web page hit counter
Rabu, 11 Februari 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

50 Tahun Imamat Kardinal Ignatius Suharyo: Sahabat Kristus

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – DALAM suatu percakapan rekreatif, Romo Kardinal Suharyo pernah menegaskan suatu bagian penting spiritualitasnya kepada saya: “Yah, Anda memang kutahu pengikut Santo Ignatius dari Loyola. Tetapi jangan lupa ya, bahwa akulah yang bernama ‘Ignatius’”. Tepat. Memang Beliau sering melontarkan gurauan, yang sungguh tepat-isinya. Isi spiritualitasnya, yang mendalam adalah bahwa Bapak Uskup ini sungguh merasa dan mengimani, seperti Ignatius, bahwa dilingkupi cinta kasih Sang Putera, yang memandang dirinya “tidak sebagai hamba, melainkan sahabat” (bdk Yoh. 15:15). Maka ia senantiasa meneguhkan sebutan “Ignatius Kardinal Suharyo”.

Kalau memperhatikan banyak homilinya dan ungkapan-ungkapannya dalam media senantiasa dapat kita rasakan adanya “persaudaraan mendalam antara Imam Suharyo sejak ditahbiskan sampai kini dengan Guru Nazaret, yang menyebutnya sebagai Sahabat”. Namun, siapa pun yang mengenal beliau, tidak terlalu lama dalam percakapan akan merasakan adanya spiritualitas persahabatannya dengan Yesus dari Nazaret. Artinya, beliau memang banyak studi dan pernah lama mengajar di Seminari Tinggi, dan sekaligus memberi “pewartaan sabda Yesus” melalui “kuliah Alkitab”, sementara itu, yang amat terhirup dalam pribadi Bapak Uskup Agung Jakarta ini adalah pantulan dari TIUPAN SANG TERBANGKITKAN (Yoh. 20:22): Roh Persahabatan yang memberi Hidup Baru dari Paskah, yaitu “Persahabatan Keyesusan”.

Persahabatan dengan Kristus

Langkah demi langkah Romo Suharyo mengenali persahabatannya dengan Sang Kristus. Keluarganya dari Paroki Sedayu dibagian subur Daerah Istimewa Yogyakarta, berwarna “persahabatan dengan Yesus, anak Maria dan Yusup”. Sejak dini, ia dilingkungi suasana keluarga, yang amat dekat dengan Tuhan Yesus Kristus sebagai Anak Bapa, yang “tidak lagi menyebut para Rasul sebagai hamba-Nya, melainkan sebagai Sahabat” seperti dikenangkan Murid yang dicintai Yesus (Yoh. 15:15).

Kenangan itu dapat dirasakan, kalau pada masa kecil, putera altar ini disiapkan dalam keluarganya, yang akrab dengan “Maria, Ibunya” (Golgotha). Ia amat tersentuh oleh seorang ‘kangmas’, yang menjadi teladan kemesraannya dengan Yesus. Beliau akan menjadi biarawan kontemplatif di Rowoseneng. Romo Suitbertus Ari Sunardi, OCSO, yang kini sudah dipanggil Tuhan, adalah kakak Bapak Kardinal Suharyo. Dari almarhumlah sejak kecil, spiritualitas Romo Kardinal berwarna “menjadi sahabat yang dikasihi Sang Penebus”.

Baca Juga:  Menjadi Guru Katolik yang Bahagia dan Misioner

Itulah sebabnya, mengapa banyak sapaannya mengajak orang menghayati “persahabatan Seri Yesus” itu. Homili, tulisan, pengajarannya, memancarkan Kabar Gembira mengenai Persahabatan dengan Yesus Kristus. Hatinya diwarnai oleh persaudaraan itu. Mungkin juga hal itu digembirakan, oleh kenyataan, bahwa adiknya juga secara mesra menerima berkah khusus itu sebagai Sr. Christina Sri Murni, yang spiritualitasnya dari Persaudaraan para Suster FMM (bersinarkan kasih-sayang Ibu Marianya); sedang adik lain (Sr. Margaretha Sri Marganingsih, PMY) mencerahkan banyak orang yang berdukaderita, karena terdampingi di tengah umat yang menderita pada pancainderanya).

Dalam pada itu kemanakannya Pastor Benedictus Sunar Djoko Pranoto, SDB menyebarkan cinta itu melalui pendidikan : menyiarkan pertumbuhan persaudaraan penuh kasih, melampaui sekadar pengertian ilmu dan disiplin di atas kertas). Dalam suasana kekeluargaan itu, kasih sayang lahir dan batin, manusiawi dan Ilahi dapat memancar kepada banyak warga lain.

Sampai Lubuk Hati Terdalam

Devosi kepada Hati Yesus yang Mahakudus; dengan antara lain bakti khusus setiap Jumat Pertama. Dalam pada itu, persahabatan manusiawi dan Ilahi, sering dipancarkan oleh pewartaan Bapak Kardinal, bila menjelaskan banyak ayat Alkitabiah, yang dialami, sampai ke lubuk hati terdalam.

Dalam pengalaman itu, nampak sekali bahwa di kalangan para murid-muridnya terjadi pasang surut: bahkan Petrus, yang biasanya dipandang sebagai sahabat-dekat Tuhan itu memang sering menonjol dalam ucapan-ucapan beraninya mengenai persahabatan dengan Yesus; namun justru dialah yang pernah dalam saat kritis mengingkari persahabatannya dengan Sang Guru.

Baca Juga:  Refleksi Teologis: Ketika Seorang Anak Kehilangan Harapan — Di Mana Gereja Berdiri

Dengan lukisan itu nampaklah, bahwa persahabatan antara Tuhan dengan murid-murid-Nya dan antara manusia satu sama lain, dapat juga dialami sebagai indah atau menyejukkan; namun dapat pula suram atau bergemuruh penuh guruh. Kontak-hati adalah bagian penting dalam iman Romo Ignatius kepada Yesus, Sang Sahabat.

Perhatian pada yang Menderita

Gema kasih persahabatan Imam, yang sudah setengah abad mengikuti Sang Kristus, itu kelihatan sekali, setiap mengajak umat maupun sekian banyak rakyat Jakarta, membagikan pengalaman dan pemaknaan persahabatan Yesus dengan manusia, maupun antara manusia satu sama lain dengan pelbagai mawar dan durinya.

Maksudnya, ia sering membantu dan mendoakan untuk melihat dengan tulus, persahabatan manusia dengan Tuhan dan dengan sesama. Keuskupan Agung Jakarta sering kali mengajak umatnya untuk memberi perhatian kepada orang yang menderita. Ia misalnya pernah menyebut persahabatan Yesus dengan Petrus, yang pernah bersalah, dilengkapi melalui Yoh. 21:15-19, ketika Ia mempercayakan domba-domba-Nya kepada pelayanan Petrus. Dalam kehidupan menggereja, pasang surutnya persahabatan itu dialami oleh sayap-sayap Gereja: tua-muda, aneka budaya, pelbagai lapisan pelayanan, bahkan pada titik kritis dalam masyarakat, sewperti di masa sekarang.

Gerakan Ekologi

Pada tahun 2026, Bapak Uskup Agung Jakarta, mengajak seluruh umatnya, agar tidak membatasi cinta kasih, yang dikaruniakan Tirtunggal pada dunia dalam lima benua ini. Umat dan semua rekan sebangsa manusia diajak untuk memadukan PERSAUDARAAN lahir-batin sampai ke RUMAH SEMESTA : menjadi Gerakan Ekologi yang meluas ke segala ciptaan.

Umat diajak untuk mempercayakan ziarah persahabatan kepada  Roh Cinta Kasih, dengan pengantaraan Sang Putera menuju Bapa, dengan mendoakan dalam UJUD-DOA-HARIAN: agar semua menjadi bagian dari ekologi yang suci. Ia berharap, bahwa semua orang beriman, dalam perpaduan persaudaraan dengan seluruh alam semesta: menjadi bagian dari seluruh Rencana Kasih Sayang Ilahi. Sebab perlulah bahwa Kej. 1:2 benar-benar dimasukkan ke dalam lubuk hati yang terdalam: ya, karena mengimani, bahwa Ruach Allah sejak awal mula, sebelum adanya perselisihan antar keluarga manusiawi benar-benar menyambut anugerah Allah, tanpa sela sedikit pun. Sebab belaskasih Allah memenuhi umat, seperti Roh memenuhi hidup Bunda Maria, demi terselamatkannya segala ciptaan.

Baca Juga:  Memperkuat Gerakan Ekologi, ECO CAMP Ada di Dalamnya

Mensyukuri 50 Tahun Imamat

Uskup Agung Jakarta, mengajak semuanya saja, mensyukuri Imamatnya. 50 tahun adalah masa yang dianugerahkan kepada  seluruh rekan. Oleh sebab itu, Imamat ingin  disambutnya sebagai pengutusan-missio: seperti Sang Putera, yang tapak demi tapak dapat menjernihkan pelbagai hal yang sering membuat samar-samar dalam pergaulan, menjadikan persaudaraan kadang tersuramkan oleh perebutan kursi atau pelbagai kenikmatan duniawi, mengganggu “jalan bersama antara sekian spiritualitas, keyakinan, keimanan, alur ideologis maupun kepentingan materiil.

Harapan Bapak Uskup Agung Jakarta ingin dipersembahkan kepada Sang Sahabat, yang diimaninya secara lahir dan batin, dipelajarinya secara ilmu dan diyakininya karena studi serta ditekuninya sebagai sarana bakti kepada siapa pun juga.

Baiklah kita mengingat sambutan Romo Ignatius Kardinal Suharyo: agar kita terpadu sesaudara, tersatukan dalam seluruh “oikos” dari Yang Ilahi, sehingga segalanya dilingkupi BERKAH DAN ANUGERAH. Itulah yang rupanya didoakan Bapak Uskup Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo dalam mensyukuri karunia menjadi imam sejak 50 tahun yang lalu.

Semoga kita diperkenankan untuk ikut setia sampai ke lubuk hati terdalam menjadi Sahabat Yesus. Begitulah ucapan selamat kita semua dalam Pesta Peringatan 50 tahun Tahbisan Imamat Romo Ignatius Kardinal Suharyo.

Pastor B.S. Mardiatmadja, SJ, Guru Besar Emeritus STF Driyarkara, Jakarta

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles