spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Prof. dr. Deby Vinski: Inovator Terapi Stem Cell di Indonesia

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Dari forum dunia hingga laboratorium, ia membawa terapi stem cell Indonesia ke panggung global: memadukan inovasi, presisi medis, dan komitmen kemanusiaan.

DI sebuah ruang konferensi internasional, lampu-lampu redup memantul di layar besar yang menampilkan grafik, data, dan proyeksi masa depan kedokteran. Para peserta datang dari berbagai negara – ilmuwan, dokter, peneliti – semuanya berkumpul mengungkapkan idenya masing-masing. Di tengah suasana yang serius itu, seorang perempuan dari Indonesia berdiri dengan tenang, menyampaikan gagasannya dengan bahasa yang tidak hanya ilmiah, tetapi juga penuh kesadaran akan makna di balik ilmu itu sendiri.

Bagi banyak orang di ruangan itu, ia bukan sekadar pembicara. Ia adalah representasi dari arah baru dunia medis. Ia adalah Prof. dr. Deby Vinski, M.Sc, Ph.D. Nama itu kini dikenal luas, tetapi perjalanan yang membawanya ke titik ini tidak dibangun dalam satu lompatan besar.

Prof. dr. Deby Vinski (tengah mengenakan baju merah) bersama sejumlah tokoh dalam launching Celltech Stem Cell (Dok. Vinski Tower)

Pionir Stem Cell

Sejak awal, Prof. Deby tidak hanya menempatkan dirinya sebagai seorang dokter. Ia membangun peran yang lebih luas – sebagai penggerak, penghubung, sekaligus pemimpin di tingkat global. Hari ini, ia memegang berbagai posisi strategis yang mencerminkan luasnya pengaruh dan kontribusinya. Ia adalah Presiden World Council of Preventive, Regenerative and Anti-Aging Medicine (WOCPM) yang berbasis di Paris dengan jaringan 74 negara, sekaligus Presiden World Council of Stem Cell (WOCS) di Geneva. Dua posisi ini menempatkannya di garis depan dalam percakapan global tentang masa depan kesehatan.

Di luar itu, ia juga dikenal sebagai pendiri berbagai institusi yang menjadi fondasi pengembangan kedokteran modern di Indonesia. Ia adalah Owner dan Founder Perfect Beauty Aesthetics and Anti-Aging Clinic, sebuah klinik yang menjadi salah satu pionir dalam layanan anti-aging di Tanah Air. Ia juga mendirikan Vinski Tower. Tidak berhenti di situ, ia juga membangun Celltech Stem Cell Bank and Laboratory, yang berperan dalam pengembangan terapi regeneratif berbasis sel.

Baca Juga:  KAMI PMKRI Yogyakarta Dideklarasikan, Serukan Perjuangan Keadilan Sosial dan Demokrasi Substantif

Langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa Prof. Deby tidak hanya bergerak di ranah teori atau akademik, tetapi juga pada implementasi nyata. Perannya juga meluas ke bidang pendidikan dan diplomasi. Ia dipercaya sebagai Director of Post Graduate Master & Doctorate Program di EFHRE International University di Barcelona, Spanyol, di mana ia turut membentuk generasi baru dokter dan peneliti di bidang anti-aging dan regeneratif. Dalam ranah diplomasi, ia menjabat sebagai Honorary Consul of the Republic of Moldova untuk Indonesia.

Di dalam negeri, ia juga terlibat sebagai Advisor di Majelis Agung Raja Sultan Indonesia, bahkan di sektor finansial, ia dikenal sebagai pemilik Bank BPR Vinski Mukti Arta (VMA)yang dikenal dengan Bank Vinski sebagai Pemegang saham Pengendali, yang memperlihatkan kemampuannya dalam mengelola berbagai bidang secara simultan.

Spesialis Anti- Aging

Namun di balik semua jabatan dan peran tersebut, ada fondasi yang jauh lebih penting: pendidikan dan keilmuan. Perjalanan akademiknya dimulai dari Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, kemudian dilanjutkan di Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta. Dari sana, ia melangkah ke dunia internasional, memperdalam ilmu di berbagai pusat pendidikan ternama.

Ia meraih sertifikasi sebagai spesialis anti-aging di Paris melalui WOSAAM, kemudian memperluas kompetensinya sebagai spesialis hormon internasional International Headache Societ di Brussel. Ia juga mendapatkan Board Certification of Nutrition di Brussel, DNA Genetic Certification, semua menunjukkan pendekatan holistik yang ia bangun. Artinya kesehatan tidak bisa dipisahkan dari lifestyle, genetik, hormon, dan nutrisi, serta keseimbangan tubuh.

Baca Juga:  Wajah Humanis Terapi Sel Punca

Perjalanan akademiknya berlanjut dengan meraih gelar Master of Preventive Medicine & Anti-aging dari Dresden International University di Jerman, sebelum akhirnya menempuh program doktoral di Saint Petersburg Institute of Bioregulation and Gerontology, Rusia, dengan fokus pada sel punca dan peptida bioregulator untuk memperpanjang telomer (struktur di ujung kromoson sebagai penutup dan pelindung DNA). Kombinasi ilmu ini membentuk pendekatan yang khas – menggabungkan kedokteran preventif, regeneratif, dan anti-aging dalam satu kerangka yang utuh.

Namun yang membuat Prof. Deby berbeda bukan hanya pada kelengkapan akademiknya, melainkan pada cara ia menghidupkan ilmu tersebut dalam praktik nyata. Ia tidak membiarkan pengetahuan berhenti sebagai teori, tetapi terus mencari cara agar dapat diakses, dipahami, dan dimanfaatkan oleh masyarakat. “Ilmu itu tidak boleh eksklusif. Ia harus bisa dirasakan manfaatnya oleh banyak orang,” ujarnya.

Dalam praktiknya, hal ini terlihat dalam berbagai inovasi yang ia dorong, termasuk pengembangan teknologi berbasis presisi dalam terapi regeneratif. Ia menekankan bahwa masa depan kedokteran bukan lagi tentang pendekatan umum, tetapi tentang intervensi yang tepat sasaran. “Stem cell therapy bukan sekadar injeksi, melainkan intervensi biologis presisi,” ungkapnya. Baginya, presisi bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal tanggung jawab – bahwa setiap tindakan medis harus dilakukan dengan kehati-hatian dan akurasi yang tinggi.

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, Prof. Deby juga menunjukkan keterbukaannya terhadap inovasi baru. Salah satunya melalui pengembangan Digital Twin Human Intelligence, sebuah pendekatan yang memungkinkan interaksi virtual antara pasien dan representasi digital dokter.

Prof. dr. Deby Susanti Pada Vinski (dok. Vinski Tower)

Penting adalah Manusia

Namun di balik semua itu, ia tetap mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat. Yang utama adalah bagaimana alat itu digunakan untuk melayani manusia. Dalam berbagai forum internasional, ia kerap menegaskan bahwa kemajuan kedokteran harus tetap berpijak pada nilai-nilai dasar. Keselamatan pasien, integritas ilmiah, dan penghormatan terhadap martabat manusia tidak boleh dikompromikan.

Baca Juga:  Stem Cell Dalam Bioetika Katolik

Pandangan ini menjadi semakin penting di era ketika teknologi berkembang begitu cepat, sering kali melampaui kesiapan etika dan regulasi. Dalam konteks ini, Prof. Deby melihat peran regulasi sebagai fondasi yang harus diperkuat. Karena itu ia ikut berjuang dan masuk dalam 8 Tokoh Transformasi Kesehatan Indonesia dalam memperjuangkan UU OBL Kesehatan 2023 yang telah ditandatangani oleh Presiden membawa Indonesia dalam kemajuan dunia kedokteran yang maju. Ia memuji Presiden dan Menkumham DPR maupun MPR, jajaran Kemenkes RI dan para stakeholder dan memberikan penghargaan kepada Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin di Kongres Dunia anti-aging dan stem cell yang dihadiri 50 negara anggota di Grand Hyatt Bali sebagai pahlawan transformasi kesehatan. Kongres ini inisiasi dari Organisasi bergengsi dunia WOCPM dan WOCPM.

Lebih jauh, ia melihat bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pusat pengembangan kedokteran masa depan. Dengan sumber daya yang ada dan dukungan kebijakan yang tepat, Indonesia tidak hanya bisa menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta.

“Ini adalah momentum. Kita punya kesempatan untuk membangun sistem kesehatan yang tidak hanya maju, tetapi juga berkeadilan,” ujarnya.

Namun di atas semua itu, ada satu hal yang selalu ia jaga: kesadaran bahwa setiap inovasi harus tetap menghormati kehidupan. Tubuh manusia bukan sekadar objek yang bisa dimodifikasi, tetapi bagian dari keberadaan yang memiliki nilai intrinsik. Karyanya ini bukan sekadar kemewahan fasilitas medis tetapi juga di ruang refleksi yaitu tentang apa arti menjadi manusia di tengah kemajuan teknologi.

Yustinus Hendro Wuarmanuk

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles