ISKA DPD SumSel Selenggarakan Seminar Pendidikan Politik bagi Generasi Milenial dan Z

150
Pemateri Seminar Pendidikan PolitikBagi Generasi Milenial dan Genersi Z Prasetyo Nurhardjanto , Andries Leonardo dan moderator Leo Sutrisno saat memberikan materi
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – Bersamaan dengan pengukuhan kepengurusan DPD Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) Provinsi Sumatera Selatan, DPC ISKA Kabupaten Ogan Komering Ulu dan DPC ISKA Ogan Komering Ilir pada Sabtu (4/3/2023) bertempat di Aula Universitas Katolik Musi Charitas diadakan Seminar bagi anak-anak muda generasi milenial yang berasal dari pengurus OSIS SMA/SMK, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), organisasi kemasyarakatan, lembaga pendidikan, dan undangan lainnya dengan tema seminar “ Pendidikan Politik Bagi Generasi Milenial dan Generasi Z “ .

Pembicara utama Mgr. Yohanes Harun (Yuwono Uskup Agung Palembang) dan Singgih Setiawan (Rektor Universitas Katolik Musi Charitas).

Prasetyo Nurhardjanto dari Prsidium Pusat ISKA

Prasetyo Nurhardjanto Presidium ISKA saat menyampaikan materi seminar sesi I mengajak kaum milenieal yaitu anak-anak generasi milenial dan generasi z sekarang berusia 18 – 22 tahun,untuk perlu tau tentang politik. Sebab politik adalah sebuah proses menuju kesejahteraan, terlebih angka usia muda di Indonesia sangat besar, dan generasi ini merupakan penentu kelanjutan kebijakan pemerintah.

Foto bersama narasumber seminar, pengurus ISKA dan pserta seminar.

Materi seminar yang kedua disampaikan oleh Andries Lionardo (Dosen Universitas Sriwijaya) dikatakan bahwa pendidikan politik penting bagi generasi milenial dan generasi z sebab Indonesia emas akan jatuh pada tahun 2045 dan mereka yang akan memimpin saat itu. Terlebih anak-anak generasi milenial dan generasi z sekarang berusia 18 – 22 tahun, 22 tahun lagi mereka akan memimpin Indonesia.

Ia mengatakan, “Kita selalu kawal anak-anak milenial ini dengan pemahaman-pemahaman, keanekaragaman, kebudayaan, berbangsa, bernegara, nilai-nilai pancasila, kebhinekaan, nilai-nilai toleransi, kemajemukan. Ini harus kita tanamakan kepada mereka agar tetap satu ditengah keragaman, perbedaan, ditengah luasnya geografi bangsa, suku, agama, ras, adat yang bermacam-macam.”

Menurutnya, generasi milenial dan generasi z perlu menyadari dan memperhatikan ancaman negara yang bisa datang dari dalam dan dari luar negeri. Dari dalam negeri bisa datang dari sebuah model adu domba, perang saudara, perbedaan pendapat yang meruncing.

“Kita tidak tahu siapa yang memberikan tapi mari kita waspadai terutama generai milenial. Berbeda gagasan sah-sah saja tapi tetap satu cita-cita menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar, negara yang disegani baik secara ekonomi global, politik global, populasi penduduk yang luar biasa,” tuturnya.

Andreas Daris Awalistyo (Palembang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here