Cerai Sipil, Bolehkah Menikah Lagi?

905
Cerai Sipil, Bolehkah Menikah Lagi?
3.7 (73.33%) 3 votes

HIDUPKATOLIK.com – Romo yang terkasih, saya pria Katolik yang menikah lewat dispensasi 17 tahun lalu dengan seorang wanita Kristen. Sejak tahun ke-10 hubungan kami renggang. Bahkan kami sudah tidak lagi melakukan hubungan seks meskipun tinggal serumah. Kemudian kami memutuskan cerai secara sipil tahun 2011. Putri semata wayang kami oleh pengadilan diputuskan untuk ikut saya. Tahun 2012 mantan istri menikah lagi dengan pria selingkuhannya semasa kami masih terikat perkawinan secara hukum. Kini mereka juga sudah dikaruniai anak.

Ada tiga pertanyaan yang ingin saya ajukan: Apakah saya dapat memproses pembatalan pernikahan? Apakah saya masih boleh menerima komuni? Jika saya bertemu dengan wanita Katolik kemudian menikah dengannya secara Katolik, apakah pasangan saya juga terkena sanksi tidak boleh menerima komuni juga? Terima kasih, Romo.

Antonius, Jakarta

Bapak Antonius yang baik, ketika orang-orang Farisi mempertanyakan perihal perceraian kepada Tuhan kita, Ia menjawab, “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya:Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Mat 19:3-6). Ini yang menjadi pegangan kita secara iman.

Anda berdua menikah sah di Gereja Katolik dan menikah dengan status Sakramen, karena Anda berdua adalah orang-orang yang dibaptis, meskipun berbeda Gereja. Ikatan sakramental ini dinyatakan dalam janji perkawinan yang saling Anda ikrarkan dulu. “…saya mau mencintai dan menghormati engkau seumur hidup.” Kata-kata ini dulu Anda ucapkan secara bebas dan publik, serta berefek hukum sekaligus spiritual. Tuhan sendiri yang mengaruniakan perkawinan itu, maka kita perlu meminta pertolongan Tuhan dalam perjalanan perkawinan kita.

Sayang sekali, perceraian Anda terjadi. Sipil selalu mempunyai alasan untuk menceraikan setelah mendengar tuntutan pihak yang menikah. Sipil memandang perkawinan sebagai kontrak perjanjian, bukan sakramen. Tetapi, di mata Tuhan dan Gereja, perkawinan tak terceraikan tetap terjadi. Kitab Hukum Kanonik (KHK) art.1060 mengatakan: “Perkawinan mendapat perlindungan hukum, karena itu dalam keragu-raguan haruslah dipertahankan sahnya perkawinan, sampai dibuktikan kebalikannya.” Meskipun tragedi ini terjadi, tetap tidak dapat dikatakan bahwa janji itu Anda ikrarkan berdua dengan berpura-pura, dan karenanya dapat menikah kembali.

Jika didapati suatu cacat dalam kesepakatan nikah, maka pembatalan (anulasi) dapat diberikan dengan menyatakan bahwa salah satu atau kedua pihak tidak dapat memberikan kesepakatan sepenuhnya dan sukarela. Jadi anulasi diberikan karena waktu itu hanyalah upacara, tetapi sakramen tidak ada karena terkena halangan yang belum diketahui saat itu. Menurut saya, Anda tidak mengalami hal ini. Jadi, perkawinan Anda sah dan tidak ada alasan untuk membatalkan. Masalah ketidaksetiaan adalah suatu kesalahan di masa kemudian, bukan kesalahan janji perkawinan.

Pembatalan tidak bisa diberikan karena alasan perselingkuhan atau pengkhianatan. Karena, hal itu merupakan faktor risiko yang harus ditanggung oleh orang yang mengucapkan janji. Jika Anda menikah lagi, maka Anda menikah tidak sah dan dengan demikian terekskomunikasi dan tidak dapat menikah Katolik dengan sah. Anda juga tidak diijinkan menerima Komuni Kudus karena telah keluar dari Gereja Katolik. Demikian juga istri sah Anda. Jika Anda menikah dengan istri kedua yang Katolik, maka dia pun tidak dapat menerima komuni karena terkena sanksi yang sama.

Gereja menyadari kesulitan orang membangun rumah tangga, karena kurang persiapan, karena perubahan mental dan lingkungan yang bisa membubarkan hidup bersama. Jika memang suatu perkawinan layak dibantu membatalkan perkawinan yang sejak semula tidak sah, Gereja sangat berhati-hati menangani proses ini agar tidak timbul kesan bahwa pembatalan perkawinan itu suatu permainan hukum.

Alexander Erwin Santoso MSF

Redaksi website HIDUPKATOLIK.COM akan menerbitkan secara GRATIS semua artikel seperti info kegiatan, refleksi, resensi, agenda/rencana kegiatan dan sebagainya di web HIDUPKATOLIK.COM. Semua artikel anda akan kami viralkan juga di semua media sosial. Kami pastikan akan dibaca dan diketahui oleh ratusan ribu pembaca online. Agar dapat diterbitkan, Artikel wajib dilengkapi Foto/Gambar ilustrasi. Kirim ke email: [email protected].

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here