Pacar Tak Kunjung Melamar

163
Pacar Tak Kunjung Melamar
4 (80%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Dear pengasuh, … Saya perempuan, 42 tahun, belum menikah, dan saat ini dekat dengan seorang pria sekantor. Usianya dua tahun lebih tua dari saya, juga belum menikah. Kami sudah pacaran hampir dua tahun. Dua minggu belakangan ini kami sedang berantem dan tidak komunikasi. Ego kami sama-sama besar. Apa yang harus saya lakukan? Sebagai perempuan, apakah saya pantas menanyakan kapan ia akan melamar saya, karena di samping usia sudah cukup, keluarga juga terus bertanya. Mohon saran.

Susan, Solo

Dear Mbak Susan, apa khabar? Semoga baik adanya. Terkait dengan pertanyaan yang Mbak Susan sampaikan, memang problem usia dan tekanan sosial menjadi faktor yang seringkali membuat seorang perempuan berada dalam situasi dilematis. Di satu sisi ada tuntutan dan kebutuhan untuk menikah dan membangun keluarga, namun di sisi lain belum menemukan orang yang cocok dengan keinginan. Seringkali pula, keluarga dan lingkungan sosial menjadi stressor sendiri yang membuat seseorang makin tertekan. Persoalan yang Mbak Susan hadapi saat ini bisa didalami sebagai berikut:

Pertama, hal yang perlu dikaji adalah seberapa dalam hubungan yang sudah terjalin. Saya menduga, ada problem komunikasi, sehingga masing-masing pihak tidak atau belum cukup terbuka terkait dengan kondisi personal masing-masing. Mengingat dari sisi usia yang sudah matang, sebenarnya pola komunikasi yang terbangun tentunya sudah lebih dewasa. Masing-masing akan berusaha untuk membuka diri, karena tentunya tujuan pacaran tidak lagi untuk bersenang- senang.

Kedua, masalah yang saat ini terjadi, yaitu pertengkaran di antara Anda berdua, sebenarnya dapat menjadi titik tolak untuk melangkah ke pertanyaan selanjutnya. Menurunkan ego akan lebih baik bagi penyelesaian konflik di antara Anda. Sayangnya, tidak dijelaskan masalah yang terjadi. Saran saya, cobalah menghubunginya, ajak bicara dalam situasi yang netral dan nyaman; mungkin dengan dinner di suatu tempat yang cukup tenang. Jika memang ia memiliki atensi dan kebutuhan untuk menjaga kelanggengan hubungan Anda berdua, pasti akan menyempatkan waktu untuk pertemuan itu. Ini juga dapat menjadi test case, seberapa serius menyikapi persoalan yang saat ini muncul.

Ketiga, pada saat Anda berdua berbicara, cobalah untuk bersikap tenang, tahan diri dan jangan emosional, karena hal itu hanya akan memperburuk hubungan. Diri kitalah yang menjadi dirigennya. Cobalah baca situasi dan baca suasana hatinya, apakah memang ia masih memiliki perhatian terhadap Mbak Susan.

Keempat, jika memang situasinya cukup nyaman, maka bisa dilanjut ke pertanyaan tentang masa depan hubungan Anda berdua. Jelaskan padanya tentang usia Anda, tuntutan keluarga, waktu yang terus berjalan, dan semua konsekuensi yang muncul. Pahami apa yang menjadi kendalanya, kecemasan dan ketakutannya. Mungkin ada beberapa poin yang selama ini belum diungkapkannya, yang menjadi kendala di antara Anda berdua.

Kelima, pernikahan adalah keputusan bersama yang perlu dibahas bersama, terutama jika dari sisi usia memang sudah cukup, bahkan lebih dari cukup. Tujuan seseorang yang belum menikah pada saat usianya memasuki 40 tahun dan menjalin relasi dengan lawan jenis, biasanya sudah mengarah pada hubungan pernikahan dan tidak semata untuk mencari kesenangan. Hal inilah yang perlu didalami dari pasangan Anda: mengapa masih ada keengganan untuk membicarakan perkawinan. Saya menduga ada problem personal yang lebih serius, yang tidak semata-mata berkaitan dengan relasi Anda berdua, namun lebih bersifat substansial hanya yang bersangkutan yang mampu menjawab.

Keenam, ketidakyakinan dalam mengambil keputusan untuk menikah, sementara usia makin bertambah, memberikan asumsi adanya ketakutan mengambil keputusan penting yang menyangkut komitmen, tanggung jawab, dan keberanian untuk menentukan sikap. Persoalan finansial, keluarga, adanya penyakit tertentu, orientasi seks (homoseksual), trauma masa lalu, dapat menjadi faktor yang menyebabkan seseorang enggan untuk membangun mahligai rumah tangga. Perlu didalami, mana yang menyebabkan pacar Anda masih menghindari pembicaraan mengenai perkawinan.

Ketujuh, mendiskusikan dengan pasangan, tentu dengan dilandasi saling pengertian akan membuka diskusi lebih lanjut tentang diri sendiri dan tujuan pacaran.

Th. Dewi Setyorini MSi

HIDUP NO.08 2014, 23 Februari 2014

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here