Komunitas Hosana RSUD Ulin Banjarmasin: Hosana dari Bilik Rumah Sakit

152
Penyerahan bingkisan tali kasih untuk Panti Werda Suaka Kasih.
[HIDUP/Dionisius Agus Puguh Santosa]
Komunitas Hosana RSUD Ulin Banjarmasin: Hosana dari Bilik Rumah Sakit
3.5 (70%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.com – Komunitas ini berdiri sebagai bentuk solidaritas kepada masyarakat miskin dan terpinggirkan. Semangat kasih menjadi spiritualitas pelayanan para anggota.

Senja. Kata ini pantas disematkan kepada Supriati, lansia yang tinggal di Panti Werda Suaka Kasih, Ujung Baru, Banjarmasin, Kalimantan Timur. Pembatas antara siang dan malam ini menjadi penanda segera berakhirnya cerita hidup.

Bersama sahabat-sahabatnya sesama lansia, Supriati kadang menghabiskan waktu di salah satu sudut ruangan Panti Werda Suaka Kasih. Pakaian batik sasirangan berwarna coklat menjadi penanda kumpulan ini. Kebersamaan semacam inilah yang mereka tunggu setiap hari.

“Mari masuk!” tiba-tiba sebuah suara mengakhiri lamunan oma 60 tahun itu. Beberapa orang masuk melalui sebuah pintu tak jauh dari tempat dimana Supriati duduk. Beberapa saat bertegur sapa, diketahui mereka adalah Komunitas Hosana, yang merupakan persekutuan karyawan karyawati Nasrani Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ulin Banjarmasin. Hari itu, mereka mengadakan bakti sosial di Panti Werda Suaka Kasih.

Awalnya Whatsapp
Awalnya, Komunitas Hosana adalah nama yang dipilih untuk sebuah grup Whatsapp karyawan di RSUD Ulin. Grup ini dibentuk sebagai wadah diskusi karyawan Nasrani. Cathrine Thomas menuturkan, dalam grup yang awalnya diketuai dr Hery Poerwosusanto ini bergabung sebanyak 14 dokter dan 33 tenaga paramedis maupun non paramedis. “Anggota grup WA ini adalah dokter, perawat, dan karyawan RS Ulin yang beragama Kristen dan Katolik,” ujar Cathrine.

Selain grup WA Komunitas Hosana, saat itu di RSUD Ulin juga sudah terbentuk Bakti Warga Kesehatan Kristen (BWKK). Komunitas yang dirintis dokter Siagian (Almarhum) ini berkembang menjadi sebuah kelompok ekumenis dengan kegiatan ibadah bersama secara kecil-kecilan. “Mungkin karena pada waktu itu kita ini minoritas, jadi kami merasa lebih bersemangat! Kita rangkul semuanya saja: dokter, perawat, bidan, sales obat-obatan, dan semua umat Kristiani yang ada di rumah sakit,” kisah Elfrida istri dr Siagian.

BWKK merayakan Natal bersama pertama kalinya tahun 1983. Elfrida melanjutkan, gerakan ekumenis ini juga menjadi wadah bagi karyawan Kristiani dari rumah sakit lain di kota Banjarmasin. Ia mengingat beberapa kegiatan yang pernah dijalankan misalnya kegiatan bersama Almarhum Mgr F.X Prajusuta MSF dan para suster St Paulus dari Chartres (SPC).

Elfrida menuturkan, saat ia sekeluarga mulai menetap di Banjarmasin dan ditempatkan di RSUD Ulin, ketika itu umat Kristiani masih sangat sedikit. Meski demikian, umat berusaha untuk dapat berkumpul bersama. “Maka kami mulai mencoba untuk bisa berkumpul bersama,” tutur Elfrida.

BWKK pun berkembang perlahan namun pasti. Elfrida mengingat, justru karena minoritas namun kebersamaan umat menjadi kompak dan bersemangat. Ia bersama suaminya berusaha mengumpulkan semua karyawan Kristen di RSUD Ulin dalam komunitas rintisan ini. “Waktu itu kita membentuk komunitas ini agar menjadi tempat kumpul. Kita bisa berdoa bersama dan berbagi suka duka,” kisah Elfrida.

Pada masa itu, BWKK melakukan ibadah rutin setiap hari Jumat. Ketika rekan-rekan Islam melakukan Salat Jumat, kelompok ini juga menyelenggarakan ibadah bersama. “Awalnya banyak yang hadir bahkan sekitar 80 orang, sekarang tidak terlalu banyak. Alasan utama adalah waktu yang padat dengan kesibukan masing-masing diselenggarakan satu kali sebulan,” ucap Elfrida.

Akhirnya kelompok BWKK mulai intens bertemu di luar rumah sakit. Mereka mencari alternatif pertemuan lain dengan kegiatan non-peribadatan seperti pengobatan gratis kepada masyarakat. Elfrida mencontohkan, BWKK mengadakan bakti sosial di daerah Barambai sekitar tahun 1983 (sekarang wilayah Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan). Selain itu kegiatan lain yang dibuat adalah imunisasi bayi, pembagian obat-obatan, dan lainnya. “D isamping mengajak orang yang kami kunjungi berdoa bersama. Kami juga melaksanakan kegiatan bakti sosial dan pengobatan bagi warga yang kami kunjungi.”

Ragam Kegiatan
Seiring waktu BWKK pun berubah menjadi Komunitas Hosana. Cathrine menjelaskan, dengan bergabung dalam komunitas ini, karyawan Kristiani dapat saling berinteraksi dan menguatkan dalam karya di rumah sakit. “Meski kami sedikit namun lewat komunitas ini kami dapat saling mendukung dan menguatkan,” ujar Cathrine.

Tak hanya kunjungan ke panti wreda yang sebelumnya pernah mereka adakan. Komunitas Hosana beberapa kali mengadakan kegiatan. Misalnya saja, lanjut Cathrine, mereka mengadakan ibadah bersama di lingkungan rumah sakit tempat mereka berkarya. “Kegiatan ibadat ini cukup sering kami lakukan bersama.”

Semua karyawan dari segala usia dapat bergabung dalam Komunitas Hosana. Bahkan sekarang tidak saja orang kesehatan tetapi di luar kesehatan pun hadir. “Pokoknya siapa yang mau bergabung, kami welcome saja,” ucap dokter Elfrida bersemangat.

Cathrine mengungkapkan, dalam setiap kegiatan, mereka bermaksud membagikan kebahagiaan bagi sesama. Cathrine mencontohkan, kegiatan kunjungan ke Panti Werda Suaka Kasih ini merupakan cara Komunitas Hosana untuk membagikan berkat bagi sesama. Lewat kegiatan semacam ini, anggota komunitas mendapatkan kebahagiaan dalam perjumpaan dengan penghuni panti. “Kami senang dapat menghibur oma-opa, mereka kami anggap seperti keluarga kami sendiri.”

Dalam kunjungan ke Panti Werda Suaka Kasih, Cathrine dapat melihat wajah bahagia yang menyambut hangat anggota Komunitas Hosana. Kebersamaan dalam ibadah bersama di sana juga menjadi pengalaman tak terlupakan. “Berbaur menjadi satu. Itulah suasana yang dirasakan dalam komunitas.”

Lewat kegiatan kunjungan semacam ini, Komunitas Hosana tidak hanya berusaha beriman dalam ibadah dan doa. Cathrine menjelaskan lewat cara ini, komunitas berusaha melakukan tindakan nyata untuk peduli sesama. Ini menjadi cara beriman yang paling tepat, setidaknya dalam perbuatan nyata semacam ini, iman tidak hanya menjadi slogan namun sungguh nyata dalam perbuatan.

Dionisius Agus Puguh Santosa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here