HIDUPKATOLIK.COM – “Kesetiaan bukan lahir dari hidup yang mudah, tetapi dari hati yang terus belajar menemukan Tuhan di tengah badai.”
Ada orang-orang yang dipanggil Tuhan melalui keheningan biara, ada pula yang dipanggil melalui luka kehidupan. Ada yang menemukan jalan panggilan lewat kenyamanan hidup, tetapi tidak sedikit yang justru menemukan wajah Allah di tengah kehilangan, perpindahan, keterasingan, dan perjuangan bertahan hidup. Dalam sejarah Gereja, panggilan-panggilan besar hampir selalu lahir dari pergulatan manusiawi yang nyata. Musa dibentuk di padang gurun, Yusuf dijual saudara-saudaranya, Yeremia dipanggil di tengah ketakutan, Petrus mengenal Kristus melalui kegagalannya, dan Yesus sendiri memulai karya keselamatan dari keluarga sederhana di Nazaret.
Karena itu, dua puluh lima tahun hidup membiara Frater Nisensius Mety CMM bukan sekadar perayaan panjangnya waktu pengabdian religius. Pesta Perak ini adalah perayaan tentang rahmat yang bekerja diam-diam dalam sejarah hidup manusia biasa. Ia adalah kisah tentang bagaimana Tuhan menumbuhkan kesetiaan dari tanah yang keras, membangun harapan dari keluarga sederhana, dan memelihara panggilan di tengah badai kehidupan.
Perjalanan Frater Nisensius Mety tidak dapat dilepaskan dari akar budaya dan sejarah keluarganya. Ia lahir dari rahim masyarakat Timor yang kuat memegang solidaritas, kekeluargaan, ketahanan hidup, dan iman sederhana. Dari perpaduan Kotafoun–Nailera, Belu Selatan dan Belu Utara, Lorokida dan Covalima, tumbuh sebuah identitas yang ditempa bukan oleh kemewahan, tetapi oleh perjuangan hidup sehari-hari. Dalam kultur Timor, manusia dibentuk oleh kebersamaan, kerja keras, penghormatan kepada keluarga, dan kemampuan bertahan dalam keterbatasan. Nilai-nilai inilah yang perlahan menjadi fondasi spiritual dan kemanusiaan Frater Nisen.
Namun hidup keluarga mereka juga tidak berjalan mudah. Tahun 1985 menjadi salah satu titik luka terdalam dalam sejarah keluarga ketika ibunda tercinta meninggal dunia. Saat itu anak-anak masih kecil. Kehilangan seorang ibu pada usia dini bukan sekadar kehilangan figur pengasuh, tetapi kehilangan pelukan, rasa aman, dan pusat emosional keluarga. Setelah kepergian sang ibu, kehidupan keluarga berubah menjadi perjalanan panjang penuh ketidakpastian. Mereka hidup berpindah-pindah dalam keluarga besar pihak ibu, menghadapi situasi sulit, keterbatasan ekonomi, dan kerasnya perjuangan hidup.
Dalam perspektif psikologi perkembangan, kehilangan orang tua pada masa kanak-kanak sering meninggalkan luka batin yang mendalam dan dapat memengaruhi rasa aman emosional seseorang (Bowlby, Attachment and Loss, 1980). Namun di sisi lain, penderitaan juga dapat membentuk resiliensi ketika manusia menemukan makna dan dukungan spiritual dalam hidupnya. Viktor Frankl dalam Man’s Search for Meaning (1946/2006) mengatakan bahwa manusia mampu bertahan melewati penderitaan ketika ia menemukan makna yang lebih besar daripada penderitaan itu sendiri. Dalam konteks keluarga kami, makna itu ditemukan dalam iman kepada Tuhan, solidaritas keluarga besar, dan keyakinan bahwa hidup harus terus diperjuangkan.
Masa-masa sulit itu tidak menghancurkan keluarga ini. Sebaliknya, dari pengalaman kehilangan dan keterbatasan justru tumbuh ketangguhan hidup yang luar biasa. Mereka belajar bertahan bukan karena hidup mudah, tetapi karena percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka. Dalam situasi berpindah-pindah dan penuh keterbatasan itu, doa tetap menjadi nafas keluarga. Kesederhanaan hidup tidak mematikan harapan. Justru di tengah kerapuhan itulah iman diuji dan dimurnikan.
Pengalaman ini menjadi penting untuk memahami perjalanan panggilan Frater Nisensius. Panggilan religiusnya tidak lahir dari romantisme kesalehan yang steril dari penderitaan. Ia tumbuh dari pengalaman hidup yang nyata: kehilangan ibu, pergulatan ekonomi keluarga, kehidupan nomaden dalam keluarga besar, dan perjuangan untuk tetap bertahan. Dalam terang iman Kristiani, pengalaman luka sering kali menjadi tempat Allah bekerja secara paling mendalam. Henri J.M. Nouwen dalam The Wounded Healer (1972) menegaskan bahwa pelayan sejati justru lahir dari pengalaman terluka yang diolah menjadi sumber empati dan kasih bagi sesama.
Panggilan yang Bertumbuh dari Luka Kehidupan
Panggilan religius jarang hadir sebagai peristiwa spektakuler. Dalam banyak kasus, panggilan bertumbuh perlahan seperti benih kecil yang diam-diam berakar dalam pengalaman hidup sehari-hari. Demikian pula jalan hidup Frater Nisensius Mety. Ia tidak tiba-tiba jatuh dari langit sebagai “orang suci”, melainkan tumbuh dari keluarga sederhana yang belajar bertahan hidup dengan iman.
Dalam keluarga Timor tradisional, anak-anak sejak kecil dibiasakan mengenal kerja keras, solidaritas, dan tanggung jawab sosial. Nilai-nilai itu menjadi “seminari pertama” yang membentuk karakter manusia sebelum memasuki lembaga pendidikan formal maupun formasi religius. Paus Fransiskus dalam Amoris Laetitia (2016) menyebut keluarga sebagai “Gereja rumah tangga” tempat pertama manusia belajar mencintai, berdoa, dan mengenal Tuhan.
Karena itu, meskipun hidup keluarga mereka penuh keterbatasan, ada warisan yang jauh lebih penting daripada materi: ketekunan, iman, dan daya tahan hidup. Pengalaman pahit masa kecil justru melatih kemampuan menghadapi penderitaan tanpa kehilangan harapan. Tidak semua orang yang mengalami penderitaan menjadi kuat; banyak juga yang hancur. Tetapi dalam diri Frater Nisen, penderitaan itu perlahan berubah menjadi kedewasaan rohani.
Perjalanan menuju hidup membiara semakin menemukan bentuk ketika konteks sosial-politik Timor ikut mengguncang kehidupan masyarakat. Tahun 1999–2000 menjadi masa penuh ketidakpastian pascareferendum Timor Timur. Konflik, pengungsian, ketakutan, dan ketercerabutan sosial menjadi pengalaman kolektif masyarakat perbatasan. Dalam situasi seperti itu, banyak anak muda kehilangan arah hidup. Namun justru di tengah kekacauan sejarah itulah Frater Nisensius memilih melangkah menuju hidup religius dan berangkat ke Manado.
Langkah itu memiliki makna spiritual yang mendalam. Ia meninggalkan tanah asal dalam ketidakpastian, seperti Abraham yang dipanggil Tuhan untuk pergi ke negeri yang belum diketahuinya (Kejadian 12:1). Dalam tradisi biblis, iman sering dimulai dengan keberanian meninggalkan zona nyaman. Walter Brueggemann dalam The Land (2002) menjelaskan bahwa perjalanan Abraham bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan tindakan percaya total kepada providensia Allah.
Di Manado dan Tomohon, perjalanan panggilan itu menemukan dimensi baru ketika Tuhan mempertemukan kembali dua saudara kandung yang sama-sama sedang menapaki jalan hidup membiara. Pertemuan itu sangat manusiawi sekaligus spiritual. Di tanah rantau, dalam keterasingan dan ketidakpastian, Tuhan mempertemukan kembali dua saudara melalui jaringan relasi sederhana dan providensia ilahi yang bekerja diam-diam.
Peran Romo Albertus Sujoko MSC menjadi bagian penting dalam kisah ini. Kadang Tuhan bekerja bukan melalui mukjizat besar, tetapi melalui orang-orang sederhana yang menjadi jembatan perjumpaan. Dalam spiritualitas Kristiani, Allah sering hadir melalui relasi manusiawi yang tampak biasa, tetapi sesungguhnya menyimpan makna keselamatan.
Salah satu bagian paling menyentuh dalam perjalanan ini adalah ketika sang kakak akhirnya memilih meninggalkan jalan hidup sebagai calon imam dan hidup membiara. Bagi Frater Nisen, itu tentu bukan pengalaman mudah. Ia pernah menjadikan kakaknya sebagai inspirasi panggilan. Kalimat sederhana, “Saya memilih jalan ini karena inspirasi juga dari kakak,” menunjukkan bahwa panggilan tidak pernah lahir secara individual. Panggilan selalu tumbuh dalam relasi, keteladanan, dan pengalaman emosional yang mendalam.
Namun di sinilah kedewasaan spiritual itu diuji. Thomas Merton dalam No Man Is an Island (1955) mengatakan bahwa manusia dipanggil bukan untuk hidup menurut ekspektasi orang lain, tetapi menurut kehendak Allah yang unik dalam dirinya. Sang kakak memilih jalan hidup berbeda, sementara Frater Nisen memilih tetap melanjutkan perjalanan menuju kaul kekal. Keputusan itu menunjukkan kebebasan rohani yang matang: kesediaan mendengarkan suara Tuhan secara personal dan jujur.
Kesetiaan selama dua puluh lima tahun hidup membiara tentu bukan perjalanan tanpa krisis. Hidup religius bukan dunia romantis yang bebas dari kesepian, konflik batin, kelelahan, atau pergulatan eksistensial. Justru dalam kehidupan religius, seseorang terus diuji untuk meninggalkan ego, kenyamanan pribadi, dan ambisi individual demi ketaatan kepada panggilan Tuhan.
Secara psikologis, kemampuan bertahan selama seperempat abad dalam hidup religius menunjukkan adanya resiliensi, regulasi emosi, dan integrasi spiritual yang mendalam. Daniel Goleman dalam Emotional Intelligence (1995) menjelaskan bahwa kedewasaan manusia bukan terutama ditentukan oleh kecerdasan intelektual, tetapi oleh kemampuan mengelola emosi, bertahan dalam tekanan, dan membangun relasi yang sehat. Dalam hidup religius, kualitas-kualitas ini menjadi sangat penting karena hidup komunitas menuntut kerendahan hati, disiplin, dan kemampuan mengelola perbedaan.
Belas Kasih sebagai Jalan Hidup
Dalam terang spiritualitas Kongregasi CMM, perjalanan Frater Nisensius Mety menemukan makna terdalamnya dalam semangat belas kasih. Spiritualitas Santa Maria Berbelaskasih menempatkan kasih sebagai inti panggilan religius. Belas kasih bukan sekadar rasa iba emosional, melainkan kesediaan untuk hadir, menemani, dan melayani mereka yang kecil, terluka, dan membutuhkan harapan.
Paus Fransiskus dalam Misericordiae Vultus (2015) menegaskan bahwa belas kasih adalah “jantung Injil.” Gereja tidak dipanggil menjadi institusi yang dingin dan legalistik, tetapi komunitas yang menghadirkan wajah Allah yang penuh kasih. Dalam konteks itu, hidup membiara menemukan relevansinya ketika religius hadir di tengah manusia konkret yang menderita.
Pengalaman masa kecil yang keras justru membantu Frater Nisen memahami arti penderitaan manusia kecil. Orang yang pernah mengalami kehilangan biasanya lebih mudah memahami air mata sesama. Orang yang pernah hidup dalam keterbatasan cenderung lebih peka terhadap penderitaan orang lain. Karena itu, pelayanan yang lahir dari pengalaman hidup nyata sering lebih manusiawi dibanding pelayanan yang lahir dari kenyamanan.
Penugasan di berbagai daerah seperti Palu, Ambon, Lembata, Balige, dan dunia pendidikan menunjukkan bahwa panggilan religius selalu bersifat dinamis dan misioner. Seorang religius tidak hidup untuk dirinya sendiri, tetapi diutus ke tempat-tempat di mana Gereja membutuhkan kehadiran kasih Tuhan.
Di dunia pendidikan, semangat Santo Yohanes Don Bosco tampak sangat relevan dalam pengabdian Frater Nisensius. Don Bosco percaya bahwa pendidikan adalah tindakan cinta. Dalam Memoirs of the Oratory (1875/1989), Don Bosco menegaskan bahwa anak muda tidak cukup hanya diajar; mereka harus dicintai dan merasakan bahwa mereka dicintai.
Prinsip pedagogi Don Bosco dikenal melalui “sistem preventif”, yakni pendekatan pendidikan yang dibangun atas rasio, agama, dan kasih sayang. Pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi pembentukan manusia seutuhnya. Guru bukan hanya pengajar, tetapi pendamping kehidupan.
Dalam konteks Indonesia hari ini, di mana dunia pendidikan sering terjebak pada orientasi administratif dan kompetisi akademik semata, semangat Don Bosco menjadi sangat relevan. Menjadi kepala sekolah dalam semangat Don Bosco berarti hadir sebagai figur ayah, pendamping, dan sahabat bagi kaum muda. Pendidikan harus memanusiakan manusia.
Tugas Frater Nisensius sebagai guru dan kepala sekolah SMA Don Bosco dengan demikian bukan sekadar jabatan struktural. Itu adalah panggilan pastoral. Ia bukan hanya mengurus kurikulum dan administrasi, tetapi sedang membentuk manusia muda agar memiliki masa depan, moralitas, dan harapan hidup.
Pada titik ini, spiritualitas Santo Vinsensius de Paul juga menemukan resonansinya. Vinsensius mengajarkan bahwa pelayanan kepada kaum miskin adalah bentuk nyata cinta kepada Kristus. Dalam Correspondence, Conferences, Documents (1985), ia menegaskan bahwa orang miskin adalah “tuan dan majikan” yang harus dilayani dengan hormat dan kasih.
Spiritualitas ini sangat penting dalam konteks masyarakat Indonesia yang masih bergumul dengan ketimpangan sosial, kemiskinan, dan keterbatasan akses pendidikan. Kehadiran religius dan pendidik seperti Frater Nisensius menjadi penting bukan hanya bagi Gereja, tetapi juga bagi bangsa.
Kesetiaan Harian dan Makna Pesta Perak
Dua puluh lima tahun hidup membiara pada akhirnya bukan terutama tentang keberhasilan personal, melainkan tentang kesetiaan harian. Kesetiaan tidak dibangun oleh momen-momen heroik yang spektakuler, tetapi oleh keputusan kecil yang terus diperbarui setiap hari: bangun pagi untuk berdoa, tetap melayani ketika lelah, tetap setia ketika kecewa, tetap percaya ketika jalan hidup terasa gelap.
Dietrich Bonhoeffer dalam The Cost of Discipleship (1937/1995) mengatakan bahwa mengikuti Kristus selalu menuntut harga yang harus dibayar. Panggilan Kristiani bukan jalan mudah, tetapi jalan salib. Namun justru dalam kesediaan memikul salib itulah manusia menemukan makna terdalam hidupnya.
Pesta Perak hidup membiara Frater Nisensius Mety dengan demikian bukan sekadar perayaan pribadi. Ini adalah perayaan iman keluarga yang pernah terluka tetapi tidak kehilangan harapan. Ini adalah perayaan tentang anak-anak kecil yang pernah hidup berpindah-pindah setelah kematian ibunda mereka, tetapi tetap bertahan karena percaya pada kemurahan Tuhan.
Kematian ibu tahun 1985 memang meninggalkan luka panjang, tetapi luka itu tidak menjadi akhir cerita. Tuhan bekerja melalui keluarga besar, melalui orang-orang sederhana, melalui perjuangan sehari-hari, dan melalui ketekunan hidup yang tidak menyerah pada keadaan. Dalam bahasa iman, rahmat Tuhan tidak selalu menghapus penderitaan, tetapi memberi kekuatan untuk melewati penderitaan.
Frater Nisen adalah salah satu buah dari rahmat itu. Ia mampu melewati masa-masa sulit bukan karena hidup selalu baik-baik saja, tetapi karena Tuhan memelihara langkahnya sedikit demi sedikit. Dalam perjalanan panjang hidup religiusnya, tampak jelas bahwa kesetiaan Allah selalu lebih besar daripada kelemahan manusia.
Dari sudut sosial, kisah hidup ini juga menjadi inspirasi penting bagi anak-anak muda dari daerah-daerah pinggiran Indonesia. Ia menunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah. Anak-anak kampung dari pelosok Timor pun mampu menjadi religius, pendidik, dan pelayan Gereja yang memberi dampak luas bagi masyarakat.
Dalam konteks Gereja universal, kisah seperti ini memperlihatkan wajah Gereja yang sungguh hidup di tengah rakyat kecil. Gereja bukan hanya milik kota-kota besar atau kaum elite. Gereja juga tumbuh dari kampung-kampung sederhana, dari keluarga miskin, dari anak-anak yatim yang dibesarkan dalam keterbatasan, tetapi tetap percaya kepada Tuhan.
Pesta Perak ini karena itu memiliki dimensi teologis yang sangat dalam: ia adalah kesaksian tentang providensia Allah. Tuhan bekerja melalui sejarah manusia biasa. Ia tidak selalu memilih orang-orang kuat menurut ukuran dunia, tetapi justru mereka yang sederhana dan setia.
Sabda Nabi Yesaya terasa sangat relevan untuk perjalanan ini: “Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku” (Yesaya 43:1). Ayat ini bukan sekadar kutipan indah, tetapi cermin perjalanan hidup Frater Nisensius Mety sendiri. Tuhan yang memanggilnya sejak masa kecil yang penuh luka tetap setia menuntunnya hingga hari ini.
Pada akhirnya, Pesta Perak hidup membiara bukan garis akhir, melainkan undangan untuk terus berjalan. Dua puluh lima tahun pertama hanyalah bagian dari peziarahan panjang menuju kesempurnaan kasih. Dan sebagaimana perjalanan iman selalu berlangsung dalam dinamika manusiawi, demikian pula panggilan religius akan terus diuji dan dimurnikan oleh waktu.
Namun justru di situlah keindahannya: Tuhan tidak mencari manusia yang sempurna, melainkan manusia yang bersedia tetap berjalan bersama-Nya.
Selamat Pesta Perak 25 Tahun Hidup Membiara, Frater Nisensius Mety CMM.
Semoga kasih Kristus terus menjadi kekuatan, belas kasih Santa Maria menjadi jiwa pelayanan, semangat Santo Yohanes Don Bosco menjadi inspirasi pendidikan, dan kerendahan hati Santo Vinsensius de Paul tetap menjadi dasar pengabdian.
Dari tanah Timor yang keras namun penuh iman, Tuhan telah menumbuhkan seorang religius yang tetap setia berjalan di tengah badai.






