web page hit counter
Minggu, 11 Januari 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Uskup Palangka Raya, Mgr. A.M. Sutrisnaatmaka MSF: Mengapa Tuhan Dibaptis

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Renungan Minggu, 11 Januari 2026 Pesta Pembaptisan Tuhan. Yes.42:1-4, 6-7; Mzm.29:1a,2,3ac-4,3b,9b-10; Kis.10:34-38; Mat.3:13-17

 PESTA Pembaptisan Tuhan memberikan bahan permenungan yang menarik, a.l, mengapa Tuhan dibaptis? Apa perlunya Yesus dibaptis? Bukankah baptisan itu diperlukan oleh orang yang perlu bertobat, dan dengan baptisan itu dosa yang bersangkutan diampuni. Apakah Yesus perlu bertobat dan mendapatkan pengampunan dosa? Semua itu rasanya tidak diperlukan.

Lalu apa makna Pesta Pembaptisan Tuhan itu?  Pesta Pembaptisan Tuhan merupakan penutup masa Natal, sebab pada hari berikutnya Tahun Liturgi memasuki Masa Biasa. Pesta ini bisa kita kaitkan dengan kelahiran Yesus yang dirayakan pada Natal setiap 25 Desember.

Kelahiran secara manusiawi melalui Rahim Bunda Maria dilengkapi dengan kelahiran secara ilahi yaitu dengan Pembaptisan. Namun tidak mudah dimengerti mengapa Yesus harus dibaptis. Bahkan Yohanes mencegah Dia, katanya: “Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku?” (Mat.3:15) Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Itulah yang  dinyatakan oleh Yesus sendiri: Baptisan itu untuk menggenapkan seluruh kehendak Allah.

Baca Juga:  Paus Leo XIV Mengecam Penggunaan Kekuatan Militer

Apa sebenarnya kehendak Allah itu? Pertanyaan ini tentu merupakan hal yang tidak mudah untuk dijawab. Namun maksud itu selanjutnya dinyatakan juga dalam Pembaptisan Yesus itu. Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” (Mat.3:16-17)

Maka dalam Pembaptisan itu disampaikan  pewahyuan tentang Yesus sebagai Putra Allah. Dalam Pembaptisan itu bukannya Yesus disucikan oleh air, namun justru Yesus menyucikan air itu, sehingga selanjutnya air itu bisa menyucikan seorang katekumen menerima martabat ilahi menjadi putra-putri Allah, karena disatukan dan ikut ambil bagian dalam Baptisan Tuhan Yesus. Dengan lain kata, bertolak pada kenyataan Yesus yang dibaptis, maka Yesuslah yang menyucikan air itu, sehingga di kemudian hari orang yang dibaptis mendapatkan kekudusan dari air yang pernah dimanfaatkan untuk membaptis Yesus.

Baca Juga:  Pesan Paus dalam Misa: Konsistori, Momen bagi Para Kardinal untuk Merenungkan Jalan Gereja

Baptisan kita merupakan baptisan dalam nama Yesus. Dalam baptisan itu, kemanusiaan kita diikusertakan dalam keilahian Kristus. Oleh karenanya kita juga diangkat menjadi putra-putri Allah. Dalam keadaan itulah kita dikuduskan, diampuni segala dosa kita, dengan mengandaikan bahwa kita telah bertobat dari manusia lama menjadi manusia baru. Oleh karena ada janji baptis yang pada intinya: yang dibaptis itu menolak setan dengan segala perbuatan dan tipu muslihatnya.

Sekaligus kita mengucapkan Syahadat para Rasul untuk menegaskan bahwa kepercayaan kita disesuaikan dengan kepercayaan para Rasul. Pada setiap malam Paskah kita dipeciki dengan air suci dan mengulangi janji baptis dan memperbarui iman kita. Maka secara liturgis kita terus diingatkan tentang iman akan Yesus dalam Gereja-Nya yang satu, kudus, katolik, dan apostolik yang berarti iman yang diwariskan oleh para rasul.

Dengan Pesta Pembaptisan Tuhan itulah dan janji baptis kita semakin diteguhkan dan kodrat kita  manusiawi yang sekaligus ilahi semakin dikuatkan. Juga sebelum penerimaan Sakramen Krisma,  para calon diajak untuk mengulangi janji Baptis mereka dan kemudian mengucapkan Syahadat. Barulah sakramen Krisma diberikan.

Baca Juga:  Natal 2025: Berada Menuju Cinta

Pesta Pembaptisan Tuhan mengingatkan setiap orang beriman akan baptisannya sendiri, dan mengajak untuk melaksanakan janji baptis secara konsekuen, khususnya dalam “menolak setan dengan segala perbuatan dan tipu muslihatnya”. Dengan cara ini umat beriman menjadi semakin pantas disebut putra-putri Allah, dan sungguh menghayati imannya dalam kehidupan konkret setiap hari. Seperti Yesus yang pernah digoda setan di padang gurun, dan mengusirnya dengan tegas “enyahlah setan”, kita pun diingatkan oleh Baptisan Tuhan agar mampu bersikap tegas seperti Yesus dalam mengamalkan janji baptis dalam hidup sehari-hari. Marilah merayakan Pesta Pembaptisan Tuhan ini kita mohon agar makin tegas menolak setan dan iman makin dikuatkan.

 Inti janji baptis kita adalah menolak setan dengan segala perbuatan dan tipu muslihatnya.

Sumber: Majalah HIDUP, Edisi No.02 Tahun Ke-80, Minggu, 11 Januari 2026 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles