Di Balik Kisah Kiai Dewadaru, Kiai Janadaru, Pohon Tarbantin, dan Kita

608
5/5 - (2 votes)

HIDUPKATOLIK.COM – EDISI kangen traveling membuat saya membuka-buka kembali diari “catatan perjalananku”. Di antara sekian banyak tempat yang pernah disinggahi, ternyata ada satu kota di mana saya menyandang predikat solo traveler. Kok, bisa saya jalan sendirian …… Biasanya saya liburan bareng keluarga atau teman-teman. Tetapi jika melihat hanya ada 1 hari catatan perjalanan saja, kemungkinan saya hanya mampir sehabis melakukan perjalanan dinas di kota lain. Singgahnya saya di Yogyakarta tampaknya  didorong oleh rasa penasaran tentang cerita mistik di balik mitos “pohon beringin di Keraton Yogyakarta”.

Konon kabarnya pohon beringin ini memiliki posisi istimewa bagi Kesultanan Yogyakarta dan dianggap sebagai tanaman kerajaan.  Bahkan di tengah alun-alun ada sepasang pohon yang diberi nama Kiai Dewadaru dan Kiai Janadaru. Uda kaya orang aja dikasih nama, tetapi itulah yang dikatakan oleh pemandu wisata saat itu dan sempat membuat saya terheran-heran dengan pemberian nama pada sebuah pohon.

Tetapi ternyata saya baru tahu belakangan dari website https://www.kratonjogja.id bahwa ada filosofi di balik nama dan posisi peletakan beringin kembar tersebut. Kiai Dewadaru memiliki arti cahaya ketuhanan dan Kiai Janadaru berarti cahaya kemanusiaan. Keseimbangan dan keserasian hubungan di antara keduanya merupakan konsep Manunggaling Kawula Gusti, yaitu persatuan antara raja dan rakyat serta kedekatan hubungan antara manusia dan Tuhan.

Saya jadi teringat pelajaran Pendidikan Moral Pancasila jaman saya SD. Gambar pohon beringin ini dijadikan sebagai lambang sila ketiga Pancasila. Pohon beringin yang sejak kecil hanya dilihat di gambar Pancasila, baru saya lihat wujud aslinya di alun-alun Yogjakarta ini. Minta ampun kaget dan terpesonanya saya, melihat ukuran asli pohon simbol persatuan ini dari dekat, guedee banget dan tinggi kokoh menjulang. Akarnya banyak dan kuat, batang akarnya menancap dalam ke tanah dan mencengkeram erat bumi.

Saya ngebayangin itu dahan-dahannya bisa dipakai buat orang gelantungan atau sekadar selonjoran di bawah pohon, duduk di atas batang-batang akar yang menyembul dari bumi, pasti adem dan aman rasanya, terlindungi dari teriknya matahari. Angin sepoi-sepoi mengerakan daun-daunnya yang kecil-kecil namun rimbun, bisa ketiduran rasanya  berlama-lama dibawah pohon keramat ini.

Sayang cuma bisa berimajinasi saja karena kiai dewadaru dan kiai janadaru dikelilingin pagar putih. Kata pemandu memang si kembar sengaja dilindungi, dari tangan-tangan jahil yang tidak mengerti makna keberadaannya, karena pohon beringin ini sangat keramat bagi masyarakat Jogja. Mereka menyebutnya pohon hayat, pohon yang memberikan kehidupan pada manusia, pengayom dan pelindung.

Umur kedua ‘kiai’ ini uda banyak banget, katanya mencapai 3 digit, orangtua saya saja belum lahir, uda ada ini pohon, mungkin seumur kakek buyut saya jika masih hidup. Saya termangu mangu dan berusaha memahami dan memaknai penjelasan sang pemandu tentang sepasang pohon keramat ini, sampai-sampai “kiai’ ini terbayang terus dalam ingatan saya, seolah-olah minta digambarkan menjadi bagian dari cerita diari “catatan perjalananku” di bawah ini.

Saat bernostalgia dengan diari “catatan perjalananku”, coretan gambar pohon kerajaan ini mengingatkan saya akan pohon yang kerap kali dikisahkan dalam Kitab Suci yaitu pohon tarbantin. saya bertanya-tanya dalam hati apakah mungkin ini pohon yang sama spesiesnya dengan beringin?

Saya kurang paham dengan jenis pohon-pohonan, tetapi gambaran yang dituliskan di Kitab Suci tentang pohon tarbantin tampaknya mirip dengan pohon beringin.

Dikisahkan sebagai pohon yang sangat besar, tinggi menjulang dan kokoh, sampai-sampai membuat kepala Absalom tersangkut pada dahan pohon dan tergantung antara langit dan bumi. Dahannya saja dapat menopang berat tubuh Absalom, tentunya pohon ini memiliki batang yang kokoh dan akar yang kuat. Tidak heran dalam Perjanjian Lama seringkali pohon tarbantin dijadikan ‘land mark’ pembatas suatu wilayah, terkadang menjadi ‘meeting point’ di bawah pohon, bahkan malaikat Tuhan nyantai duduk-duduk juga di bawah pohon tarbantin ini, segitu bermaknanya pohon ini digambarkan dalam Kitab Suci.

Tetapi yang paling menarik perhatian saya tentang pohon tarbantin adalah apa yang dikatakan oleh Yesaya bahwa Roh Allah mengutusnya agar mereka (umat Sion) menjadi seperti pohon tarbantin kebenaran, tanaman TUHAN.

Jika pohon beringin adalah tanaman Kerajaan Yogyakarta, maka manusia yang hidup dalam kebenaran, adalah tanaman kerajaan Allah, yang siap diutus untuk memperlihatkan keagungan Tuhan.

Luar biasa Yesaya mengambarkan suatu tugas perutusan, rasanya kok berat ya mengemban tugas untuk memperlihatkan keagungan Tuhan yang kasat mata…. apalagi di tengah situasi kaya begini … sudah kasat mata jasmani dan rohani rasanya, Tuhan ada di mana? Ngebayanginnya saja enggak sanggup, entah dari mana harus memulainya ….

Mungkin perlu dimulai dari membayangkan seperti apa sifat dan karakter pohon tarbantin, yang dikatakan Yesaya sebagai tanaman Tuhan.

Bagaimana si tarbantin ini dapat tumbuh besar dan menjulang tinggi dengan kokoh, di daerah Timur Tengah pula yang konon kabarnya adalah gurun pasir.  Menurut penelitian ahli-ahli plantologi, tarbantin mempunyai akar yang dapat menembus hingga kedalaman 40 sampai dengan 60an meter, untuk mencari sumber mata air murni bagi pertumbuhannya. Jika bukan pekerjaan Sang Pencipta mungkinkah dia bisa tumbuh sebesar dan sekokoh itu? Akar-akar yang mendapat asupan dari sumber air yang murni inilah yang membuatnya menjadi kuat dan kokoh sehingga tumbuh tinggi menjulang.

Berarti kita manusia yang disebut tanaman Tuhan pun harus memiliki akar yang kuat dan mampu menembus jauh banget ke kedalaman nurani untuk mencari sumber “air murni” yang berasal dari Allah sendiri, agar terus bertumbuh, sehingga dimampukan untuk memperlihatkan keagungan Tuhan.

Yesaya melukiskan sifat dan keunggulan rohani dirinya sebagai seorang  yang diutus oleh Roh yaitu pemberita kabar baik kepada orang sengsara ;  pembebasan tawanan ; pemulihan dan perawatan yang remuk redam serta menghibur yang berduka.  Hal ini pun dikonfirmasi oleh Yesus, di awal memulai pelayanan-Nya.

Seperti pohon tarbantin yang seringkali menjadi tempat peristirahatan dan berteduh bagi orang-orang yang merasa kelelahan atau kepanasan di padang gurun. Kita pun  perlu memiliki spirit dan karakter yang sama dalam perutusan di dunia yang sedang tidak terprediksi saat ini.

St. Theresia dari Calcutta, India mengatakan di mana pun Tuhan menempatkanmu, itu adalah ladangmu, bukan tentang apa yang kamu lakukan tetapi seberapa besar cinta yang diletakkan di dalamnya.

Dunia boleh tidak menentu dan mengalami saat ini, tetapi di mana pun Tuhan menempatkan, kita harus tetap berdiri tegak, paling tidak memberi secercah harapan dalam kondisi yang tak menentu ini. Kita perlu selalu mendekat dengan sang sumber mata air murni, agar dimampukan memberi kehidupan, mengayomi, dan melindungi orang-orang terdekat yang dititipkan Tuhan. Karena kita adalah Tanaman Tuhan.

Felicia Fenny S, Kontributor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here