yakni Bryan David Emil Tilaar, Pingkan Engellen Tilaar, Wulan Maharani Tilaar, dan Dr. Kilala Ezra Tilaar, serta sembilan cucu.

Kesetiaan yang Melampaui Perpisahan

Kisah Martha dan Alex menjadi salah satu bagian paling bermakna dari perjalanan hidupnya. Pernikahan yang mereka bangun sejak 1963 memperlihatkan bahwa cinta bukan hanya tentang berjalan berdampingan dalam keadaan menyenangkan.

Cinta juga berarti kesediaan untuk saling menguatkan dalam perjuangan, memberikan ruang bagi pasangan untuk berkembang, serta menjaga komitmen ketika kehidupan menghadirkan berbagai perubahan.

Alex berpulang pada 30 Oktober 2019. Setelah menjalani kehidupan tanpa pendamping yang telah bersamanya membangun keluarga dan melewati perjalanan panjang, Martha kini menyusul sang suami.

Keduanya memang telah tiada. Namun, karya dan nilai kehidupan yang mereka tinggalkan tetap hidup. Martha mewariskan perjalanan panjang dalam dunia kecantikan Indonesia, sementara Alex meninggalkan pengabdian dalam dunia pendidikan.

Bagi keluarga dan masyarakat, warisan mereka bukan semata pencapaian profesional. Ada nilai cinta, iman, kejujuran, ketekunan, dan tanggung jawab yang menjadi bagian penting dari perjalanan keduanya.

Kisah Martha Tilaar mengingatkan bahwa hidup yang bermakna bukan hanya tentang seberapa tinggi seseorang mencapai kesuksesan, melainkan juga tentang bagaimana ia menjalani kehidupannya dan memberi arti bagi orang lain.

Iman yang dihidupi melalui tindakan, cinta yang diwujudkan dalam kesetiaan, serta keberhasilan yang dibagikan kepada sesama merupakan warisan yang tidak lekang oleh waktu.

Martha telah menuntaskan perjalanan hidupnya. Namun, kebaikan yang ditaburkan, nilai yang diwariskan, dan kehidupan yang pernah disentuhnya akan terus menjadi berkat bagi banyak orang.

Selamat jalan, Martha Tilaar. Kisah tentang kesetiaan, cinta, dan iman yang Anda hidupi akan tetap 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles