Yubileum Kemajemukan Keuskupan Manado

167
Mgr Benedictus Estepanhus Rolly Unu MSC (kiri) saat menutup Yubileum Keuskupan Manado tingkat Kevikepan Manado. [HIDUP/Lexie Kalesaran]
Yubileum Kemajemukan Keuskupan Manado
3 (60%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com Yubileum Keuskupan Manado, kesempatan merefleksikan peran umat di tengah keberagaman.

UMAT Keuskupan Manado tidak akan melupakan perjuangan Daniel Mandagi. Keberanian Daniel menghadap Vikaris Apostolik Batavia agar misi pelayanan di tanah Minahasa dibuka kembali, membuat ia dijuluki perintis misi Katolik di Minahasa.

Tak lama setelah permintaan Daniel, diutuslah Pastor Johanes de Vries SJ, Pastor Georgus Metz SJ, dan Pastor van Meurs SJ. Uskup Manado Mgr Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC mengungkapkan, gerakan yang dilakukan Daniel memunculkan gerakan baru dalam karya pewartaan di daerah yang kini menjadi Keuskupan Manado.

Demikian disampaikan Mgr Rolly saat Misa Puncak Perayaan Yubelium 150 tahun masuknya Gereja Katolik tingkat Kevikepan Manado di Gedung Mapaluse Kantor Gubernur Sulut, Minggu, 2/9.

Dalam perayaan ini, Mgr Rolly mengajak umat untuk memahami lebih dalam tentang perjuangan kaum awam dan para misionaris. Bila menengok jauh sebelumnya, kata Mgr Rolly, perjalanan misi Katolik di Minahasa terbentuk dalam beberapa periode.

Misionaris awal masuk tahun 1563-1677 di bawah pimpinan Pastor Diogo de Magelhaes. Ia berhasil membaptis banyak penduduk dan beberapa raja. Setelah itu, lanjut Mgr Rolly, datang misionaris lain seperti Pater Mascarenhas SJ, Pater Roger Koenraads, Pater Francesco de Groce, dan Pater Antonio Pereira.

Periode berikut adalah misi sejak 1853-1919 saat pendudukan VOC yang memaksa misi berhenti. Berkat Daniel munculnya beberapa stasi seperti di Kakaskasen, Sarongsong, Tara-tara, Woloan dan daerah lainnya.

Perayaan yang dirayakan tingkat kevikepan ini dihadiri oleh ribuan umat dan pastores. Acara diawali Misa syukur bertepatan dengan Minggu Kitab Suci Nasional (BKSN) yang dipimpin Mgr Rolly didampingi Uskup Emeritus Mgr Josef Suwatan MSC dan puluhan imam.

Dalam khotbahnya, Mgr Rolly mengajak umat untuk berani mewartakan Injil di tengah masyarakat yang majemuk. “Kita akan berjumpa dengan pelbagai keragaman suku, agama. Perayaan 150 tahun ini hendaknya memunculkan gerakan-gerakan baru dalam karya pewartaan di dunia yang majemuk ini,” ungkap Mgr Rolly.

Sementara itu, Mgr. Suwatan dalam pesannya berharap agar umat Katolik tidak sekadar merasa bangga atas imannya tetapi iman itu harus terwujud dalam kehadiran bersama orang lain. Daniel dan para imam mampu berjuang di tengah gesekan agama lain seperti Islam, Protestan, dan kepercayaan lainnya yang sudah ada di Minahasa saat itu.

Mereka mampu bertahan mewartakan pesan Tuhan. “Semangat ini yang tertuang dalam bulan Kitab Suci harusnya membuat umat Keuskupan Manado bisa terbuka dan keluar mewartakan Sabda Tuhan pula.”

Di kesempatan yang sama, Ketua Panitia Pastor Frans Mandagi dalam laporannya menyebutkan bahwa sejumlah kegiatan telah dilaksanakan di tingkat Kevikepan Manado. Ia berharap agar perayaan yubileum 150 tahun ini dapat menghangatkan semua umat.

 

Lexie Kalesaran (Manado)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here