HIDUPKATOLIK.COM – Dari doa yang sunyi dan penglihatan yang menggetarkan, Maria Celeste menapaki jalan mistik yang melahirkan Redemptoristina sebagai kenangan hidup akan cinta Sang Penebus.
MALAM itu, 25 April 1725, seorang novis muda berlutut dalam keheningan biara di Scala, Salerno, Italia. Di tengah doa yang sederhana, langit seolah terbuka. Ia melihat Kristus dalam cahaya yang murni, begitu terang hingga melampaui kata-kata. Dalam penglihatan itu, ia menyaksikan Yesus “menulis dengan jari-Nya di hatinya dengan darah-Nya sendiri.” Bukan sekadar pengalaman mistik yang menggetarkan jiwa, melainkan sebuah perutusan. Sejak saat itu, hidupnya tidak lagi menjadi miliknya sendiri.
Pengalaman Iman
Dialah Giulia Crostarosa, yang dalam kehidupan religius mengambil nama Maria Celeste. Lahir di Napoli pada 31 Oktober 1696 dari keluarga bangsawan Abruzzo, ia adalah anak kesepuluh dari dua belas bersaudara. Sejak kecil, Giulia menunjukkan kepekaan rohani yang mendalam. Ia tidak tertarik pada gemerlap status sosial keluarganya. Hatinyalah yang ia rawat. Hati yang perlahan-lahan ditarik menuju kedalaman misteri Allah.
Sebagai remaja, ia dibimbing oleh Pastor Bartolomeo Cacace, yang menolongnya menata hidup doa. Setelah kematian pembimbingnya, ia bertemu Pastor Thomas Falcoia. Di bawah arahan Falcoia, benih panggilan religiusnya semakin jelas. Tahun 1718, ia mengikuti saudarinya masuk biara di Marigliano dan mengambil nama Candida. Namun, perjalanannya belum selesai. Tahun 1724, ia pindah ke konservatori religius di Scala, di atas Teluk Amalfi, dan di sanalah ia mengganti namanya menjadi Maria Celeste: nama yang mencerminkan kerinduannya akan “yang surgawi.”

Penglihatannya bukan peristiwa tunggal. Dalam doa-doanya, Maria Celeste menerima inspirasi tentang sebuah tarekat baru. Ia merasakan bahwa Tuhan memanggilnya untuk mendirikan komunitas yang “menghidupkan kembali di dunia kenangan akan apa yang telah dilakukan Kristus.” Para suster itu kelak akan menjadi gambaran hidup dari Penebus: menghadirkan kasih yang menebus dalam doa, kesederhanaan, dan kurban tersembunyi.
Ia menuliskan aturan hidup yang diyakininya berasal dari ilham ilahi. Namun jalan menuju pengakuan tidaklah mudah. Para superior ragu. Sebagian menuduhnya delusi. Ia dihukum: dilarang menerima komuni selama beberapa minggu, diasingkan ke loteng biara, bahkan dipermalukan dengan makan di lantai dengan tali di lehernya. Semua itu diterimanya tanpa pemberontakan.
Di sinilah keutamaan hidupnya bersinar. Ia tidak membela diri dengan kemarahan. Ia memilih taat. Ia menanggung penghinaan dengan sukacita tersembunyi. Baginya, penderitaan adalah bagian dari partisipasi dalam karya Penebus.
Beberapa teolog akhirnya menilai aturan yang ia tulis sebagai sehat secara doktrinal. Tetapi kepala biara tetap menolak perubahan. Harapan seolah kandas.
Peristiwa Pentakosta
Titik balik terjadi ketika Pastor Falcoia ditahbiskan menjadi Uskup Castellamare pada 1730. Sementara itu, Uskup Nicola Guerriero mengundang seorang imam muda untuk memberi retret di Scala, Pastor Alphonsus Liguori (kelak menjadi orang kudus, Santo Liguori). Awalnya, Pastor Liguori datang dengan prasangka terhadap “biarawati visioner.” Namun percakapan panjang dengan Sr. Maria Celeste mengubah pandangannya. Ia menemukan kedalaman teologi yang lahir dari doa dan kesetiaan Gereja.
Dengan dukungan Uskup Falcoia dan Pastor Liguori, serta persetujuan Uskup Guerriero, komunitas Scala akhirnya menerima aturan baru itu. Pada Pentakosta, 31 Mei 1731, lahirlah Ordo Penebus Mahakudusa atau Redemptoristina (Congregatio Sanctissimi Redemptoris/CSsR). Para suster mengenakan jubah merah dan biru, warna tradisional Kristus, sebagai tanda bahwa hidup mereka hendak menjadi ikon Sang Penebus.
Bagi Sr. Maria Celeste, pendirian ini bukanlah kemenangan pribadi. Ia melihatnya sebagai karya Allah. Spiritualitasnya sederhana namun radikal: menjadi “kenangan hidup” akan cinta penebusan Kristus. Kontemplasi mereka bukan pelarian dari dunia, melainkan partisipasi mendalam dalam misteri keselamatan.
Hubungan rohaninya dengan Pastor Alphonsus Liguori semakin mendalam. Dalam penglihatan 3 Oktober 1731, sehari sebelum pesta Santo Fransiskus dari Assisi, ia melihat Liguori berdiri bersama Kristus dan Fransiskus dalam kemuliaan. Ia menerima keyakinan bahwa Liguori dipanggil untuk mendirikan kongregasi misionaris pria.
Ia membagikan pengalaman itu. Dorongan rohaninya ikut meneguhkan langkah Liguori mendirikan Kongregasi Penebus Mahakudus atau dikenal para imam Redemptoris (Congregatio Sanctissimi Redemptoris/CSsR. Dengan demikian, Maria Celeste bukan hanya pendiri tarekat kontemplatif, tetapi juga penggerak lahirnya sebuah keluarga religius besar dalam Gereja.
Pengakuan Gereja
Hidupnya ditandai oleh tiga keutamaan utama: ketaatan, kerendahan hati, dan cinta penebusan. Ia tidak pernah mencari pengakuan. Bahkan dalam konflik internal, ia tetap memeluk salib. Ia setia pada Gereja, pada pembimbing rohani, dan pada panggilan yang ia yakini berasal dari Tuhan.
Sebagai pemimpin rohani, ia memancarkan kelembutan sekaligus ketegasan. Ia membentuk komunitasnya dalam semangat doa mendalam, hidup sederhana, dan kasih persaudaraan. Ia mengajarkan bahwa kontemplasi sejati harus menghasilkan cinta yang konkret – meski tersembunyi dari dunia.
Ia wafat pada 14 September 1755, pesta Salib Suci – sebuah simbol yang begitu selaras dengan hidupnya. Ia meninggal dalam kesunyian, tetapi benih yang ia tanam terus bertumbuh.
Berabad-abad kemudian, Gereja mengakui kebajikan heroiknya. Pada 3 Juni 2013, Paus Fransiskus menyatakannya sebagai Yang Mulia. Mukjizat yang diakui tahun 2015 membuka jalan bagi beatifikasinya. Pada 18 Juni 2016, di Foggia, ia dibeatifikasi oleh Kardinal Angelo Amato, SDB atas nama Paus.
Namun kemuliaan sejatinya bukan terletak pada gelar. Ia hidup sebagai perempuan yang membiarkan hatinya ditulis oleh Kristus. Dari hati yang ditandai darah Penebus itu lahir sebuah ordo, sebuah spiritualitas, dan sebuah warisan yang terus berdenyut dalam Gereja.
Maria Celeste Crostarosa mengajarkan bahwa visi ilahi selalu lahir dari doa yang setia. Bahwa pembaruan Gereja sering bermula dari biara yang sunyi. Dan bahwa ketika seseorang berani berkata “ya” sepenuhnya, Tuhan dapat menulis sejarah keselamatan dengan tinta yang tak terhapuskan.
Yustinus Hendro Wuarmanuk





