HIDUPKATOLIK.COM – SEKITAR tujuh juta jiwa umat Katolik hidup dan bertumbuh di Vietnam saat ini. Jumlah tersebut kurang lebih setara dengan tujuh persen dari total penduduk Vietnam yang mencapai lebih dari seratus juta jiwa. Negeri yang kerap dijuluki Negeri Naga Biru ini memiliki 27 keuskupan dengan 2.328 paroki. Pelayanan pastoral bagi jutaan umat tersebut dijalankan oleh sekitar enam ribu imam dari berbagai ordo dan tarekat, serta didukung oleh kurang lebih 31 ribu biarawan-biarawati yang berkarya di seluruh penjuru negeri.
Vietnam merupakan negara yang mayoritas penduduknya tidak memeluk agama tertentu atau bersikap ateis. Dengan ideologi negara yang berlandaskan komunis-sosialis—dan dikenal pula sebagai salah satu produsen kopi terbesar di dunia setelah Brasil—kehadiran dan perkembangan Gereja Katolik tentu bukan tanpa tantangan. Benih iman Katolik pertama kali ditaburkan di Vietnam oleh para misionaris Serikat Jesus (Jesuit) pada awal abad ke-16. Sejak saat itu, perjalanan Gereja di negeri ini diwarnai oleh perjuangan panjang, termasuk tumpahnya darah para martir yang menjadi saksi iman agar Injil dapat bertumbuh dan berbuah.
Hingga kini, aktivitas pastoral Gereja Katolik masih berada dalam pengawasan aparat keamanan negara. Tidak jarang komunitas religius atau biara-biara didatangi aparat kepolisian. Kendati demikian, pemerintah Vietnam tidak melarang pelaksanaan ibadat keagamaan. Secara perlahan, pemerintah kian menerima. Gereja bukan musuh. Misa Mingguan maupun Misa Harian tetap berjalan secara terbuka, meski dalam kerangka kontrol negara.
Di tengah dinamika tersebut, Ordo Kapusin Provinsi Medan (OFM Cap) menjadi salah satu tarekat dari Indonesia yang berani merentangkan sayap pelayanannya ke Vietnam. Sejak tahun 2009, Kapusin Medan mulai mengutus beberapa anggotanya untuk mengawali karya misi di sana. Kehadiran Kapusin ternyata menarik perhatian banyak orang muda Vietnam yang tertarik bergabung. Para calon tersebut kemudian dikirim ke Indonesia, khususnya ke Keuskupan Agung Medan, tepatnya Parapat dan Pematangsiantar. Masa novisiat dijalani di Parapat, sementara pendidikan filsafat dan teologi ditempuh di Pematangsiantar.
Buah dari karya misi ini mulai tampak nyata. Pada 24 Januari 2026, seorang putra asli Vietnam — Pastor Paulus Ta Trong Tri, OFM Cap — ditahbiskan menjadi imam di Gereja Santo Fransiskus Asisi, Brastagi, Tanah Karo. Jejak langkahnya kini diikuti oleh sejumlah frater muda Vietnam yang sedang menempuh pendidikan. Bahkan, dalam waktu dekat, dua diakon asal Vietnam dijadwalkan akan menerima tahbisan imamat.
Tantangan misi di Vietnam memang tidak ringan—mulai dari bahasa yang sulit, kedekatan masyarakat dengan alam, pola hdup/berkaitan dengan pola makan hingga penghormatan yang kuat terhadap leluhur. Namun, keberhasilan misi Kapusin di Vietnam terletak pada kesaksian hidup para misionaris: pelayanan yang tulus, persaudaraan yang sejati, keselarasan antara kata dan perbuatan, serta karya kasih yang nyata. Dari sanalah Injil terus menemukan jalannya di tanah Vietnam.
Sumber: Majalah HIDUP, Edisi No. 08, Minggu, 22 Februari 2026










