Jalan Misi Gereja Papua

750
Penerbangan yang awalnya dirintis para misionaris di Papua.
[NN/Dok.Pribadi]
Jalan Misi Gereja Papua
3.3 (66.67%) 3 votes

HIDUPKATOLIK.com – Gereja selalu membantu orang Papua beradaptasi dengan gangguan dunia luar. Juga meningkatkan kehidupan jasmani umatnya.

Hutan nan lebat dan arus sungai deras di Tanah Papua tak henti menantang para misionaris untuk dapat sampai ke dalam. Jalan berbatu dan licin tak menyurutkan langkah mereka bertatap muka dengan masyarakat asli pedalaman.

Saat akhirnya sampai di pedalaman, misionaris-misionaris ini mendapati masyarakat Papua yang hidup terpencil dengan cara hidup homogen. Berburu dan mengambil hasil bumi dari hutan merupakan cara masyarakat asli pegunungan Papua menyambung hidup. Tak pernah terlintas dalam benak masyarakat asli bertatap muka dengan orang dari daerah lain. Bagi mereka, kedatang an misionaris asing bak dongeng yang ceritanya akan diulang turun-temurun.

Berdasarkan catatan sejarah yang ditulis Pastor Haripranata dalam Berlayar ke Timur, misi Gereja Katolik di Papua (dulu disebuat Irian Barat) berkait erat dengan terbentuknya Prefektur Apostolik Batavia pada tahun 1807. Tak berjarak lama, tahun 1859 para pastor Yesuit pertama tiba di pulau Jawa. Mgr Adam Charles Claessens yang ketika itu diangkat menjadi Vikaris Apostolik Batavia berkesimpulan bahwa misi nusantara harus diperluas.

Sang Vikaris lantas mengambil langkah berani. Ia mengutus Misionaris Serikat Yesus (Jesuit) untuk mulai memikirkan kemungkinan membuka misi di wilayah Irian Barat. Serikat Yesus lalu memulai mencoba meretas kemungkinan ini dengan mulai membuka karya di Tual, Maluku, di sebelah timur Irian pada 1888. Pastor Yohanes Kuster SJ menjadi perintis misi di tempat ini. Saat itu, bagi sebagian besar misionaris asing, wilayah Irian Barat masih jarang terdengar. Dalam setiap diskusi, nama Irian Barat pun jarang munculr.

Mendekati Papua
Keberanian Misionaris Jesuit pun berbuah. Dari Tual Pastor Kuster mengirim Pastor C. van der Heyden SJ untuk berlayar ke Irian Barat. Dalam perjalanan ini kapal yang ditumpanginya terbakar di Pelabuhan Skroe, Fak Fak. Ia merupakan misionaris pertama yang menetap di Irian Barat selama tiga minggu.

Misi di Irian Barat dilanjutkan pada tahun 1891 saat pemerintah memberi izin kepada Gereja untuk bekerja di sana. Vikaris Apostolik Batavia mengutus Pastor Cornelis Le Cocq d’Armandville SJ ke Irian Barat. Ia mendarat di pada 22 Mei 1894. Sejak itu, ia lalu mulai merintis sekolah dengan 16 murid.

Sejarah Gereja di Nusantara sampai di sebuat titik penting saat Vikariat Apostolik Batavia dipecah menjadi dua wilayah pada 22 Desember 1902. Wilayah sebelah timur Sulawesi dijadikan Prefektur Apostolik Nederland Nieuw Guinea. Karya di wilayah ini kemudian diserahkan imam-imam SJ kepada imam dari Misionaris Hati Kudus (MSC). Di Langgur, Pastor Serikat Yesus menyerahkan karya kepada imam-imam MSC. Segera setelah itu Misionaris Keluarga Kudus tiba di Merauke dan mendirikan stasi pertama di Irian Barat tahun 1905.

Kepulauan Kei merupakan kedudukan misi terdekat misi Katolik dan melalui daerah inilah para imam tiba di Papua. Saat itu, Ordo Jesuit sebagai penginjil di New Guinea yang berkedudukan di Kei telah digantikan MSC. Imam-imam dari kelompok ini telah mewartakan ajaran agama Katolik di pesisir selatan Irian Barat selama setengah abad.

Selama masa penjajahan Belanda, para imam Katolik bekerjasama dengan pejabat-pejabat pemerintah dalam upaya untuk menghilangkan praktik-praktik kanibalisme dan ritual bersetubuh tidak wajar. Hal ini di antaranya menyebabkan ketidaksuburan pada perempuan Suku Marind serta menyebabkan angka kematian tinggi.

Para Imam Hati Kudus (MSC) yang ahli bahasa dan memiliki perhatian terhadap budaya ini memulai karya yang luar biasa bersama Suku Marind-anim yang dikenal sebagai pemburu kepala yang ganas dan terorganisir di Merauke. Karya ini di kemudian hari, membuka jalan lapang bagi antropolog kelas dunia asal Swiss Paul Wirz dan van Baal dari Belanda untuk mengadakan penelitian di Irian Barat.

Berkat minat dan tulisan-tulisan dari sejumlah imam Katolik Roma pertama mengenai entnografi Suku Asmat. Maka data mengenai suku-suku asli cukup lengkap pada waktu itu. Dalam catatan ini, terungkap bahwa perutusan Katolik Roma cukup toleran terhadap sebagian besar budaya Asmat. Misalnya seperti rumah panjang bagi kaum lelaki atau bujang.

Misi Dipisahkan
Tepat tanggal 12 Januari 1912 Gubernur Jendral Belanda Idenburg memisahkan area misi Katolik dan Zending Protestan. Aturan tersebut menegaskan setiap kelompok hanya boleh menjalankan misinya di wilayah yang telah ditentukan.

Ketika pecah perang Dunia I sebanyak 90 orang suku Marind menyatakan dirinya sebagai orang misi. Buah iman semakin terlihat ketika delapan wanita dan tiga anak perempuan ikut dipermandikan untuk pertama kalinya dalam sejarah Gereja Irian Barat pada tanggal 7 Juni 1924.

Lima tahun sesudahnya, seorang misionaris Pastor Hermanus Tillemans MSC mulai berkarya di Kokonao, Irian Barat bagian tengah. Ia adalah tokoh sentral dalam pembangunan sejarah Gereja di Irian Barat. Lewat tangannya, ekspedisi dan eksplorasi ke pedalaman untuk menanamkan iman Katolik dilakukan dengan merintis sekolah-sekolah di daerah Paniai terjadi.

Namun sepak terjang MSC di pulau cendrawasih ini pun membutuhkan bantuan. Provinsial MSC kemudian meminta bantuan dari Ordo Fratrum Minorum (OFM). Permintaan itu disetujui lewat Kongregasi Propaganda Fide tahun 1936. Pastor Nerius Louter OFM dan Pastor Ph.Tetteroo OFM pun menjadi Fransiskan pertama yang menginjak Kaimana, Irian Barat.

Satu sumbangan mutiara imam-imam Saudara Dina di Irian Barat adalah ide untuk membuka isolasi orang-orang pedalaman dengan melakukan penerbangan dengan pesawat ke sana. Ide ini lahir berkat pengalaman Pastor Misael Kammerer OFM. Ia melihat pentingnya sarana transportasi yang memadai guna melayani umat di pedalaman Irian Barat. Usaha ini akhirnya menghasilkan maskapai penerbangan pertama di Irian yang dimiliki oleh empat keuskupan, yakni Association Mission Aviation (AMA). Maskapai ini dimulai dengan sebuah pesawat hibah pada tahun 1956.

Peninggalan MSC
Para imam MSC sangat peduli dengan budaya masyarakat asli Papua. Pada tahun 1938, Pastor Drabbe MSC dari Uta dipindahkan ke Kokonao. Setahun setelah itu, ia mempelajarai bahasa Mimika. Tak lama, ia dipindahkan lagi ke daerah Mappi dan dalam beberapa bulan saja menyusun kamus kecil Bahasa Yakai. Berbekal kefasihan berbahasanya, ia menerjemahkan buku Katekismus, buku doa, sejumlah cerita dari Kitab Suci ke Bahasa Yakai.

Selain itu, para imam MSC turut mendorong tradisi mengukir. Lantas, dorongan ini membawa berkat dengan adanya produksi karya asli Suku Asmat yang bertahan hingga hari ini. Tidak berhenti di situ, Gereja juga membantu Program Seni Suku Asmat berkerjasama dengan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dimulai pada tahun 1968. Dua tahun kemudian, Uskup Agats Alphonsus Augustus Sowada OSC memulai pembangunan museum seni, budaya, dan perkembangan suku Asmat di Agats. Ia juga membuat lomba mengukir yang hingga hari ini tradisi itu berlanjut. Sejumlah uang hadiah yang diterima dalam pelelangan diberikan kepada para pengukir agar tetap semangat menghasilkan ukiran kelas dunia.

Keterbukaan Gereja Katolik akan inkulturasi dikarenakan terdapat keyakinan bahwa Tuhan datang untuk semua orang dan orang-orang bukan Katolik pun berhak memperoleh keselamatan. Oleh karena itu, terdapat ruang rasa penghargaan yang lebih besar terhadap kebudayaan tradisional Papua dan kepercayaan tradisional mereka. Pola berpikir ini pula yang mengantarkan Gereja Katolik untuk selalu kembali kepada kecenderungan membantu orang-orang Papua.

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Papua, pihak Gereja telah membangun sekolah-sekolah di lokasi-lokasi pusat dan secara bertahap mengenalkan pendidikan. Kesehatan juga menjadi perhatian utama dengan awal pemberantasan penyakit kelamin dan penyakit kulit (framboesia), bersama dengan gerakan untuk menggalakan kebersihan khususnya air minum.

Felicia Permata Hanggu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here