spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Sel Tali Pusat: Merawat Kehidupan Sejak Pertama

5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COMDarah tali pusat yang kerap dibuang ternyata menyimpan sel punca bernilai tinggi. Inilah harapan baru bagi kesehatan dan masa depan kehidupan.

ADA satu momen yang sering luput dari perhatian banyak orang, terjadi hanya dalam hitungan menit, tepat setelah seorang bayi lahir ke dunia. Tangisan pertama terdengar, keluarga dipenuhi rasa haru, dan seluruh perhatian tertuju pada kehidupan baru yang hadir. Namun di saat yang sama, ada sesuatu yang selama ini sering dianggap tidak penting, bahkan dibuang begitu saja: darah dan jaringan tali pusat.

Padahal, di dalamnya tersimpan potensi luar biasa – bukan hanya untuk bayi itu sendiri, tetapi juga untuk masa depan kesehatannya, bahkan keluarganya. Inilah yang kini mulai dipahami sebagai salah satu “aset biologis” paling berharga dalam dunia kedokteran modern.

Celltech Stem Cell Centre Vinski Tower bekerja sama dengan Rumah Sakit Pusat Pertahanan Negara dengan berbagai tokoh public yang turut mendukung (Dok. Vinsky Tower)

Pusat Layanan Sel Punca

Banyak orang masih bertanya, apa sebenarnya yang istimewa dari darah tali pusat? Mengapa ia menjadi begitu penting dalam pembahasan kesehatan masa depan? Jawabannya terletak pada kandungan yang ada di dalamnya. Darah tali pusat mengandung sel punca, yaitu sel yang mampu berkembang menjadi berbagai jenis sel lain dalam tubuh. Dalam istilah medis, sel ini dikenal sebagai hematopoietic stem cell – sel yang dapat membentuk berbagai jenis sel darah. Namun lebih dari itu, penelitian menunjukkan bahwa sel ini juga memiliki kemampuan beradaptasi dan berkembang menjadi jaringan lain dalam kondisi tertentu. Artinya, dalam satu kantong kecil darah tali pusat, terdapat kemungkinan besar untuk membantu tubuh memperbaiki dirinya sendiri.

Berbeda dengan sel tubuh yang sudah “terpapar” lingkungan, sel punca dari tali pusat masih sangat murni. Ia belum terkontaminasi oleh polusi, penyakit, atau proses penuaan. Inilah yang membuatnya menjadi sangat bernilai dalam dunia medis. Sayangnya, selama bertahun-tahun, darah tali pusat sering kali dianggap sebagai limbah medis. Ia dibuang atau ditanam setelah proses persalinan selesai, tanpa disadari bahwa di dalamnya tersimpan peluang besar bagi kesehatan di masa depan. 

Baca Juga:  Prof. dr. Deby Vinski: Inovator Terapi Stem Cell di Indonesia

Kini, kesadaran itu mulai berubah. Proses pengambilan darah tali pusat sebenarnya sangat sederhana dan aman. Setelah bayi lahir, dokter akan menjepit dan memotong tali pusat seperti biasa. Setelah itu, tanpa mengganggu proses persalinan, darah dari tali pusat diambil menggunakan jarum steril dan dialirkan ke dalam kantong khusus. Proses ini hanya memakan waktu sekitar lima menit dan tidak menimbulkan rasa sakit, baik bagi ibu maupun bayi.

Tidak ada tindakan invasif tambahan, tidak ada risiko yang membebani proses kelahiran. Semua dilakukan sesuai prosedur medis yang ketat. Darah yang telah dikumpulkan kemudian diproses di laboratorium untuk memisahkan dan mengidentifikasi sel punca yang terkandung di dalamnya. Setelah melalui berbagai tahap uji kualitas, sel tersebut disimpan dalam kondisi khusus menggunakan teknologi cryopreservation, yaitu pembekuan pada suhu sangat rendah, sekitar -196 derajat Celsius, menggunakan nitrogen cair.

Pada suhu ini, sel berada dalam kondisi “tidur”: tetap hidup, tetapi tidak aktif  – sehingga dapat disimpan dalam jangka waktu yang sangat panjang tanpa kehilangan kualitasnya. Inilah yang kemudian dikenal sebagai stem cell banking, penyimpanan sel punca untuk digunakan di masa depan.

Salah satu tempat yang mengembangkan sistem ini secara komprehensif di Indonesia adalah Celltech Stem Cell Centre (CSC), yang berlokasi di Vinski Tower, Ciputat, Jakarta Selatan, milik Prof. dr. Deby Vinski. CSC hadir bukan sekadar sebagai fasilitas penyimpanan, tetapi sebagai pusat layanan sel punca yang terintegrasi mulai dari pengolahan, penyimpanan, hingga aplikasi klinis.

CSC menjadi menarik untuk diperhatikan, salah satu alasannya adalah pengakuan internasional yang dimilikinya. CSC merupakan satu-satunya pusat stem cell anti-aging di dunia yang diakreditasi oleh World Council for Preventive, Regenerative and Anti-Aging Medicine (WOCPM), sebuah badan internasional yang berbasis di Paris dan diakui oleh 74 negara.

Baca Juga:  Magnifica Humanitas dan Pertobatan Peradaban

Di balik pencapaian ini, ada pendekatan teknologi yang berbeda. CSC menerapkan metode closed system, yaitu sistem tertutup dalam proses pengolahan sel. Artinya, selama proses berlangsung, sel tidak terpapar langsung dengan lingkungan luar. Hal ini sangat penting untuk menjaga sterilitas dan mengurangi risiko kontaminasi.

Selain itu, CSC juga menggunakan teknologi digital untuk memastikan jumlah dan kualitas sel punca tetap terjaga dengan akurat. Proses ini tidak hanya mengandalkan keahlian manusia, tetapi juga didukung oleh sistem otomatisasi yang meminimalkan kesalahan.

Dalam praktiknya, CSC juga mengembangkan metode Quantum Autologous dan allogenic Stem Cell, yaitu pendekatan yang memanfaatkan sel dari tubuh pasien sendiri (autologous) maupun dati tali pusat anak cucu atau donatur tervalidasi dari orang lain (allogenic untuk terapi.

Semua proses ini dilakukan di dalam fasilitas laboratorium telah terakreditasi, dengan peralatan modern dan standar internasional. Di dalam Vinski Tower, CSC tidak hanya memiliki laboratorium, tetapi juga bank sel punca yang dilengkapi dengan sistem penyimpanan canggih dengan izin Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan teknologi Akreditasi Internasional.

Sel yang disimpan ditempatkan dalam cryotank berisi nitrogen cair, dengan suhu yang dikontrol secara ketat oleh sistem komputerisasi dan Power System yang bekerja 24 jam penuh tanpa gangguan. Sistem ini memastikan bahwa sel tetap dalam kondisi optimal selama penyimpanan jangka panjang.

Vinski Tower

Vinski Tower gedung 10 lantai sendiri dirancang sebagai pusat kesehatan modern yang terintegrasi. Selain laboratorium dan bank sel punca, terdapat ruang konsultasi yang nyaman, area privat untuk pasien, President Suite serta fasilitas pendukung lainnya. Bahkan, tersedia layanan khusus seperti helipad dan akses pesawat pribadi untuk pasien tertentu, menjadikannya salah satu pusat medis dengan fasilitas lengkap di Indonesia.

Namun di balik semua kemewahan dan teknologi tersebut, yang terpenting adalah manfaat nyata bagi manusia. Menyimpan darah dan jaringan tali pusat bukan sekadar mengikuti tren, tetapi sebuah keputusan yang berangkat dari kesadaran akan pentingnya kesehatan jangka panjang. Sel punca dari tali pusat dapat digunakan oleh orang tua dan keluarga besar bahkan dapat didonasikan untuk berbagai terapi medis, termasuk untuk penyakit kelainan darah seperti thalassemia, gangguan sistem imun, hingga beberapa jenis kanker. Lebih dari itu, sel ini juga memiliki potensi dalam terapi regeneratif untuk membantu pemulihan jaringan yang rusak, seperti pada kasus stroke, cedera otak, atau penyakit degeneratif lainnya.

Baca Juga:  KAMI PMKRI Yogyakarta Dideklarasikan, Serukan Perjuangan Keadilan Sosial dan Demokrasi Substantif

Artinya, satu kali keputusan untuk menyimpan darah dan jaringan tali pusat dapat memberikan manfaat bagi lebih dari satu orang dalam keluarga. Yang perlu dipahami, kesempatan ini hanya datang sekali dalam seumur hidup – yaitu saat proses kelahiran. Jika tidak dimanfaatkan, maka potensi tersebut akan hilang begitu saja.

Meski demikian, penting untuk ditekankan bahwa semua praktik ini tidak dilakukan sembarangan. Di Indonesia, penyelenggaraan layanan sel punca diatur secara ketat oleh berbagai regulasi, mulai dari Undang-Undang Kesehatan misal Permenkes No. 62 tahun 2013 soal Penyelenggaraan Bank Jaringan/Sel; Permenkes No.50 tahun 2012 soal Laboratorium Pengolahan Sel Punca untuk Aplikasi Klinis dan yang terbaru PMK No.32 tahun 2018 tentang penyelenggaraan pelayanan, bank jaringan, dan laboratorium stem cell.

Setiap proses, mulai dari pengambilan, pengolahan, hingga penyimpanan, harus memenuhi standar yang telah ditetapkan. Ini termasuk kepatuhan terhadap prinsip keamanan, kualitas, dan etika medis. Hal ini penting untuk menjawab kekhawatiran masyarakat, terutama terkait dengan isu bahwa sel punca “diambil dari bayi.” 

Dalam praktik yang benar, tidak ada tindakan yang membahayakan bayi. Semua dilakukan setelah bayi lahir, tanpa mengganggu proses persalinan, dan berdasarkan persetujuan orang tua. Dengan kata lain, ini bukan tentang mengambil sesuatu dari kehidupan, tetapi tentang menjaga sesuatu yang sudah ada dan memanfaatkannya secara bertanggung jawab

Yustinus Hendro Wuarmanuk

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles