Martha Clara Luciana dan Ferry Yusuf Lubis : Jangan Pernah Putus Berdoa

486
Martha Clara Luciana dan Ferry Yusuf Lubis.
[HIDUP/Yanuari Marwanto]

HIDUPKATOLIK.com – Narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) sempat merenggut keharmonisan rumah tangga mereka. Titik balik terjadi saat nyawa dalam kondisi kritis. Teruslah berdoa.

Monika, ibunda St Agustinus dari Hippo, baru berusia 20 tahun ketika menikah dengan Patrisius. Sang suami penganut Pagan dan memiliki tabiat buruk: kasar dan mudah tersulut amarah. Monika mengalami tekanan batin luar biasa akibat perlakuan suaminya itu. Monika begitu sabar menanggung semua itu, sambil tekun berdoa memohon campur tangan Tuhan.

Bertahun-tahun lamanya tak ada tanda apa pun bahwa doanya dikabulkan Tuhan. Baru pada saat-saat terakhir hidupnya, Patrisius bertobat dan minta dipermandikan. Monika sungguh bahagia mengalami rahmat Tuhan tersebut. Berkat teladan rohani dan keutamaan hidupnya, Takhta Suci menganugerahi gelar kudus kepada Monika. Ia menjadi patron ibu rumah tangga.

Perjuangan St Monika menghadapi kelakuan Patrisius serta ketekunan doanya agar sang suami bertobat, hampir mirip dialami oleh Martha Clara Luciana. Lucy, panggilannya, tak pernah putus mendoakan suaminya, Ferry Yusuf Lubis, agar berhenti mengkonsumsi narkoba. Ia hampir putus asa karena doanya seakan tak membuahkan hasil. Lucy juga nyaris bunuh diri karena tak tahan menanggung tabiat suaminya.

Nyaris Menyerah
Lepas tengah malam, telepon di rumah orangtua Lucy berdering. Lucy masih terjaga saat itu. Doa yang sedang ia rapalkan disudahinya. Lucy berpikir, telepon yang masuk pada jauh malam seperti itu biasanya amat penting dan mendesak. Belum lama menerima panggilan tersebut, Lucy meletakkan gagang telepon dengan keras.

Air mata membasahi kedua pipinya. Ia sedih, kecewa, dan marah. “Waktu itu Ferry menelpon saya. Tapi, saya tak mengerti apa yang dia omong. Ferry hanya hu ha hu ha, seperti orang meracau. Saya tahu, dia baru abis make (pakai) narkoba,” kenang Lucy, sembari melihat suaminya, saat ditemui di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Pusat, Selasa, 23/10.

Saat itu, Lucy merasa, doanya untuk sang suami selama ini tak dikabulkan Tuhan. Padahal, selama bertahun-tahun, setiap tengah malam hingga pukul 03.00 dinihari, Lucy selalu mendoakan suaminya. Ia memohon kepada Tuhan agar Ferry berhenti mengkonsumi barang haram dan kembali ke jalan yang benar. Itu terus Lucy lakukan meski dirinya dan sang suami tak lagi tinggal serumah.

Kejadian malam tersebut nyaris membuat Lucy berhenti untuk mendoakan suaminya. Ferry, menurut penilaian Lucy, tak ada kehendak sedikit pun untuk berubah. Beberapa teman dan keluarga Lucy menyarankannya untuk bercerai dengan Ferry. Di sisi lain, keluarga Ferry menuduh Lucy sebagai istri yang tak mampu menolong suaminya. Lucy kian tertekan.

Syukur, Lucy tak terbujuk dengan saran beberapa kolega dan keluarganya. Dia tetap berdoa kepada Tuhan agar Ferry bertobat. “Siapa lagi yang senantiasa berada di dekat saya, mendengar keluh kesah, serta permohonan saya selain Tuhan? Maka, saya tak berhenti berdoa dan meminta bantuan kepada-Nya,” ujar Lucy.

Jerat Narkoba
Ferry memakai narkoba tahun 1995, atau dua tahun setelah dia dan Lucy menikah di Gereja Maria Bunda Karmel Tomang, Keuskupan Agung Jakarta. Ferry berdalih memakai narkoba akibat tensi pekerjaan dan pengaruh buruk kliennya.

Narkoba membawa dampak buruk bagi kehidupan Ferry dan rumah tangganya. Selain membuang banyak uang, waktu, dan tenaga, Ferry kehilangan pekerjaan. Ia dipecat. Relasi Ferry dengan Lucy juga memburuk. Mereka kerap bertengkar.

Sedalam-dalamnya bangkai dikubur, baunya akan tercium juga. Lucy pada akhirnya mengetahui bahwa Ferry kecanduan narkoba. Lucy menemukan bong (alat pengisap narkoba) Ferry di rumah. Meski mendapat teguran dari Lucy, Ferry tak kunjung jera. Bahkan, dia tega mengajak Lucy untuk mencoba narkoba bersama teman-temannya. “Saya ingin istri juga jadi pengguna biar sama seperti saya.”

Menurut Lucy, dari seluruh perbuatan suaminya, yang paling menyakitkan adalah ketika dia menghubungi Ferry namun yang menerima telepon adalah perempuan. Lucy langsung mendatangi lokasi Ferry. Tapi, dia tak bertemu suaminya di sana. “Hanya ada dua perempuan saat itu di sana. Mereka mengaku kakak-beradik. Saya tak tahu apa yang Ferry lakukan, mungkin mereka sama-sama makai (narkoba),” tutur Lucy.

Kejadian itu menjadi salah satu pemicu Lucy berpisah dengan Ferry. Lucy pindah ke rumah orangtuannya, sementara Ferry tetap tinggal di rumah pribadi mereka. Usai peristiwa tersebut, Lucy tak pernah lagi menghubungi suaminya. Ferry yang justru menelpon atau mendatangi Lucy.

Dua tahun berpisah, tiba-tiba pada suatu malam Ferry menelpon Lucy. Dia sakit dan meminta Lucy datang ke rumah. Saat itu, Lucy sedang di mall dan hendak makan malam bersama ibunda. “Begitu tahu, ibu menyuruh saya pergi (ke Ferry). Dia juga membekali makanan untuk saya dan Ferry,” ucap bungsu dari empat bersaudara itu.

Ferry terbaring di atas tempat tidur. Tubuhnya loyo. Wajahnya pun pucat. Lucy mencoba untuk menyuapi Ferry namun tak berhasil. Dia meminta Lucy menunggu di luar kamar sejenak. Lantas Ferry berdoa. Usai itu, Ferry merasakan perubahan luar biasa dalam dirinya. Dia mampu bangkit dan berjalan. “Saya percaya Yesus menjamah dan menyembuhkan saya.”

Malam itu juga, ditemani Lucy, Ferry membuang semua peralatan yang dipakai untuk mengkonsumsi barang haram dari dalam rumahnya. Setelah lima tahun, Ferry akhirnya berhenti memakai narkoba. Sejak saat itu pula hubungan dia dengan Lucy berangsur pulih. Mereka kembali “menyulam tenun” rumah tangga.

Sembari memulihkan kesehatan, Ferry mencari pekerjaan. Ini tak mudah. Lebih dari 20 surat lamaran yang dia kirim tak ada satu perusahaan pun yang memanggilnya. “Padahal saya bersedia untuk melakukan pekerjaan apa pun dan rela mendapatkan upah paling kecil,” beber Ferry, serius.

Ferry mendaftar di Sekolah Evangelisasi Pribadi (SEP) Shekinah, di Jakarta Pusat. Kegiatan ini untuk mengisi waktu kosong. Dia mengaku, mendapat informasi tersebut dari selebaran yang dibagikan umat usai Misa. Setelah SEP rampung, Ferry mengikuti ret-ret dan berbagai kegiatan yang diadakan oleh Shekinah.

Seiring waktu, Ferry mulai terlibat dalam karya pelayanan untuk orang sakit, pecandu narkoba, dan warga binaan. Bersama Komunitas Efata, Ferry mengembangkan karya tersebut. Karya itu juga mempertemukan Ferry dengan mantan pimpinan yang memecatnya dulu. Dia meminta Ferry untuk mendoakan orangtuanya yang sakit.

Tak disangka, bos yang dulu memecat dia akhirnya mengajak Ferry kembali bekerja. Namun, belum lama bekerja, Ferry berencana keluar saking semangat dalam pelayanan. Namun, atas saran Lucy, Ferry membatalkan keinginannya itu. “Kamu meminta pekerjaan kepada Tuhan, masa begitu Dia sudah memberi kamu tinggalkan,” ungkap Ferry.

Tantangan Lucy dan Ferry berlanjut. Tahun 2006, Lucy masuk ruang operasi karena gangguan endometriosis atau sindrom iritasi usus. Nahas, operasi pertama berjalan tak mulus dan memaksa Lucy kembali menjalani operasi kedua tahun 2008. Operasi tersebut membawa konsekuensi besar bagi mereka. Lucy harus merelakan rahimnya diangkat. Tapi itu keputusan terbaik mereka agar Lucy tak terus dirundung sakit pasca operasi pertama.

Ferry senantiasa berada di dekat sang istri sejak Lucy dirawat hingga pemulihan. Ferry menyakini, Tuhan menghadirkan peristiwa tersebut agar dia dan Lucy dapat membangun kebersamaan, berjuang bersama, dan semakin mempersatukan mereka.

Perak Pernikahan
Pada 10 Oktober lalu, Ferry dan Lucy, memperingati usia perak (25 tahun) pernikahan. Lucy tak ingin muluk-muluk. Dia hanya berharap agar dirinya dan Ferry bisa melangkah seturut kehendak dan ajaran Tuhan. Ini tak mudah, membangun dan mempertahankan Sakramen Pernikahan, bagi Lucy, menuntut pengorbanan.

Bagi Ferry, meski merawat hidup pernikahan itu sulit, tapi ada rahmat atau sakramen dalam perkawinan. Rahmat itu menurut Koordinator Seksi Media Komunikasi Badan Pelayanan Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia yang terus menguatkan dan mempersatukan dirinya dengan Lucy hingga kini. “Sesulit apa pun rintangan yang dialami, jangan pernah putus berdoa,” pungkas Ferry.

Yanuari Marwanto

HIDUP NO.44 2018, 4 November 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here