HIDUPKATOLIK.COM – Renungan Minggu, 8 Februari 2026, Hari Minggu Biasa V, Yes. 58:7-10;Mzm.112:4-5, 6-7, 8a, 9; 1Kor.2:1-5; Mat.5:13-16
SALAH satu persoalan klasik yang terjadi dalam semua agama adalah kecenderungan memisahkan peribadatan dari kehidupan. Doa dan karya ditempatkan sebagai dua bidang yang terpisah atau menurut istilah terkini ‘altar tidak ada hubungannya dengan pasar’.
Bentuk nyata dari pemisahan itu tampak dalam sikap dan perilaku yang bermuka dua atau berkepribadian ganda. Di satu sisi dia menjadi penganut agama yang begitu taat dan teliti: sembahyang tiap waktu, rajin mengikuti kegiatan agama kapan dan di mana pun, cermat dengan semua aturan agama dan peribadatan, menjadi petugas ibadat atau anggota pengurus organisasi agama.
Di sisi lain, dia menjadi pelaku kekerasan dalam keluarga, selingkuh, mulutnya jorok dan kotor, mau menang sendiri, pilih kasih; dan di tempat kerja selalu membuat keributan atau pembuat onar, berbuat curang, menjatuhkan atau menfitnah rekan demi kenaikan karirnya, berbohong, main judi, dst.
Namun Tuhan mencela pemisahan hidup iman dan hidup harian. Peribadatan yang sejati dan liturgi yang benar adalah ibadat dan liturgi yang menghasilkan karya kasih, sikap peduli, berbela rasa, dan berkeadilan. Ibadat dan doa harus berbuah dalam perilaku. Penganut agama yang otentik, orang yang benar-benar beriman dan mengikuti Tuhan adalah dia yang iman dan perbuatannya serasi Altar harus bergerak menuju pasar, dengan menjiwai dan menyucikannya, agar pergaulan dan perbuatan yang terjadi di sana berlandaskan sikap saling menghormati hak dan kewajiban serta dijiwai asas keadilan.
Kesatuan hidup iman dan hidup harian, liturgi dan aksi disabdakan oleh Tuhan lewat Nabi Yesaya, “Berpuasa yang Kukehendaki ialah engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman dan melepaskan tali-tali kuk, ….” (Baca Yes. 58:6-7). Dengan kata lain, iman tanpa perbuatan adalah mati (Yak. 2:17,26). Kesatuan iman dengan perbuatan dibenarkan dan disahkan oleh sabda Yesus melalui perumpamaan tentang garam dan cahaya dan terang.
“Kamu adalah garam dunia”. Garam memiliki makna dan fungsi yang penting sekali bagi penduduk Timur Tengah, termasuk orang Yahudi baik secara manusiawi maupun imani. Garam berguna sebagai a) penyedap rasa (Kel.30:35), b) pembersih-penyehat (2Raj.2:21), c) pencegah infeksi (Yeh.14:4), d) pengawet (Im.2:13), e) pengikat pertemanan (2Taw.13:5, bdk. Bil.18:19), f) mencairkan dan menghangatkan serta g) mengungkapan persahabatan dan kebersamaan (tradisi makan garam bersama di Timur Tengah).
Apa makna garam tersebut? Garam menyimbolkan keindahan, kesehatan, kebersihan, kesembuhan, kesetiaan, kekekalan, kebersamaan, kehangatan, persahabatan dan persekutuan. Garam menyatakan kesetiaan atas perjanjian dan kesepakatan. Garam menandakan sifat kekal dan awet persahabatan; garam melambangkan pemurnian dan penyehatan. Garam menandakan daya ubah dan daya ikat.
“Kamu adalah cahaya dunia”. Dalam tradisi agama Yahudi api atau cahaya merupakan a) tanda kehadiran Tuhan yang menuntun, melindungi, menghangatkan, memberi kepastian (Kel. 13:21-22), b) pedoman hidup atau moralitas (Mzm.119:105), c) sifat Tuhan: suci, baik, indah, hidup dan kasih (Mzm.27:1, 56:14, Yes. 9:2); d) Sang Mesias-Emmanuel (Yes.9:1).
Apakah makna menjadi cahaya dunia?
Menjadi cahaya dunia berarti menghadirkan diri sebagai perpanjangan hidup Tuhan, menjadi orang benar, orang baik, orang jujur, orang yang peduli. Murid-murid Yesus tidak boleh menutup diri dan berpusat pada urusan dan kepentingan sendiri, tetapi harus bergerak keluar untuk bergaul dan berkarya bersama orang lain.
Apa arti menjadi garam dan terang dunia? Orang Kristen tidak boleh jadi jago kandang dan tidak cukup hanya berdoa dan pergi ke gereja. Perjumpaan dengan Kristus dalam doa dan sakramen-sakramen harus mengubah hidup pribadi, hidup keluarga dan masyarakat. Kita harus memberikan rasa aman, mendatangkan kehangatan, membawa kepastian, mengusahakan keadilan, damai sejahtera dan sukacita. Dia membangun jembatan, bukan membuat pemisahan.
Dia mengubah yang jelek menjadi baik, yang bermusuhan berjabat tangan, yang menyerah berpengharapan, yang dingin menjadi hangat. Kata-katanya memotivasi dan menginsipirasi, tangannya memberkati, kakinya berjalan menemani.
Seperti kata Paus Leo XIV, orang Kristen tidak mengenal musuh untuk diperangi, tetapi sahabat untuk dikasihi. Menjadi garam dan terang dunia berarti kita hadir sebagai manusia Tuhan, “Alter Christus” – ‘Kristus yang hidup’ di kekinian. Justru karena keunggulan iman dan moralnya, orang Kristen hendaklah menjadi teladan, pedoman dan pemimpin kehidupan. Itulah identitas dan panggilan kita.
Ibadat dan doa harus berbuah dalam perilaku.
Sumber: Majalah HIDUP, Edisi No.6, Terbit Minggu, 8 Februari 2026





