HIDUPKATOLIK.COM – Di tengah berbagai pergumulan dan ketakutan yang melanda manusia modern, pesan tentang kerahiman dan damai sejahtera kembali digaungkan. Hal ini menjadi sorotan utama dalam perayaan Ekaristi Hari Minggu Kerahiman Ilahi di Gereja Katedral St. Fransiskus Xaverius, Merauke.
Perayaan Ekaristi dipimpin langsung oleh Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC. Ia didampingi oleh Vikaris Jenderal (Vikjen) sekaligus Pastor Paroki Katedral, Pastor Hengky Kariwop, MSC dan Pastor Roy Sugianto.
Dalam khotbahnya, Mgr. Mandagi mengajak umat untuk merenungkan kembali hakikat kerahiman melalui keteladanan tokoh-tokoh Gereja dan, yang paling utama, dari Kristus sendiri.
Keteladanan Pengampunan tanpa Batas
Uskup Mandagi mengangkat kisah heroik tentang pengampunan dari Santo Paus Yohanes Paulus II. Meski menjadi korban penembakan keji oleh Mehmet Ali Ağca, Sri Paus sama sekali tidak menyimpan dendam.
“Suatu saat, Paus Yohanes Paulus II mengunjungi beliau ketika dia berada di penjara, dan datang mengampuninya. Ada kerahiman dalam diri Paus Yohanes Paulus II,” tegas Mgr. Mandagi.
Sikap ini merupakan cerminan langsung dari kerahiman Yesus Kristus. Bapa Uskup mengingatkan kembali peristiwa Injil ketika para murid bersembunyi di ruangan tertutup karena ketakutan yang luar biasa terhadap orang-orang Yahudi setelah penyaliban Yesus. Di tengah ketakutan yang mengunci rapat pintu-pintu hati dan ruangan mereka, Yesus yang bangkit justru hadir menerobos masuk dan membawa sapaan peneguhan: “Damai sejahtera bagi kamu.”
Relevansi Ketakutan di Era Modern
Lebih lanjut, Uskup mengontekstualisasikan rasa takut para murid dengan realitas umat beriman di zaman sekarang. Manusia modern kerap kali terkunci dalam berbagai ruang ketakutan, antara lain:
- Degradasi Moral dan Peradaban
Hilangnya kesopanan, maraknya tindakan anarkis, dan hilangnya rasa hormat terhadap institusi serta ajaran agama.
- Kecemasan Global dan Nasional
Ancaman penyakit, bencana alam yang silih berganti (gempa bumi, banjir), ancaman perpecahan bangsa, krisis ekonomi global, hingga bayang-bayang perang di Timur Tengah yang berimbas pada naiknya harga-harga kebutuhan pokok.
- Krisis Keluarga
Rumah tangga yang kehilangan damai, di mana kekerasan dalam rumah tangga (suami atau istri yang menakutkan bagai “singa”) membuat anak-anak melarikan diri pada hal-hal negatif seperti narkoba dan minuman keras.
- Keresahan Lokal di Papua
Maraknya kekerasan dan rasa tidak aman di lingkungan sekitar, termasuk gangguan dari pemabuk di jalanan pada malam hari.
Menghalau Keraguan ala “Tomas” Modern
Untuk menghadapi semua pintu ketakutan dan kejahatan tersebut, Mgr. Mandagi menekankan satu syarat mutlak: Iman dan kepercayaan penuh kepada Yesus.
Namun, Uskup juga menyoroti realitas bahwa menjadi umat Katolik yang setia di zaman ini tidaklah mudah. Banyak umat yang kini memiliki mentalitas seperti Rasul Tomas, yang menuntut segala sesuatu harus “masuk akal”.
Uskup Mandagi menyayangkan munculnya sikap skeptis di kalangan umat, seperti:
- Meragukan ajaran Gereja tentang kesucian dan ketidakterceraian perkawinan.
- Mempertanyakan urgensi Sakramen Tobat karena menganggap imam juga manusia berdosa.
- Bersikap resisten dan tidak taat terhadap hierarki Gereja maupun Uskup.
Roh Kudus sebagai Kekuatan
Mgr. Mandagi memberikan jalan keluar agar umat mampun bertahan melampaui keraguan dan ketakutan. Beliau menekankan pentingnya peran Roh Kudus yang telah diterima umat melalui Sakramen Baptis dan Krisma.
“Jangan takut. Kita punya Roh Kudus. Peliharalah Roh Kudus dalam keheningan, dalam doa, melalui penerimaan sakramen-sakramen, devosi, dan adorasi. Melalui semuanya ini, Roh Kudus akan hadir terus menguatkan kita,” pesannya.
Mengakhiri khotbahnya Uskup mengutip pesan indah dari Paus Fransiskus sebagai bahan permenungan bersama:
“Kerahiman adalah inti ajaran Kristen. Belas kasih Yesus adalah kasih yang tak terbatas yang menyembuhkan dan mengampuni. Tuhan tidak pernah lelah mengampuni kita; kitalah yang lelah mencari belas kasihan-Nya.”
Dengan pesan yang kuat ini, umat Keuskupan Agung Merauke diajak untuk terus bertobat, meruntuhkan tembok-tembok ketakutan, dan senantiasa mengandalkan Yesus yang Maharahim dalam setiap badai kehidupan.
Pastor Roy Sugianto (Merauke)








