spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Ilmu yang Berakar pada Kasih

Rate this post

 HIDUPKATOLIK.COM – 

“Bagi saya, sel punca bukan sekadar ilmu- ini adalah kasih yang menyembuhkan,” ujarnya.

SUASANA Vinski Tower di Ciputat, Jakarta Selatan siang itu terasa tenang namun penuh kekeluargaan. Di gedung modern yang menjadi pusat layanan kesehatan terintegrasi ini, Majalah HIDUP berkesempatan berbincang langsung dengan Prof. dr. Deby Vinski, pemilik Vinski Tower sekaligus salah satu pakar anti-aging dan sel punca terkemuka dunia asal Indonesia. Wawancara yang berlangsung pada Kamis, 16 April 2026 ini mengupas sisi ilmiah, pengalaman personal, hingga refleksi iman dan etika dalam perkembangan teknologi sel punca.

Bagaimana awal mula Anda tertarik mendalami dunia sel punca dan anti-aging?

Semua ini sebenarnya berangkat dari pengalaman pribadi yang sangat membekas dalam hidup saya. Ketika ayah yang tadinya gagah dan aktif bekerja tiba – tiba terserang stroke dan terbaring sakit dan harus memakai kursi roda. Saya sering melihat ibu menangis sedih, diam, dan saya ikut merasakan kegelisahan yang dalam sebagai seorang anak sekaligus sebagai seorang dokter. Saat itu, saya berpikir: apakah tidak ada cara yang lebih baik untuk membantu beliau? Dari situlah muncul dorongan yang sangat kuat untuk berbakti kepada orang tua. Ini adalah panggilan hati untuk mencari solusi penyembuhan ayah.

Saya mulai mendalami ilmu kedokteran regeneratif dan sel punca, karena saya melihat di sanalah harapan itu berada. Bagi saya, ini bukan sekadar teknologi medis, tetapi sebuah jalan untuk mengembalikan harapan hidup manusia. Dalam proses itu, saya juga menyadari satu hal yang sangat penting: doa orang tua memiliki kekuatan yang luar biasa. Dukungan mereka, bahkan dalam kondisi sakit sekalipun, menjadi fondasi yang menguatkan perjalanan saya. Dengan kedokteran regeneratif anti-aging dan stem cell membuat ayah berangsur pulih sehat, berolah raga, dan aktif bekerja kembali.

Banyak masyarakat masih memiliki kekhawatiran bahwa penggunaan darah tali pusat bisa membahayakan bayi. Bagaimana Anda menjelaskan hal ini?

Ini adalah salah satu kesalahpahaman yang paling sering saya temui. Banyak orang berpikir bahwa sel punca diambil dari bayi dengan cara yang invasif atau berisiko. Padahal, kenyataannya tidak demikian sama sekali. Pengambilan darah tali pusat dilakukan setelah bayi lahir, setelah tali pusat dijepit dan dipotong – seperti prosedur persalinan pada umumnya. Artinya, tidak ada intervensi tambahan yang membahayakan bayi maupun ibu. Prosesnya aman, cepat, dan tidak menimbulkan rasa sakit.

Baca Juga:  Magnifica Humanitas dan Pertobatan Peradaban

Justru yang perlu dipahami adalah bahwa darah tali pusat ini selama bertahun-tahun sering dianggap limbah medis. Ia dibuang begitu saja, padahal di dalamnya terdapat sel punca yang sangat berharga. Jadi, ini bukan soal “mengambil” sesuatu dari bayi, tetapi menyelamatkan sesuatu yang sebenarnya sudah ada dan bisa bermanfaat besar di masa depan. Dalam konteks etika, ini sangat penting. Kita tidak melanggar martabat manusia, tetapi justru menjaga dan menghormati kehidupan itu sendiri.

Bagaimana perkembangan dukungan terhadap terapi sel punca di Indonesia?

Kalau kita melihat ke belakang, memang tidak mudah. Dulu, ketika saya mulai memperkenalkan konsep ini, dukungan dari berbagai pihak masih sangat terbatas – baik dari pemerintah maupun dari sesama dokter. Banyak yang belum memahami, bahkan ada yang skeptis. Namun, saya percaya bahwa setiap inovasi besar memang membutuhkan waktu untuk diterima. Yang penting adalah kita tetap konsisten pada prinsip ilmiah dan etika.

Sekarang, kita bahkan sudah memiliki regulasi yang jelas dari pemerintah. Ada undang-undang dan peraturan Kementerian Kesehatan yang mengatur penyelenggaraan bank sel punca, laboratorium, hingga aplikasi klinisnya. Dimana saya sendiri pun diundang sebagai Dewan Pakar dalam menyusun regulasi peraturan. Ini menjadi langkah penting untuk memastikan bahwa semua praktik dilakukan dengan aman, berkualitas, dan sesuai etika.

Perubahan ini menunjukkan bahwa Indonesia sedang bergerak ke arah yang lebih maju dalam dunia kedokteran regeneratif.

Bisa dijelaskan tentang Vinski Tower sebagai pusat layanan sel punca?

Vinski Tower dirancang sebagai sebuah ekosistem kesehatan yang terintegrasi, khususnya dalam bidang anti-aging dan sel punca. Kami tidak hanya memiliki satu layanan, tetapi sebuah sistem yang lengkap: mulai dari laboratorium pengolahan sel, bank penyimpanan sel punca, hingga layanan klinis.

Semua proses dilakukan dengan teknologi Quantum Stem Cell modern yang sampai saat ini menurut Komite Sel Punca (Tempo) hanya ada dua di Asia yaitu Indonesia di Vinski Tower dan Jepang, termasuk sistem tertutup (closed system) untuk menjaga sterilitas, serta dukungan digital untuk memastikan kualitas dan jumlah sel tetap optimal. Celltech telah menjadi Centre of Excellence dari Becton, Dickinson and Company. Sebuah Perusahaan teknologi medis terkemuka di Amerika Serikat. Kami juga menggunakan teknologi cryopreservation dengan suhu sangat rendah -196 °C agar sel dapat disimpan dalam jangka panjang tanpa kehilangan kualitasnya.

Baca Juga:  KAMI PMKRI Yogyakarta Dideklarasikan, Serukan Perjuangan Keadilan Sosial dan Demokrasi Substantif

Selain itu, fasilitas ini telah mendapatkan akreditasi internasional, yang menunjukkan bahwa standar kami diakui secara global. Ini penting, karena dalam dunia medis, kepercayaan sangat bergantung pada kualitas dan transparansi.

Anda juga dikenal sebagai pemimpin internasional di bidang ini. Bagaimana pengalaman menjadi perempuan di antara banyak dokter dunia?

Menjadi perempuan dalam dunia medis, apalagi di tingkat internasional, tentu memiliki tantangan tersendiri. Saya sering berada di tengah puluhan dokter dari berbagai negara, dengan latar belakang dan pengalaman yang sangat kuat. Namun, saya selalu percaya bahwa kepercayaan diri tidak datang dari posisi, tetapi dari kompetensi dan integritas. Kita harus benar-benar memahami apa yang kita kerjakan, dan melakukannya dengan sepenuh hati. Saya tidak melihat diri saya sebagai “perempuan di antara laki-laki,” tetapi sebagai seorang profesional yang memiliki tanggung jawab. Kehadiran saya di sana bukan untuk membuktikan sesuatu secara pribadi, tetapi untuk membawa kontribusi, terutama dari Indonesia ke tingkat global. Dan saya bersyukur, karena semakin banyak perempuan yang kini berani mengambil peran penting dalam dunia kesehatan dan ilmu pengetahuan.

 Bagaimana Anda memaknai konsep anti-aging secara lebih mendalam?

Banyak orang salah memahami anti-aging sebagai sekadar upaya untuk terlihat muda. Padahal, maknanya jauh lebih dalam dari itu. Kedokteran Anti-aging dan Regeneratif adalah tentang bagaimana kita menjaga kualitas hidup seiring bertambahnya usia. Penuaan adalah sesuatu yang alami, tidak bisa dihindari. Namun, kita bisa mengelola proses tersebut agar tetap sehat, produktif, dan bermakna. Di sinilah peran ilmu kedokteran, bukan untuk melawan kodrat, tetapi untuk mendampingi manusia menjalani hidup menjadi sehat, bahagia, dan aktif.

Baca Juga:  Wajah Humanis Terapi Sel Punca

Dalam pendekatan saya, aspek humanis sangat penting. Kita tidak hanya berbicara tentang sel dan jaringan, tetapi tentang manusia secara utuh: fisik, mental, dan spiritual. Etika juga menjadi dasar utama. Semua tindakan harus menghormati martabat manusia, tidak boleh semata-mata berorientasi pada teknologi. Karena pada akhirnya, tujuan dari semua ini adalah kesejahteraan manusia, bukan sekadar pencapaian ilmiah.

 Dalam perspektif iman, bagaimana Anda melihat penggunaan sel punca ini?

Saya melihatnya sebagai panggilan kemanusiaan bagian dari tanggung jawab kita sebagai manusia untuk merawat kehidupan dan tubuh kita adalah Bait Allah yang harus dijaga dan dipelihara. Dalam iman Kristiani, kehidupan adalah anugerah yang harus dijaga dan dihormati. Penggunaan sel punca dari darah dan jaringan tali pusat, jika dilakukan dengan benar, tidak bertentangan dengan prinsip tersebut. Tidak ada kehidupan yang dirugikan, tidak ada eksploitasi. Justru kita memanfaatkan sesuatu yang sudah ada dari ciptaan Tuhan  untuk kebaikan dan sarana menolong sesama manusia dengan cinta kasih.

 Apa harapan Anda ke depan terkait perkembangan sel punca di Indonesia dan dunia?

Harapan saya sederhana: agar semakin banyak orang memahami dan memanfaatkan potensi ini secara bijak. Sel punca bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang masa depan kesehatan manusia. Saya berharap masyarakat tidak lagi melihatnya dengan rasa takut atau curiga, tetapi dengan pemahaman yang benar. Edukasi menjadi kunci. Kita harus terus menjelaskan bahwa ini adalah peluang, bukan ancaman.

Selain itu, saya juga berharap Indonesia bisa menjadi salah satu pusat pengembangan sel punca di dunia bahkan saat ini saya dalam persiapan membangun laboratorium maupun Gene Therapy dan berharap suatu hari menjadi pusat dunia. Terimakasih kepada pemerintah serta Kemenkes RI karena ekosistem yang baik telah terbangun. Kita memiliki sumber daya, ilmuwan, dan dokter hebat. Kita harus memanfaatkan talenta yang ada agar devisa 160-an  triliun dapat kembali masuk kenegara tercinta.

Yustinus Hendro Wuarmanuk

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles