web page hit counter
Selasa, 3 Februari 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Merayakan Dasawindu Paroki Kumetiran: “Gereja Wisata” Pun Kian Relevan

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – MALIOBORO adalah nama yang tak pernah sepi dari ingatan. Ikon wisata Yogyakarta ini menjadi pusat denyut kehidupan kota: tempat berbelanja, bersua, dan menikmati aneka jajanan khas Jawa. Rasanya belum lengkap berkunjung ke Daerah Istimewa Yogyakarta tanpa menyusuri hiruk pikuk Malioboro dengan segala daya tariknya.

Namun, Malioboro dan sekitarnya bukan hanya pusat wisata duniawi. Tak jauh dari kawasan yang berimpitan dengan Stasiun Tugu, berdiri sebuah rumah ibadat Katolik yang sarat sejarah: Gereja Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela, Paroki Kumetiran, Yogyakarta, bagian dari Keuskupan Agung Semarang (KAS). Pada Desember 2025 lalu, gereja ini merayakan usia ke-80. Delapan puluh tahun bukan sekadar deretan angka, melainkan sebuah dasawindu perjalanan iman yang penuh dinamika.

Baca Juga:  Ketika Kesejahteraan Umum Direnggut

Momentum ini mengajak umat dan hierarki Paroki Kumetiran untuk menoleh ke belakang sekaligus menatap ke depan. Sudah sejauh mana kehadiran umat Katolik memberi makna bagi Gereja dan masyarakat sekitar? Sejauh mana Gereja dengan pelindung Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela sungguh relevan bagi zaman dan signifikan bagi lingkungan sosialnya?

Sebagai paroki yang berada di jantung kota wisata, Paroki Kumetiran memiliki wajah umat yang beragam. Latar belakang ekonomi dan sosial yang majemuk menjadi tantangan pastoral tersendiri. Arus wisata, mobilitas tinggi, dan kepadatan kawasan menuntut Gereja untuk terus adaptif dan peka membaca tanda-tanda zaman.

Menariknya, pada puncak perayaan 80 tahun yang dihadiri Uskup Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Paroki Kumetiran menegaskan langkah pastoral ke depan. Gereja ingin melanjutkan semangat yang diwariskan Paus Fransiskus dan diteruskan oleh Paus Leo XIV: membangun Gereja yang sinodal, berjalan bersama, dan peduli pada mereka yang dipinggirkan. Gereja yang merangkul kaum miskin, difabel, serta anak-anak dan kaum muda yang mengalami kesepian dan pergulatan kesehatan mental di era digital.

Baca Juga:  Korban Pelecehan Asal Irlandia Bertemu Paus Leo

Di tengah realitas sosial yang kompleks, para pelayan pastoral, pengurus paroki, dan para imam berkomitmen untuk hadir dengan tulus dan tanpa pamrih. Gereja diharapkan memancarkan wajah Allah di dunia yang terus berubah dan kerap terasa tidak baik-baik saja.

Sebagai Gereja di pusat Kota Yogyakarta dan kawasan wisata, visi menjadikan Paroki Kumetiran sebagai “Gereja wisata” pun kian relevan. Ribuan umat Katolik dari berbagai penjuru Nusantara yang berkunjung ke Malioboro membutuhkan ruang doa yang dekat, ramah, dan hidup. Melalui pembenahan dan penataan berkelanjutan, Paroki Kumetiran menegaskan jati dirinya sebagai paguyuban umat beriman—komunitas yang hidup, bertumbuh, dan setia berjalan bersama zaman.

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No.04/Tahun Ke-80, Minggu, 25 Januari 2026

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles