HIDUPKATOLIK.COM – Komisi Liturgi Keuskupan Atambua menggelar seminar sehari bertajuk Menghidupi Spirit Desiderio Desideravi di Aula Dominikus, Emaus Nela, Atambua, Sabtu, 14/2/2026. Seminar yang berlangsung secara hybrid ini menghadirkan narasumber Pastor Fransiskus Sengga, Sekretaris Eksekutif Komisi Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia dengan moderator Frederikus Binsasi.
Ketua Komisi Liturgi Keuskupan Atambua, Pastor Philipus Benitius Metom mmenegaskan pentingnya kesadaran bersama untuk terus membenahi kualitas perayaan liturgi baik yang dirayakan dalam keluarga-keluarga, komunitas basis gerejawi, maupun di gereja-gereja paroki dan kapela-kapela biara.

Seminar ini menjadi ruang pendalaman dan implementasi Surat Apostolik Desiderio Desideravi yang diterbitkan oleh Paus Fransiskus pada 29 Juni 2022.
Dalam paparannya, Pastor Fransiskus Sengga menekankan bahwa Desiderio Desideravi bukan sekadar teks normatif, melainkan undangan rohani untuk memperdalam pemahaman dan pengalaman akan misteri Ekaristi.
Menurutnya, semangat dokumen itu harus dihidupi sebagai Lex Credendi, Lex Orandi, dan Lex Vivendi—hukum iman, hukum doa, dan hukum hidup. Apa yang diimani Gereja mesti terwujud dalam doa yang benar, dan dari doa yang benar lahir cara hidup yang setia pada misteri Kristus. Liturgi, tegasnya, bukan ruang ekspresi pribadi, melainkan perjumpaan Gereja dengan Tuhan yang dirayakan dalam kesatuan Tubuh Kristus.
Kegiatan ini terselenggara berkat kolaborasi antara Puspas Keuskupan Atambua dan STP Santo Petrus Keuskupan Atambua. Kolaborasi tersebut menunjukkan komitmen bersama dalam membangun kualitas formasi liturgi yang lebih mendalam, reflektif, dan kontekstual.
Pada bagian penutup, Pastor Philipus Benitius Metom menyatakan komitmennya untuk mendengarkan seluruh masukan yang berkembang dalam seminar serta merancang program-program konkret guna menjawab kebutuhan liturgis umat, kendati disadari masih terdapat berbagai keterbatasan.
Melalui seminar ini, Komisi Liturgi Keuskupan Atambua berharap spirit Desiderio Desideravi tidak berhenti pada tataran diskusi, melainkan sungguh menjadi napas dalam setiap perayaan.
Perayaan liturgi adalah jiwa Gereja, karena itu harus dirayakan secara baik (bonum), benar (verum), indah (pulchrum), berbuah (fructus), dan ilahi (divinum), sehingga umat semakin disadarkan akan keindahan dan kedalaman misteri yang dirayakan.
Laporan: Pastor Yudel Neto (Atambua, NTT)





