HIDUPKATOLIK.COM – Dalam sebuah telegram yang ditandatangani oleh Sekretaris Negara Vatikan, Kardinal Pietro Parolin, Paus Leo XIV menyampaikan solidaritas dan kedekatan spiritualnya kepada mereka yang terdampak gempa bumi yang terjadi di Indonesia pada 15 Agustus. Ia juga mendorong agar upaya-upaya kemanusiaan dan pemulihan terus dilakukan.
Paus Leo XIV mengaku sangat sedih setelah mengetahui kehancuran yang disebabkan oleh gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur, Indonesia, pada pagi hari, Sabtu, 15 Agustus 2026.
Dalam telegram yang ditujukan kepada Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD dan ditandatangani oleh Sekretaris Negara Vatikan, Kardinal Pietro Parolin, Paus menyampaikan “jaminan solidaritas dan kedekatan spiritualnya kepada mereka yang menderita akibat dampak bencana ini yang masih terus berlangsung, terutama bagi begitu banyak orang yang mengungsi dan mengalami luka-luka.”
Paus juga memberikan dukungan kepada pihak-pihak gerejawi dan sipil yang terus berupaya memberikan bantuan kemanusiaan serta berdoa bagi para petugas tanggap darurat yang terlibat dalam upaya-upaya pemulihan.
Paus menyerahkan mereka yang meninggal kepada belas kasih penuh dari Allah dan memohon berkat ilahi berupa penghiburan dan kekuatan bagi mereka yang masih harus bertahan hidup dalam bencana.
Kerusakan besar terhadap manusia dan material
Gempa bumi kuat pertama dengan kekuatan 7,7 magnitudo mengguncang Pulau Flores pada hari Sabtu dan kemudian diikuti oleh banyak gempa susulan sepanjang hari. Beberapa jam kemudian, gempa berkekuatan 6,9 magnitudo mengguncang Pulau Sumatra.
Selain menimbulkan korban jiwa, gempa-gempa tersebut juga menyebabkan kerusakan besar pada rumah-rumah dan berbagai infrastruktur.
Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia, lebih dari 900 rumah hancur dan sekitar 450 rumah lainnya mengalami kerusakan. Setidaknya 167 bangunan publik, termasuk sekolah, pusat layanan kesehatan, dan gereja, tidak dapat lagi digunakan.
Ribuan orang yang kehilangan tempat tinggal kini mencari perlindungan di tempat-tempat penampungan sementara.

Bene Xavier (Wina, Austria)





