spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

BUNDA MARIA, DATANGLAH KE RUMAH KAMI

5/5 - (3 votes)

HIDUPKATOLIK.COM – BULAN Mei telah tiba, bulan yang dalam tradisi Gereja Katolik dirayakan secara khusus sebagai Bulan Maria. Pada bulan penuh rahmat ini, umat Katolik di seluruh dunia mempersembahkan doa, devosi, dan cinta yang tulus kepada Bunda Maria, ibu Yesus, sekaligus ibu kita semua.

Setiap kali memasuki Bulan Maria, hati saya selalu teringat pada sambutan hangat Elisabet kepada Maria saat  menerima kunjungannya:

“Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” (Luk 1:43)

Kalimat ini selalu menyentuh relung terdalam hati saya. Sambutan Elizabet, menggambarkan rasa kagum dan syukur yang begitu murni. Perasaan yang juga saya alami setiap kali mendaraskan Rosario atau berdoa di depan gua Maria. Seolah-olah Bunda sendiri hadir di tengah-tengah kita, menyapa dengan kelembutan yang hanya dimiliki seorang ibu.

Maria Hadir Sepanjang Zaman

Gereja menempatkan Maria sebagai Bunda Allah dan Bunda Gereja. Ia dipilih secara istimewa oleh Allah untuk mengandung dan melahirkan Sang Penebus. Namun peran Maria tidak berhenti di Betlehem atau di bawah salib. Ia terus menyertai perjalanan umat beriman dari zaman ke zaman. Ia hadir dalam doa, dalam keheningan, dalam penyertaan keibuan yang tidak pernah habis.

“Bunda Maria Coming Home”

Di lingkungan kami, Lingkungan St Syrilius, Paroki Alam Sutera, Tangerang, yang mencakup dua cluster, Tesla dan Thomson, perumahan Gading Serpong, Bulan Maria dirayakan dengan cara yang sederhana namun penuh makna: Bunda Maria Coming Home.

Setiap malam selama bulan Mei, patung Bunda Maria berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya. Di setiap persinggahannya, Bunda Maria disambut dengan Rosario bersama, puji-pujian, dalam suasana doa yang hangat. Paling tidak ada dua keluarga bertemu, yang satu menghantar patung Bunda Maria dan yang satunya menerima. Tentu selalu saja ada umat lain yang ikut menghantar dan tentu ikut juga berdoa selama pertemuan hangat tersebut.

Baca Juga:  Ribuan Umat Hadiri Misa Syukur Tahbisan Imam Baru, Pastor Lorensius Novensus

Namun kegiatan ini bukan semata soal memindahkan patung. Ini adalah tentang menghadirkan suasana surgawi di tengah kesibukan rumah tangga. Kami sungguh merasakan bahwa Bunda Maria hadir, membawa damai, penghiburan, dan kekuatan baru di tengah berbagai tantangan hidup.

Banyak keluarga menyambut kehadiran Bunda dengan penuh kasih. Mereka menyiapkan tempat doa kecil dengan taplak putih, lilin menyala, bunga segar, bahkan merapikan ruangan yang lama tak disentuh. Semua itu dilakukan bukan karena keharusan, melainkan karena cinta, cinta kepada ibu yang begitu lembut dan setia.

Kesaksian-kesaksian yang Menyentuh

Seorang ibu di lingkungan kami pernah berkata, “Waktu saya menjemput patung Bunda Maria dari rumah tetangga, rasanya seperti menjemput ibu saya sendiri di terminal.” Ungkapan ini begitu sederhana, namun sangat dalam. Bunda Maria bukanlah sosok yang jauh di altar gereja. Ia adalah ibu yang hadir, yang dirindukan, dan yang disambut dengan penuh cinta.

Baca Juga:  Estafet Perjuangan PMKRI Denpasar: Menuju Organisasi yang Adaptif, Kritis, dan Reflektif di Tengah Tantangan Zaman

Seorang bapak lain bercerita bahwa saat gilirannya menerima patung Bunda Maria, ia baru saja menerima kabar yang tidak menyenangkan tentang pekerjaannya. “Saya duduk diam di depan patung itu. Tak banyak kata keluar. Tapi anehnya, hati saya tenang. Saya merasa tidak sendiri.”

Lalu seorang ibu yang tengah merawat ibunya yang sakit, menyampaikan kesaksian yang sangat menyentuh: “Saya sudah sangat lelah, baik fisik maupun emosi. Tapi saat Bunda Maria datang, seperti ada kekuatan baru yang masuk. Seperti ada yang berkata, ‘Aku tahu kamu lelah. Tapi kamu tidak sendiri.’”

Kesaksian-kesaksian ini menjadi bukti bahwa devosi kepada Bunda Maria bukanlah tradisi kosong, melainkan sumber kekuatan rohani yang nyata.

Perjumpaan yang Menghidupkan

Lebih dari sekadar kegiatan rohani, Bunda Maria Coming Home telah menjadi ruang perjumpaan yang penuh kasih. Saat patung Maria diantar dari satu rumah ke rumah lain, yang dibagikan bukan hanya doa, tetapi juga cerita, senyum, dan dukungan di antara sesama.

Anak-anak pun dilibatkan, menyiapkan lilin, menyusun bunga, serta membaca doa. Mereka belajar mencintai iman sejak dini, bukan hanya dari buku, tapi dari teladan langsung orangtua dan tetangga. Di sinilah Gereja sungguh hadir dan bertumbuh, dalam rumah, dalam keluarga, dalam kebersamaan.

Baca Juga:  Paus Leo: Jika Seseorang Mengkritik Saya karena Mewartakan Injil, Biarlah Ia Melakukannya dengan Jujur

Menghadirkan Gereja di Rumah

Pengalaman ini mengingatkan kita bahwa Gereja bukan hanya bangunan fisik. Gereja hidup di rumah-rumah kita. Iman tumbuh dalam percakapan makan malam, dalam pelukan di tengah lelah, dalam doa yang dipanjatkan di tengah kesunyian malam.

Kehadiran Bunda Maria di rumah kita menjadi undangan untuk menjadikan keluarga sebagai tempat kudus, tempat kasih, pengharapan, dan iman tumbuh setiap hari.

Doa yang Tak Pernah Usai

Kiranya devosi ini tidak berhenti di bulan Mei saja. Biarlah ia tumbuh menjadi kebiasaan hati, kebiasaan membuka pintu bagi Maria, bukan hanya secara fisik, tapi juga secara rohani.

Biarlah kehadirannya menuntun kita semakin dekat kepada Yesus, Putranya. Dalam kesibukan, kegelisahan, atau tantangan hidup, semoga kita senantiasa menemukan damai dalam pelukan ibu yang penuh kasih.

Bunda Maria, datanglah ke rumah kami.
Temani kami dalam setiap langkah.
Bawalah kami selalu kepada Yesus, sumber hidup kami.

Amin.

 Etwin Edi Hapsoro, umat Paroki Santo Laurensius, Alam Sutera,Tangerang Selatan

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles