spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Mengapa Menjadi Imam Tidak Mudah

5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – “Membutuhkan proses, waktu yang panjang dan dukungan banyak pihak mulai dari keluarga hingga lembaga/tempat pembinaan calon imam.”

Hal tersebut diungkapkan Uskup Manado, Mgr. Benedictus Estephanus Rolly Untu, MSC ketika berbicara di penghujung Perayaan Ekaristi Tahbisan Imam di Gereja Paroki Hati Tersuci Maria Katedral Manado, Sabtu (3/5/2025).

Mendampingi Uskup pada perayaan ekaristi tersebut ratusan imam di antaranya Sekretaris Keuskupan Manado Pastor Poltje Pitoy MSC, Rektor Seminari Tinggi Pineleng HKY Pineleng Pastor Ambrosius Wuritimur  dan Pastor Melky Malingkas  serta Frater Diakon Damianus Daga.

Penyerahan alat-alat Misa kepada salah seorang imam baru. (HIDUP/Lexia Kalesaran)

Hadir pada acara ini sekitar seribu umat paroki HTM Katedral, suster, frater, bruder, keluarga dan umat paroki asal calon imam baru, wali umat untuk cara tahbissn (Argo Sumayku dan istri), serta tokoh umat seperti dua anggota DPRD Sulut (Louis Scraam serta Bryan Waworuntu dan istri).

Di penghujung perayaan tahbisan, sebelum pengumuman penempatan tugas imam baru tersebut, Uskup mengurai perjalanan panjang seseorang sebelum ditahbiskan menjadi imam.

Mgr. Rolly mengatakan, ada peran dari keluarga dan lingkungan masyarakat, pendidikan/pembinaan di sekolah dan seminari, tahun rohani/diakonal/pastoral dan lain-lainnya di samping panggilan pribadi mereka sehingga bisa menjadi imam.

Baca Juga:  Paus Leo: Jika Seseorang Mengkritik Saya karena Mewartakan Injil, Biarlah Ia Melakukannya dengan Jujur

Menurutnya, perjalanan panjang dan peran banyak pihak yang telah memberikan pengorbanan, pemberian diri yang diwarnai pula dengan cucuran airmata, bahkan ada yang tidak mengenal tapi mendoakan sehingga para imam baru bisa ditahbiskan.

Pembinaan di seminari pun tidak berjalan singkat tapi panjang. Melewati proses dan waktu yang panjang termasuk di masa tahun rohani, pastoral, diakonal, bahkan ada yang bertambah waktunya di masa tertentu,

“Kita berharap, dengan peristiwa iman ini, tahbisan imam ini, para imam baru ini membawa damai sejahtera di manapun mereka berada, baik yang ditempatkan di paroki atau tempat-tempat khusus, di tengah-tengah umat di mana mereka berada,” ujarnya.

Pastor Franstosius Kadoang Pr dalam sambutannya mewakili para imam yang baru ditahbiskan menjelaskan proses dan apa yang dirasakan sehingga ia dan kawan-kawan bisa ditahbiskan menjadi imam.

“Hari ini adalah hari syukur dan pengakuan akan kasih setia Allah dalam hidup kami. Di hadapan Gereja, melalui tangan bapa Uskup kami dipersembahkam.kepada Allah sebagai imam. Kami percaya, bukan karena kami layak tetapi karena Tuhan berbelas kasih dan memanggil kami dalam kasihNya yang tidak pernah berkesudahan,” ujarnya.

Baca Juga:  Ribuan Umat Hadiri Misa Syukur Tahbisan Imam Baru, Pastor Lorensius Novensus

Ditambahkan, hari ini adalah hari di mana Tuhan menyentuh hidup kami secara baru, bukan dengan kilatan cahaya dari langit tapi dengan kasih yang nyata lewat tangan Gereja yang mengutus, dan lewat doa-doa umat yang senantiasa menyertai.

Hari ini, menurut imam yang mendapat tugas ke Paroki St. Petrus Tolai, Sulawesi Tengah itu, bukanlah akhir dari perjalanan tapi awal dari perutusan. Kami datang bukan membawa kesempurnaan tapi membawa hati yang mau belajar, melayani dan mencintai.

“Dalam perjalanan panggilan ini, kami masing-masing punya pengalaman pribadi bersama Tuhan. Ada saat hati kami berkobar-kobar, saat kami mendengar sabdaNya, saat kami merasa Tuhan hadir dan menyapa dengan sangat nyata,'” ujarnya.

Para imam baru memberi berkat pertama kepada orang tua masing-masing. (HIDUP/Lexie Kalesaran)

Disebutkan, dalam kebersamaan itu, Tuhan berkata, marilah dan kamu akan melihatnya. Maka kami datang, kami melihat, dan kami mengalami bahwa hidup bersamaNya sungguh memberi arah dan harapan,

Baca Juga:  Estafet Perjuangan PMKRI Denpasar: Menuju Organisasi yang Adaptif, Kritis, dan Reflektif di Tengah Tantangan Zaman

Di tengah perjalanan yang tidak mudah, mereka pun berkata dengan iman sederhana : aku percaya, Tuhan. Dan hari ini kami berani berkata , Bertolaklah ke tempat yang dalam, sebab kami tahu bahwa Tuhan ingin kami menjala jiwa-jiwa dalam kasihNya. Sebab seperti dikatakan Yesus, Tuhan memerlukannya. Itulah keyakinan yang menguatkan kami untuk berkata, ya.

Bersama dengan kawan-kawannya, Kadoang memohon dukungan doa dari umat Allah. Mereka hanyalah manusia biasa yang sedang.belajar menjadi gembala. Mereka akan jatuh dan terluka tapi mereka percaya dengan rahmat Tuhan dan dukungan umat,.mereka bisa tetap berjalan. “Doakan kami agar kami menjadi imam yang tendah hati, setia dan penuh semangat melayani,” ujarnya.

Usai perayaan ekaristi, diadakan acara syukuran di Wisma Montini (samping Wisma Keuskupan Manado) serta di pastoran dan halaman gereja paroki HTM Katedral, di mana ke dua lokasi berdekatan.

Keenam imam baru yang ditahbiskan tersebut semuanya diosesan. Mereka adalah imam diosesan ke-154-160 yakni Christian Theodorus Pontoh, Frantosius Kadoang, Yohanes Bosco Pontoh, Gregorius Anselmus Legi, Valentino Pandelaki, dan Perdianus Poida.

Lexie Kalesaran (Manado)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles