HIDUPKATOLIK.COM – Seorang seniman sejati bukanlah orang yang terinspirasi, tetapi orang yang menginspirasi. Begitu kalimat singkat seorang Salvador Dali, seniman dan pelukis asal Spanyol, juga maestro gerakan surealisme. Dali selalu tampil eksentrik, kumis melengkung begitu ikonik, membuatnya selalu berhasil mencuri perhatian publik.
Melihat Salvador Dali dan seniman besar lain, kerap aku berpikir menjadi seniman itu harus unik, eksentrik. Atau seniman memang sudah terbentuk memiliki sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Bahkan saat mulai merasakan nyaman sebagai pekerja seni, alam bawah sadarkupun seakan mengajak selalu ingin tampil unik.
Namun cara pandang dan pikir perihal seni, seniman serta bekesenian itu berubah saat perlahan mengenali karya Guruh Soekarnoputra. Bermula dari ajakan mengisi malam dana sekolah dan pernah belajar tari Bali, jadilah kita tampil diiringi lagu Janger. Salah satu paling ikonik juga dari album legendaris Guruh Gipsy. Sarat pesan menjaga keaslian budaya bangsa agar tak tergerus arus modernisasi. Menggabungkan gamelan Bali dengan aliran rock progresif Barat.
Berlanjut terus jadi mengidolakan beliau dengan ragam karya sangat kental nuansa Indonesia. Lewat pagelaran Swara Mahardika yang di mataku sebagai pertunjukan spektakuler, dengan tarian dan kostum bernuansa tradisional dalam balutan modern tanpa meninggalkan identitas. Tiap pagelarannya menginspirasi dan membuat kaum muda bisa menerima sajian bernuansa Indonesia di tengah gempuran budaya asing. Pertunjukan budaya Indonesia pun mendapat tempat di negeri ini dan rutin tersaji setiap tahun dengan variasi sesuai trend di masanya.
Kekagumanku pada beliau semakin dalam bahkan terinspirasi. Betul sekali kalimat pendek Salvador Dali tadi, bahwa Seorang seniman sejati bukanlah orang yang terinspirasi, tetapi orang yang menginspirasi. Dan mas Guruh adalah salah satunya seturut defenisi Dali.
Lalu, apa rasanya kagum sepenuh hati dan di tengah kisah, sang idola dengan kerendahan hatinya berkenan ambil bagian dalam karyaku yang bukan siapa-siapa ini?
Sungguh tak terduga kelanjutan kisah yang boleh dikata tak berawal ini. Tersimpan dalam ingatan peristiwa kerusuhan Mei 98 di mana aku juga mengalami beberapa hambatan saat pulang ke rumah. Sempat menyaksikan ragam peristiwa dan beberapa teman mengalami langsung. Ada buku pernah kubeli, bertajuk Catatan Harian Anak Bosnia, karya Zlata Filipovic. Berisi kejadian per hari di tengah perang berkecamuk. Kadang dia batal ke sekolah karena harus berlindung di bunker. Lalu menuliskan semua kejadian layaknya catatan harian.
Saat tragedi 98 itupun, ada kecemasan setiap hari menyaksikan rangakaian peristiwa dan korban. Mulai kutulis di mana saja aku bisa mencatat. Entah di potongan catatan belanja ibu, sisa kertas print yang salah, pokoknya di manapun. Sampai akhirnya aku merasa akan punya buku seperti Zlata. Baru sekedar punya buku, belum sampai bermimpi jadi penulis.
Terangkailah buku itu dalam 3 hari, bertajuk “Catatan Kecemasan”. Dengan segala upaya ‘mengetuk pintu’ penerbitan, berhasil juga naskah diterima. Lewat pertimbangan redaksi, judul diubah menjadi “Catatan dan Refleksi – Tragedi Mei 13 dan 14 1998”. Judul ini terlihat jadi lebih berat dari sekedar rangkaian kecemasan warga biasa sepertiku. Namun begitulah lewat jalan berliku tapi lancar, karya itupun meluncur di toko buku. Namaku terukir di sampulnya.
Dukungan berbagai pihak membawaku ke garis seperti sekarang, dan salah satunya datang dari Mas Guruh melalui cara sederhana secara tak terduga. Sebagai penulis baru, bahkan saat itupun belum berani menyebut diri penulis, sekadar mencoba buku pertama, penerbit menymarankan untuk mengumpulkan catatan komentar tokoh Masyarakat.
Haaah….?!?! Siapa bakal berkenan menorehkan sesuatu di buku seorang warga yang bukan siapa-siapa, dan hanya menuliskan kecemasan personal di tengah kerusuhan? Untunglah muncul keinginan kuat, tekat bulat sedikit nekat, mendorongku mengirimkan permintaan singkat melalui mesin Faks (faximile) kepada beberapa tokoh yang bisa kutemukan kontaknya dari berbagai sumber.
Ya.. ya.. ya.., faks…! Masa 98 belum semeriah sekarang sistem komunikasi maupun dunia media sosial. Satu persatu datang juga balasan pernyataan kesediaan memberi komentar. Salah satunya dari putra Proklamator RI, Guruh Soekarnoputra. Bola mataku berbinar, dada berdegup kencang, tangan terentang lalu melompat gembira. Tak lama berselang salah satu staff beliau menghubungi dan meminta dikirimkan copy naskah asli agar dibaca terlebih dahulu.
Rasa sukacita itu menurun perlahan berganti sedikit panik. Percakapan terjadi siang, padahal malamnya harus terbang ke San Fransisco untuk sebuah tugas selama 3 minggu. Dengan segala tenaga tersisa, kupersiapkan naskah dan tancap gas ke kediaman beliau di Jl. Sriwijaya. Kutitipkan di petugas keamanan dan menuju Bandara.
Sambil menatap Golden Gate dari kejauhan aku berkoordinasi dengan ART di rumah, katanya ada faks masuk bertuliskan: Bung Karno bilang, “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah..” Maka, demi sejarah, “Catatan dan Refleksi Tragedi Jakarta 13 dan 14 Mei 1998” menjadi perlu. Semoga buku ini bermanfaat bagi catatan sejarah kita dan dapat memperkaya khasanah kepustakaan Indonesia. – Jakarta 21 Juni 1998 – Guruh SP
Tulisan tangan indah dan dibubuhi tanda tangan. Singkat, sederhana, penuh makna. Terlebih lagi, respon cepat beliau seakan menegrti betapa buku itu berpacu dengan waktu guna mengejar momentum. Di atas semua itu, kerendahan hatinya pula menjadikan begitu mudah adanya. Selesai dalam hitungan kedipan mata dan tertera manis tulisan itu pada halaman pembuka buku pertamaku.
Sedikit kembali ke mesin waktu, andai saja terpikir menampilkan tulisan tangan indah itu beserta tanda tangannya, akan semakin bertambah kenangannya. Ya.., semua berlangsung tergesa dan proses perjalanan komentar tersebut menuju penerbit pun hasil komunikasi via telepon. Lagi-lagi belum ada media sosial dan aku harus rela menguras uang saku membeli telepon kartu sambungan international.
Itulah sekadar kenangan yang kumiliki dari beliau. Kisah dan perjalanan yang mengubah segalanya. Dan tentu saja karya mas Guruh bagiku sungguh terasa bagaikan seni yang berbicara, di saat kata-kata tidak dapat menjelaskannya. Memelihara akar budaya di mana masyarakat pun bisa membebaskannya serta mengikuti visi beliau ke mana hendak dibawakan. Proses kreatif yang menjadikan sebagai sebuah proses penyerahan bukan kontrol.
Tertinggal dalam catatan kenangan, cara beliau mencintai negeri ini dan memadukannya dengan ketrampilan yang dimiliki sehingga hadirlah mahakarya berpengaruh dan menginspirasi.
Mas Guruh pun bahkan tidak tahu apa yang terjadi denganku setelah satu goresan tak terduga lewat mesin faks. Tapi dengan segala kerendahan hati kusampaikan, setelah buku pertama itu, mengalir deraslah buku-buku lainnya, hingga aku berani menyebut diri sebagai penulis. Selamat beristirahat dalam kedamaian abadi mas Guruh Soekarnoputra.

Ita Sembiring – pekerja seni dan praktisi pembicara publik






