web page hit counter
Rabu, 28 Januari 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

In Memoriam Pastor Theodorus Yuliono Prasetyo Adi, MSC

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Gereja Katolik kehilangan sosok yang pernah berkarya di Keuskupan Banjarmasin, Kalimantan Selatan; Keuskupan Agung Merauke, Papua Selatan dan Keuskupan Purwokerto, Jawa Tengah. Dia adalah Pastor Theodorus Yuliono Prasetyo Adi, MSC. Ia dipanggil Tuhan pada hari Minggu, 25 Januari 2026, pukul 16.15 WIB di RS Palang Biru Kutoarjo, Purworejo, Jawa Tengah.

Uskup Emeritus Keuskupan Banjarmasin Mgr. Petrus Boddeng Timang adalah salah satu uskup yang merasa kehilangan atas kepergian almarhum.

Uskup menyampaikan sejumlah kesannya terhadap sosok almarhum “Beliau sangat peduli dengan tugasnya sebagai imam MSC, pastor paroki, dan Vikjen. Almarhum sudah menjabat sebagai Vikjen Keuskupan Banjarmasin sejak masa penggembalaan Mgr. F.X. Prajasuta, MSF. Kemudian selama beberapa tahun saya meminta beliau untuk melanjutkan tugas sebagai Vikjen, sampai akhirnya beliau mendapat penugasan baru ke Jawa Tengah.”

Mgr. Petrus Boddeng Timang

Menurut Mgr. Petrus Timang, sebagai Vikjen, Pastor Yuliono sangat mempedulikan para imam, baik yang berkarya di paroki maupun yang tidak berkarya di paroki. “Untuk karya pewartaan Injil di kalangan masyarakat Dayak Meratus, beliau sangat bersemangat memberikan dukungan dalam berbagai wujud. Kepada umat yang mengalami kendala dalam berbagai kebutuhan hidupnya, beliau sangat peduli dan murah hati. Selamat jalan ke Rumah Bapa, Pastor Yuliono. Jejak-jejak karya Pastor di Keuskupan Banjarmasin menjadi berkat bagi banyak orang,” ucap Mgr. Petrus Timang.

Sedangkan Pastor Rekan Paroki Santa Perawan Maria Yang Terkandung Tanpa Noda Kelayan, Banjarmasin, Pastor Ferdinandus Taran, MSC menilai sosok Pastor Yuliono sebagai orang yang murah hati. “Beliau sangat memperhatikan umat dan juga konfraternya. Saya sendiri mengalami bahwa beliau selalu memberikan support meski sekecil apapun bentuknya. Beliau mau membantu karena melihat motivasi seseorang untuk berkembang menjadi lebih baik, bukan membantu karena kasihan.”

Baca Juga:  Sepuluh Diakon Ditahbiskan di Pelembang

Pastor Edi berpendapat sosok almarhum adalah orang yang tegas, terutama mengenai hal-hal yang sesuai dengan Hukum Gereja. Pastor Yuliono mengizinkan kreatifitas, dan lain-lain, namun tidak boleh menggeser prinsip utama ajaran Gereja. Bagi Pastor Edi, pribadi almarhum adalah seorang motivator yang baik.

“Beliau memotivasi kami selaku para imam muda, untuk lebih memberikan diri dalam pelayanan. Pastor Yuliono mendorong kami, bukan hanya dengan kata-kata penyemangat, tetapi kritik yang tajam agar kami berjuang lebih dari hari ke hari,” bebernya.

Salah seorang umat dari Paroki Santa Theresia Pelaihari Christina Vavianurri menilai Pastor Yuliono merupakan bapak bagi umatnya karena merangkul semua kalangan. “Di usianya yang tidak lagi muda—sewaktu manjadi Pastor Paroki di Paroki Pelaihari, meski beliau hanya naik kendaraan roda dua, namun tetap menjalankan tugasnya untuk memberikan pelayanan Misa kepada umat yang rindu akan Tuhan melalui Perjamuan Kudus,” ujar Nurri.

Bagi Nurri, sosok Pastor Yuliono adalah pribadi yang tegas dan agak mudah marah. Ia terkadang merasa bingung dan harus pandai-pandai melihat suasana hati almarhum semasa hidupnya. Ketika itu dirinya masih remaja dan belum terlalu jeli untuk melihat situasi.

“Meski begitu, para misdinar, anak-anak Sekami, maupun KOMKA tidak ada yang takut dengan beliau. Jika beliau mempunyai kue, es krim, dan aneka jenis makanan lainnya, pasti langsung memanggil kami. Beliau meminta kami untuk menghabiskan makanan tersebut. Saat KOMKA sedang mencari dana, kami biasanya membuat masakan rica-rica yang kemudian kami jual sejak pagi dan hingga malam hari. Bila dagangan kami masih banyak yang belum laku, kami biasanya terduduk lemas di teras pastoran. Di saat itulah Pastor Yuliono datang dan membeli semua dagangan kami. Lalu beliau membagi-bagikan kembali masakan itu untuk kami semua. Bila ada kegiatan KOMKA, Pastor Yuliono selalu mendukung dengan nasihat dan dana. Bahkan beberapa anggota KOMKA mendapat bantuan biaya kuliah dari beliau. Banyak hal baik yang tidak bisa diceritakan seluruhnya. Yang pasti, beliau sosok yang tegas dan merangkul semua umatnya,” papar Nurri.

Baca Juga:  Mengapa Harus Mgr. Mandagi? Sebuah Apologia bagi Sang Gembala "Nil Nisi Christum"

Senada dengan Nurri, salah seorang umat dari Paroki Katedral Keluarga Kudus Banjarmasin Albertus Bambang Utoyo melihat figur Pastor Yuliono sebagai imam yang baik, sederhana, bersahaja, mempunyai sifat kebapakan; mengayomi sekaligus menggerakkan.

Selama berkarya di Paroki Katedral Banjarmasin, terdapat sejumlah jejak karya yang sampai hari ini masih dapat kita saksikan, diantaranya pembangunan kanopi di samping bangunan Gereja induk dan gedung pastoran tiga lantai, pembukaan stasi di Perkebunan Sawit PT. Putra Bangun Bersama Julong, Kabupaten Tapin sejak 2012 silam, pembangunan Aula San Dominggo di Komplek DPR Banjarmasin, dan mendorong tersedianya prodiakon/prodiakones pertama kalinya sejak 2016.

Imam kelahiran Muntilan, 18 Juli 1955 ini sejak ditahbiskan sebagai imam dalam Tarekat MSC, menerima perutusan untuk berkarya di Papua, tepatnya di Keuskupan Agung Merauke.

Pada awal panggilannya, almarhum memang tidak pernah membayangkan pada suatu saat akan dikirim ke Papua, meskipun kemudian hal tersebut terjadi, bahkan hampir 22 tahun lamanya.

Baca Juga:  Nuansa Adat dan Semangat Toleransi Warnai Peringatan 150 Pembaptisan Pertama di Gorontalo

Di Keuskupan Agung Merauke, Pastor Yuliono ditempatkan di Paroki Waropko dan Ninati. Waktu itu masih disebut demikian, dan di kemudian hari kedua paroki itu digabung menjadi satu dengan nama Paroki Muyu Utara.

Sebagai imam muda Pastor Yuliono langsung jatuh cinta pada paroki ini, dan mulai menggebrak dengan semangat mengunjungi umat yang tersebar di wilayah ini. Seluruhnya terdiri dari 12 stasi; 6 stasi dapat dijangkau dengan sepeda motor dan sisanya harus ditempuh dengan berjalan kaki.

Selama 13 tahun berkarya di Keuskupan Banjarmasin, Pastor Yuliono dipercaya sebagai Vikaris Jenderal Keuskupan Banjarmasin selama sembilan tahun berturut-turut.

Selain itu, Pastor Yuliono juga pernah berkarya di Paroki Santa Theresia Pelaihari (2005-2009) dan Paroki Katedral Keluarga Kudus Banjarmasin (2010-2017).

Selanjutnya Pastor Yuliono diutus untuk berkarya di Keuskupan Purwokerto selama hampir sepuluh tahun terakhir, hingga akhir hayatnya. Tugas yang pernah diembannya antara lain sebagai Pastor Paroki Santo Yoseph Pekerja Karanganyar, Kebumen.

Jenazah Pastor Yuliono dihantar ke tempat peristirahatannya yang terakhir pada hari Senin, 26 Januari 2026 sekitar pukul 14.00 WIB di Mausoleum, Gua Maria Kaliori, Banyumas, Jawa Tengah.

Misa Requiem pada hari yang sama digelar pukul 10.00 WIB di Gereja Santo Yoseph Pekerja Karanganyar yang dipimpin oleh Vikjen Keuskupan Purwokerto Pastor Sulpicius Parjono. Sebelumnya jenazah disemayamkan di Novisiat MSC “Sananta Sela” Karanganyar.

Dionisius Agus Puguh Santosa (Banjarmasin)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles