Paroki Administratif TDGY Macanan Peduli Sampah

229
Wisnu Wardhana (berdiri), bersama penggiat sampah lainnya, RB Sutarno dan Mona menjadi narasumber dalam acara Sarasehan “Mengubah Sampah Menjadi Berkah” pada Selasa 7/8/2018. [dok.pribadi]
Paroki Administratif TDGY Macanan Peduli Sampah
3 (60%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.com Edukasi Gerakan Peduli Sampah

Paroki Administratif Tyas Dalem Gusti Yesus (TDGY) Macanan baru diresmikan pada Minggu, 11/2/2018, dengan Gembala Pastor Lambertus Issri Purnomo Murtyanto, Pr. Meski baru berusia enam bulan namun tidak menyurutkan keinginan untuk peduli kepada lingkungan.

Sebagai langkah awal, Selasa 7/8 lalu diadakan sarasehan tentang lingkungan hidup yang diberi nama Edukasi Gerakan Peduli Sampah, dengan tema “Mengubah Sampah Menjadi Berkah”. Narasumber acara adalah Lusia Mona Hartati Windoe (Mona), R.B. Sutarno, dan pemerhati/ pelaku peduli sampah, Wisnu Wardhana. Pada pukul 15.20 acara dimulai, dipandu oleh moderator Paulus Dwijo Putro.

Dalam sambutannya, Pastor Issri menyatakan bahwa sarasehan ini barulah awal bagi Paroki Adm. Macanan ikut serta mengatasi masalah sampah. Ini merupakan bagian dari rencana indah Keuskupan Agung Semarang (KAS) yaitu: Menyelamatkan bumi, menjaga keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup.

Pada kesempatan itu, Pastor Issri juga memberi tantangan kepada umat Paroki Administratif Macanan agar dapat memperlihatkan Yesus lewat cara pengelolaan sampah yang baik. Harapannya, Paroki Administratif Macanan dapat menjadi Paroki yang mengawali tentang pengelolaan sampah di KAS.

Narasumber pertama, Mona adalah seorang Sarjana Teknik Lingkungan. Umat Paroki Rawamangun, Jakarta ini juga termasuk Tim LH KAJ, anggota Gerakan Indonesia Bersih Pusat, pendamping Gropesh (Gerakan orang muda peduli sampah).

Melalui tayangan klip di layar LCD, Mona memberikan deskripsi secara singkat tentang bagaimana kondisi Indonesia sekarang ini. Indonesia ternyata juaranya penghasil sampah dunia. Sampah terbagi menjadi dua yaitu yang organik (bisa membusuk) dan sampah anorganik (sulit atau malah tak bisa membusuk).

Sumber sampah ini ternyata dari keluarga-keluarga. Sampah terbanyak adalah sampah plastik. Karena keteledoran manusia, sampah (plastik) ini banyak yang terbawa arus sungai dan menuju ke laut lepas. Akibatnya, ikan pun tercemar sampah (plastik).

Mona memperlihatkan daftar tentang lama terurainya sampah anorganik. Ternyata sampah plastik sangat lama terurai, mencapai 400 tahun baru bisa terurai. Beberapa anjuran agar bisa mengurangi sampah (plastik): bawa tas saat belanja, sebagai ganti tas kresek, jangan pakai sedotan dan bawa botol minum dari rumah.

Terutama dalam pengelolaan masalah sampah ini ada pada cara pandang kita tentang sampah. Baiknya kita memilah sampah sesuai bahannya (misal: plastik, kertas dan kardus, daun, sisa makanan).

Untuk jangka panjang, ada baiknya ada yang mengelola Bank Sampah. Bank sampah ini punya aspek yang positif, yaitu aspek lingkungan (mengurangi sampah, mengurangi pencemaran, lebih sehat dan bersih), aspek pendidikan (semua orang belajar untuk hidup tertib dengan memilah sampah sesuai jenisnya), aspek sosial ekonomi (beberapa jenis sampah mempunyai harga jual yang lumayan).

Sebagai penutup, Mona juga menayangkan jenis-jenis sampah yang bisa dijual ke pengepul seperti kertas, kardus, koran, buku, duplex (bekas snack), majalah, beling, logam, aluminium, besi, kaleng, seng, tembaga. Plastik berupa gelas mineral, gelas plastik warna, botol, tutup botol, pralon.

Didapuk sebagai narasumber kedua ialah RB Sutarno yang berdomisili di Sunter Jaya, Jakarta Utara. Sutarno lebih banyak menerangkan tentang pembuatan kompos dengan alat yang namanya komposter. Ia banyak pengalaman dalam pembuatan kompos dan telah mendapatkan hasil positif dengan adanya kebun gizi di halaman rumahnya. Sampah dapur bila dimasukkan komposter, sekitar enam bulan baru penuh dan difermentasi jadi air.

Sutarno menganjurkan untuk mengubah cara pikir. Bila tadinya menganggap sampah itu menjijikkan, karena bau busuk, ada cacing, belatung, dan lain-lain. Ternyata cacing tanah dan belatung bisa dijual mahal. Air sampah pun bisa dijual (bila sudah lancar, tiap dua minggu sekali bisa panen), kompos padat juga bisa dijual.

Selain penjelasan tentang kompos, Sutarno juga menjelaskan tentang beberapa tanaman yang biasa disebut apotik hidup atau istilah kerennya TOGA (Tanaman Obat keluarGA). Lewat layar juga ditampilkan daftar nama tanaman, gambar dan manfaatnya.

Ia juga membawa beberapa contoh tanaman dan dibagikan ke semua ketua lingkungan yang ikut acara edukasi ini, agar bisa dibudidaya di limgungan masing-masing. Dalam kesempatan ini, Sutarno juga menganjurkan untuk melakukan Diet Kenyang. Maksudnya: makan sebelum lapar, berhenti sebelum kenyang dan kurangi gorengan.

Narasumber ketiga adalah Wisnu Wardhana, pria kelahiran Banjarmasin yang sekarang menetap di Minomartani. Selama 36 tahun ia bermain-main dengan sampah, karena memang dia adalah tukang sampah. Dari pengalaman sekian lama bermain-main dengan sampah ini, Wisnu menyimpulkan bahwa kita masing-masing itu punya kewajiban dalam pengelolaan sampah.

Menurutnya, TPA tempat dimana sampah dari rumah ke rumah diangkut dan dibuang, seharusnya menjadi tempat pengelolaan akhir dengan penanganan khusus (ada pemilahan dan pengelolaan khusus dari sampah-sampah itu, bukan hanya ditumpuk begitu saja).

Menurut Wisnu, sampah itu bagian dari diri kita sendiri. Penanganan sampah yang benar adalah: selesai di tempat. Di sini kita harus mengubah kebiasaan (habitual) perilaku kita. Sebenarnya, sampah itu menjadi berbahaya jika hanya ditimbun.

Sampah dalam penanganannya mengandung 3E. E pertama adalah Etika/perilaku: manusia punya kebiasaan untuk mengelola dengan benar. E kedua adalah Efisien: selesai di tempat (diberesi langsung). E ketiga adalah Ekonomi: dengan memilah sampah, lalu mengolahnya menjadi kerajinan, ada nilai jual tersendiri yang dapat menaikkan perekonomian masyarakat.

Sebagai orang yang punya banyak pengalaman dalam pengelolaan sampah karena pekerjaanya sebagai tukang sampah se-Indonesia, Wisnu mengajarkan juga tentang pengelolaan sampah yang mengikuti asas kehati-hatian.

Perlu dipikirkan tentang zat yang dipakai untuk mengurai sampah, apakah aman atau tidak bagi kesehatan maupun alam. Bagi yang memiliki halaman luas bisa juga mengelola sampah secara biopori: lubangi tanah, diberi sampah daun lalu ditimbun lagi bila sudah penuh.

Usai pemaparan ilmu dari narasumber, diadakan tanya jawab dari para peserta. Terlihat ada kebingungan dari para peserta karena ada perbedaan cara pandang dari ketiga narasumber namun akhirnya peserta dapat melihat segi positif acara ini, yaitu bertambahnya ilmu tentang pengolahan sampah.

Tidak berhenti sampai di situ, tiap wilayah dibentuk tim untuk berkumpul di tingkat Paroki Administratif Macanan. Tim itulah yang nantinya menjadi penggerak pengelolaan sampah di tingkat wilayah. Semoga semua akan berjalan sebagaimana yang diharapkan.

Immaculata Is Susetyaningrum (Yogyakarta)

1 COMMENT

  1. Sedikit koreksi, pada keterangan foto yang pertama, yang benar berdiri adalah Romo Issri …Yess, kami belajar peduli sampah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here