spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Leontin

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – KAU dan aku tengah menanti senja lengser di sebuah restoran tak jauh dari bibir pantai, di utara kota Jakarta. Sesaat lagi, bola mentari berwarna jingga bakal tersungkur di kaki langit. Pesona alam itu memukauku, namun senantiasa terabaikan akibat kesibukan yang memerangkapku. Sementara aku menatap keelokan semesta, kau bertutur dengan sarat semangat. Kalimat demi kalimat berlompatan riang dari mulutmu. Kau urai rangkaian pengalamanmu yang menakjubkan.

“Maria, sekarang pintu rezekiku terbuka lebar,” katamu separuh pamer.

“Wow tajir melintir ya kamu sekarang,” balasku tak menyembunyikan kagum.

“Seperti sihir, semua yang dulu hanya mimpi, sekarang sungguh-sungguh kumiliki,” lanjutmu berapi-api.

Sembari mencermati penampilanmu, sejenak kutermangu. Setelah nyaris dua tahun tak jumpa, aku sungguh terperangah mendapati metamorfosis dirimu. Penampilanmu amboi! Parasmu yang ayu kian mengait pesona. Kulitmu bening, kinclong. Penampilan itu masih didukung oleh barang-barang bermerek yang kau kenakan; tas, sepatu. perhiasan bermanik berlian. Kau juga mengendarai sedan berkelas terkini.

“Dari mana semua ini kau peroleh, Liana?” cecarku penasaran.

“Dari sini,” ungkapmu seraya menunjukkan leontin yang bertengger di lehermu yang jenjang. Ukurannya agak besar, bentuknya unik.

“Awalnya, aku juga tidak yakin, apa mungkin hanya mengenakan leontin pemburu rezeki ini, ekonomi keluargaku yang kocar-kacir bakal memulih,” lanjutmu dengan mimik ceria. Sementara aku tercengang, celotehmu terus mengalir bagai tak bermuara. “Tiba-tiba saja, bisnisku lancar. Apa saja yang kulakukan, bisa meraup uang.”

“Bagaimana mungkin hanya dengan mengenakan leontin, kau bisa jadi kaya-raya?” tanyaku dikepung keheranan.

“Lha ini buktinya!” katamu sembari memainkan gelang keroncong gemerlapan di tangan kirimu.

Baca Juga:  Seribu Nasi Bungkus Bukti Nyata Solidaritas dan Kasih

“Kau tidak berminat memakai leontin seperti ini, Maria?” Pertanyaan tak terduga itu bagai menohok ulu hatiku.

“Memang kau mendapat barang itu dari mana?” tanyaku masih diselimuti penasaran.

“Ada pemasoknya. Kalau kau berminat, kuberi nomor kontaknya,” ujarmu berpromosi.

Aku hanya melepas seulas senyum atas tawaran yang menggiurkan itu. Aku memahami benar, bagaimana dulu kesulitan demi kesulitan melingkupi keseharianmu. Seakan kau tak pernah beranjak dari persoalan rupiah. Hutang menjeratmu, bahkan mencekikmu. Batinmu babak-belur dihantam oleh kemiskinan.

***

Sebelumnya, hidupmu adalah soal kemiskinan. Kau terbiasa mengikuti gelombang perolehan suamimu, yang mencari rezeki sebagai pedagang tahu tempe di sebuah pasar tradisional. Laba yang ia bawa pulang ke rumah tak pernah berlebih. Sementara harga-harga kebutuhan keluarga terus melesat, sulit dijangkau.

Demikianlah, kemiskinan laksana lingkaran setan yang mencengkerammu. Kau terentang jauh dari kapabilitas dan aksesibilitas terhadap pihak-pihak yang memungkinkanmu untuk hidup nyaman.

“Maria, boleh aku pinjam uangmu. Sudah dua bulan aku nunggak uang sekolah anakku,” pintamu melalui teks WhatsApp, suatu hari.

Tak sekali itu, kau meminjam uangku.

“Maria, maaf aku belum bisa bayar hutang,” tulismu via WA di lain waktu, sembari merenteng sederet alasan.

Aku sadar, meminjamimu uang berarti harus berlapang dada untuk tidak dilunasi. Kalaupun ada rezeki datang, tidaklah mungkin kau mengedepankan urusan hutang. Pasalnya, kebutuhan-kebutuhan lain sudah keburu berbaris untuk dipenuhi.

Ketika sebagian orang dengan mudah bisa mengeruk bahkan mengangkangi harta, kau dan suamimu tersuruk-suruk mengais-ngais serpihan rezeki. Tatkala sebagian orang menimbun harta, mengumbar kerakusan atas nama uang, kau dan suamimu kerap didera kebingungan untuk memenuhi kebutuhan dasariah. Pada akhirnya, kau terpaksa menebalkan muka mencari pinjaman ke sana kemari. Alhasil, hutangmu menggunduk. “Aku tak tahu lagi bagaimana harus melunasinya, termasuk hutang padamu,” ucapmu menumpahkan keluh.

Baca Juga:  Indahnya Momen Puasa dan Berbuka Bersama

“Lain waktu saja kalau kau punya rezeki lebih,” saranku.

“Orang lain ‘kan juga ingin uangnya kembali,” tukasmu dengan paras nelangsa.

Suatu hari, ketika benakmu buntu, tak tahu lagi bagaimana cara melunasi banyak pinjaman, kau menghibur diri di  mal. “Sekadar cuci mata,” dalihmu. Sekian waktu kau termangu di pojok food court.  Tiba-tiba, seorang perempuan paruh baya membuka perbincangan, lantas memelantingkan kesadaranmu dari lamunan kelabu.

“Sepertinya Adik sedang bete banget ya,” sapanya ramah.

“Ah, Mbak bisa saja,” kilahmu tersipu.

Sejurus berselang, lahar katarsis jebol dari mulutmu. Kau tak segan mengemukakan kondisimu yang harus berjibaku demi bertahan hidup.

“Dulu, saya juga seperti Adik, selalu kekurangan dan banyak hutang,” beber perempuan itu.

Pada momen itulah kau bagai terbius mendengar penuturan tentang leontin bertuah, si pemburu rezeki. Antara percaya dan tidak, kau sontak tertarik ingin memilikinya. Akalmu tersesat di belantara imaji. Kemiskinan kerap memedihkan; banyak keinginan hanya serupa harapan kosong. “Saya sudah capek miskin,” katamu terus terang.

Itulah jalan yang kau pilih, tanpa perlu saran dari kiri dan kanan. Itulah saatnya kau meretas rantai kemiskinan yang membelenggu sekian waktu.

***

Hingga duka menghardikmu. Suamimu menghembuskan napas terakhir.

“Mas Yok tidak sakit,” tuturmu dengan suara tercekat tatkala aku melayat di kediamanmu yang baru usai direnovasi.

Lekas kutepis wasangka yang terbit di hati, manakala selumbar curiga menelusuk dadaku karena ibumu baru berpulang sebulan sebelumnya. “Tanpa sakit. Sepertinya serangan jantung,” katamu waktu itu. Syukurlah, suamimu berpulang tatkala pilar nafkah keluargamu telah terpancang kokoh. Duka yang memberingas tidak membuatmu tumbang. Bisnismu keburu berkibar.

Baca Juga:  Sekolah Tarakanita 3 Gelar Aksi ”Pengolahan Sampah Jadi Berkah”, Wujud Nyata Pertobatan Ekologis APP 2026

“Untunglah, si sulung sudah diajari bisnis oleh ayahnya,” katamu di tengah perkabungan.

Bayangan masa lalumu sejenak mengitari cakram otakku. Betapa hidup bisa begitu berubah; dari sekadar berdagang kecil-kecilan dengan keuntungan receh hingga menjadi pengusaha yang menjala laba tak terkira!

Lantas, kehidupan bergulir normal. Naik turun seirama waktu. Tak kudengar keluh terluncur dari mulutmu setelah kau menjanda. Kehidupan yang mapan selayaknya membuat keseharianmu aman. Kalaupun ada riak-riak persoalan, mudah bagimu untuk mengatasinya. Sepeninggal suamimu, kau tak perlu berkubang dalam senyap. Jika kocek penuh, tentu lebih mudah mengisi waktu dengan kesenangan. Teman-teman bakal mengerubungimu. Leontin itu seakan sanggup menjawab segala keperluanmu.

Hingga pada suatu siang yang gerah, aku terhenyak mendengar kabar yang menukik di gendang telingaku; kau menyusul mendiang ibu dan suamimu ke alam baka. “Secepat itukah?” gugatku tak percaya. Kutahu, kau tidak menderita penyakit degeneratif apa pun. Ketika melayat suamimu, kau tampak bugar dan ayu kendatipun tengah digulung sungkawa.

Terburu-buru kudatangi kediamanmu. Kutatap jasadmu nan bergeming kaku.

“Liana, mengapa secepat ini kau pergi?” ratapku terisak. Duka dan pedih berpadu di hatiku.

Kepergian Liana yang mendadak, mengokang sederet tanya di benakku.

“Untuk apa jadi kaya-raya, Liana?”

Oleh Maria Etty

Sumber: Majalah HIDUP, Edisi No.11, Minggu 15 Maret 2026

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles