All About Love

232
1/5 - (1 vote)

Pagi-pagi sekali kakek tua berangkat ke rumah kepala desa tersebut. Ia berharap mendapatkan secangkir teh panas dan sepiring nasi di rumah kepala desa.
“Selamat pagi bapak kepala desa,” sapa kakek itu ramah.
“Selamat pagi juga kek… Mari kek…,” sahut istri kepala desa ramah, sambil mempersilahkan sang kakek masuk.
“Ada keperluan apa pagi-pagi sekali sudah bertamu ke rumahku? Bukannya hari ini kamu harus membersihkan kebun singkong milikku?” tanya Kepala Desa dengan geram.
“Bapak kepala desa, karena hendak membersihkan rumput di kebun singkong milik bapak, makanya saya pagi-pagi sekali datang ke sini untuk sarapan. Karena sudah menjadi kebiasaan warga kampung di sini, sebelum saya bekerja terlebih dahulu sarapan di rumah mereka.”

Namun kepala desa itu berkata dengan nada suara yang semakin keras dan menghina, “Kakek tua! Jangan samakan aku dengan warga di sini. Kamu tahu kan kalau aku adalah kepala desa di kampong ini. Semua yang kuperintahkan dan kuinginkan harus ditaati. Semua orang di kampung ini takut dan taat kepadaku. Jadi semua orang yang bekerja di sini wajib mengikuti aturanku.”

“Bapak kepala desa, saya mohon berikan saya sepiring nasi. Biarkan sepiring nasi itu mengisi perut saya yang kosong, karena dari semalam saya belum makan sedikitpun.”
“Pak, kasihanilah kakek malang ini. Kenapa bapak setega itu?” sahut istri kepala desa.
“Jangan mencampuri urusanku. Pergi sana!” Bentak kepala desa.

Dengan sombong ia kembali mencaci kakek malang, “Eh, tua bangka. Semua itu bukan urusanku. Engkau lapar atau mati, semuanya diluar tanggung jawabku.”
Dengan wajah memelas kakek malang itu tetap meminta belas kasihan kepala desa. Namun semakin kakek memohon, semakin kepala desa tak peduli. Ia malah menghujani kakek itu dengan beribu kata hinaan.

“Dasar pemalas. Belum bekerja sudah minta imbalan. Kamu pikir kamu siapa, sehingga aku harus memberi kamu makan?”
Merasa tak puas dengan kata-kata hinaan, kepala desa itu menghujani si kakek dengan beberapa pukulan. Wajah dan tubuh kakek itu bersimbah darah.
Kakek tua itu tak melawan dan hanya bisa pasrah. Kakek itu diseret keluar dari rumahnya.
“Dasar tua bangka tak tau diuntung. Pergi…pergi…pergi! Rumahku tak layak menampung orang malas sepertimu.”

***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here