KKL Pemuda Katolik: Pemuda Katolik Harus Jaga NKRI

118
Pembicara AM Putut Prabantoro, Ketua Presidium Bidang Komunikasi Politik ISKA dan beberapa peserta KKL di Denpasar, Sabtu (28/4/2018). [Dok.Pemuda Katolik]
KKL Pemuda Katolik: Pemuda Katolik Harus Jaga NKRI
2.5 (50%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.com – Denpasar, Minggu (29/4/2018), Pemuda Katolik (PK) yang merupakan organisasi kemasyarakatan dalam tubuh Gereja Katolik di Indonesia harus menjadi penjaga utama ikatan tak terputus Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Hal ini mengingat Tahta Suci (Vatikan) termasuk negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia pada tahun 1947 dan dengan mendirikan perwakilan di Indonesia dalam level Apostolic Delegatea. Selain itu hubungan Tahta Suci dan Indonesia (nusantara) sudah dilakukan sejak jaman Majapahit.

Demikian ditegaskan oleh Ketua Presidium Bidang Komunikasi Politik Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA), AM Putut Prabantoro kepada para peserta Kursus Kepemimpinan Lanjut (KKL) Pemuda Katolik di Denpasar, Sabtu, 28/4.

Ketua Presidium Bidang Komunikasi Politik ISKA, AM Putut Prabantoro didampingi Benny Wijayanto dari Pemuda Katolik (moderator) dalam diskusi di KKL PK di Denpasar, Sabtu (28/4/2018). [Dok.Pemuda Katolik]
Menurut Putut Prabantoro, hubungan antara Tahta Suci dan Indonesia yang dulu disebut dengan nama nusantara, telah terjadi sejak jaman Majapahit yang didirikan pada tahun 1293. Kontak pertama tersebut terjadi pada kurun waktu 1318 – 1330, ketika biarawan dari Ordo Fransiskan, Odorico Mattiussi, diutus oleh Paus untuk mengadakan misi ke Asia.

Di nusantara, Mattiussi berkunjung ke Jawa, Kalimantan dan Sumatera. Kunjungan tersebut tercatat dalam buku “Travels Of Friar Odoric of Pordenone”. Secara detil buku itu menjelaskan peta perjalanan Mattiussi ke nusantara yang berawal dari Padua, Italia menyeberang ke Laut Hitam, Persia, melalui Kakulta, Madras, Sri Lanka, Pulau Nikobar (Samudera Hindia) dan Sumatera. Dari Sumatera, Mattiussi meneruskan perjalanannya ke Jawa dan Kalimantan (Banjarmasin).

“Matiussi adalah orang Eropa kedua setelah Marcopolo yang berkeliling dunia. Secara tegas ia menyebut daerah yang bernama Sumatera. Dalam catatan yang dibuat Mattiussi, disebut kerajaan beraliran Hindu-Budha yang bernama Majapahit.

Perjalanan biarawan Fransiskan itu untuk mendapatkan informasi tentang wilayah Asia, yang sebagian besar penduduknya menganut agama Hindu dan Budha. Diperkirakan, kunjungan Mattiussi adalah kunjungan misi diplomatik, melihat rangkaian perjalanannya. Secara resmi Gereja Katolik masuk ke Indonesia adalah tahun 1534 ketika Kepala Kampung Mamuya, Halmahera Utara dan masyarakatnya, dipermandikan oleh Gonzalo Velloso seorang pedagang dari Portugal,” ujar Putut Prabantoro.

Putut Prabantoro juga menjelaskan bahwa Tahta Suci mempunyai peran penting dalam pengakuan internasional terhadap kemerdekaan Indonesia. Atas permintaan dari Uskup Pribumi Pertama, Mgr. A. Soegijapranata SJ, Tahta Suci mengakui kemerdekaan Indonesia dan menjadikan Tahta Suci merupakan negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Pengakuan Tahta Suci ini mendorong negara-negara lain mengikuti jejak mengingat bahwa Vatikan memiliki pengaruh politik dunia.

“Oleh karena itu, tidak ada kata lain bagi Pemuda Katolik kecuali menjaga ikatan NKRI dalam bungkus Bhinneka Tunggal Ika. Oleh karena itu, Pemuda Katolik didorong untuk tidak tinggal diam ketika NKRI mendapat ancaman,” tegas Putut

Misa penutupan KKL Pemuda Katolik oleh Uskup Denpasar, Mgr Silvester Tung Kiem San. [Dok.Pemuda Katolik]
Menurut Putut yang juga Ketua Pelaksana Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa, dari wartawan, oleh wartawan, untuk Indonesia), ancaman NKRI yang harus dicermati adalah persoalan dari dalam negeri. Ada berbagai persoalan mendasar bangsa, yang jika tidak terselesaikan akan menghancurkan NKRI.

Persoalan serius yang harus mendapat perhatian dari Pemuda Katolik antara lain, sebanyak 27% dari 6,4 juta pengguna narkoba adalah pelajar dan mahasiswa, ada 118 UU yang tidak sesuai dengan UUD NRI 1945, sebanyak 39% mahasiswa menerima paham radikal, melawan budaya hoax (mengingat ada 800.000 situs hoax di Indonesia), dan korupsi.

“Pemuda Katolik Indonesia harus menjadi motor dalam Gereja Katolik di Indonesia untuk menjaga NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila dan UUD NRI 1945. Perlu diingat ungkapan yang sering kita dengar bahwa kejahatan terbesar terjadi ketika orang baik tidak melakukan apapun, ketika terjadi ketidak-adilan di hadapannya. Dan, kita sering melakukan itu karena ketidak-pedulian kita terhadap sesama,” tegas Putut.

 

AMPP/AB

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here