Pencerahan dari Dua Kiai dalam Lokakarya Komisi HAK Regio Jawa

36
Dok. Romo Aloys Budi Purnomo
Pencerahan dari Dua Kiai dalam Lokakarya Komisi HAK Regio Jawa
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – DUA Kiai mencerahi Lokakarya Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (Kom HAK) Regio Jawa yang berlangsung di Hotel Pandanaran Semarang, Jumat-Minggu, 17-19/3. Dua Kiai tersebut adalah adalah Wakil Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Imam Pituduh, dan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Islah Tembalang, Semarang, Jawa Tengah Kiai Budi Harjono Al-Jawi.

Kiai Imam yang dikenal dengan sapaan “Kiai Gondrong” dalam paparannya menyadarkan para peserta Lokakarya untuk terus berjuang merawat dan menyelamatkan empat pilar kebangsaan yakni Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Undang-Undang Dasar 1945. Komitmen merawat empat pilar kebangsaan itu, menurut Kiai Imam harus dilakukan mengingat ancaman terorisme dan intoleransi yang terjadi di negeri ini seperti tampak dalam gerakan-gerakan radikal di Indonesia.

Lanjut Kiai Imam, untuk mengatasi hal ini masyarakat tidak boleh diam melainkan harus berani menyuarakan dan mewartakan kebenaran dan keadilan. Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan “Perang Cyber” di dunia media sosial (FB, Instagram, Tweety, V-blog) yang sedang buas dengan hoax-hoax dengan postingan pesan dengan warna yang lebih beradab, inklusif, inovatif, dan transformatif. “Orang baik berdosa bila berdiam diri menghadapi hoax, gosip dan fitnah cyber. Maka kita perlu saling bertukar like atau share atas kabar baik yang mewartakan kebenaran, keadian dan kesejahteraan.”

Pada sesi Kiai Budi Harjono Al-Jawi, penyampaian materi diawali dengan Tarian Sufi terlebih dahulu. Tarian Sufi ini menjadi media Kiai Budi untuk merajut kerukunan dan persaudaraan. Selanjutnya Kiai Budi menerangkan bahwa Tarian Sufi adalah tarian cinta. Musik dan tarian menjadi sarana untuk mewujudkan hidup yang damai. Dalam semangat saling mencintai dan menghargai kita membangun hidup bersama. “Tiada lagi beda antara aku dan kau sebab kau hanyalah manifestasi aku yang lain. Hidup keberagaman pun laksana taman bunga yang indah tanpa harus saling menghujat satu terhadap yang lain,” tutur Kiai Budi yang disambut tepuk tangan para peserta.

Suasana secara keseluruhan diwarnai sukacita. Begitulah Lokakarya Komisi HAK Regio Jawa yang dibuka oleh Mgr Yohanes Harun Yuwono dan ditutup oleh Administrator Diosesan Keuskupan Agung Semarang (KAS) Romo FX. Sukendar Wignyosumarta.

Total jumlah peserta dan panitia Lokakarya Komisi HAK Regio Jawa ini sebanyak 75 orang. Mereka adalah para Ketua Komisi HAK se-Regio Jawa (Keuskupan Agung Jakarta, Keuskupan Bogor, Keuskupan Bandung, Keuskupan Malang, Keuskupan Surabaya, Keuskupan Purwokerto dan Keuskupan Agung Semarang sebagai tuan rumah penyelenggara dalam kerjasama dengan Komisi HAK KWI dan Bimas Katolik Indonesia. Para Ketua Komisi HAK se-Regio Jawa hadir bersama Tim masing-masing. Turut hadir sebagai peserta adalah para Ketua Timja HAK empat Kevikepan se-KAS bersama Timjanya. Sementara itu sejumlah orang muda Katolik yang menjadi volunteer Asian Youth Day dari Kevikepan Semarang terlibat dalam kepanitiaan dan fasilitator rangkaian acara Lokakarya tersebut.

Romo Aloys Budi Purnomo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here