Masih Ada Harapan, Luruskan Jalan bagi Tuhan!

72
Masih Ada Harapan, Luruskan Jalan bagi Tuhan!
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com Minggu 09 Desember 2018, Minggu Adven II Bar. 5:1-9; Mzm. 126:1-2ab,2cd-3,4-5.6; Flp. 1:4-6,8-11; Luk. 3:1-6.

“Timbunilah lembah dosa dan kekuranganmu. Ratakanlah bukit kesombongan dan keinginanmu yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.”

BERITA tentang berbagai bencana alam tentu membuat kita merasa pesimis. Tetapi sebaliknya, berita yang disampaikan oleh bacaan Kitab Suci hari Minggu Adventus kedua ini adalah berita gembira yang membangkitkan optimisme.

Dalam Bacaan Pertama (Bar 5:1-9), Nabi Barukh mengajak umat di Yerusalem untuk menanggalkan pakaian kesedihan dan kesengsaraan dan mulailah bersukaria, karena Allah telah memperhatikan dan menyelamatkan mereka.

Umat Israel pantas bergembira karena Allah telah membawa mereka kembali ke Yerusalem dari pembuangan Babel. Demikian juga Injil hari minggu ini (Luk 3:1-6) menyampaikan berita gembira bagi umat manusia.

Pada saat yang telah ditentukan Allah, Yohanes Pembaptis tampil untuk memaklumkan kedatangan Tuhan dan mempersiapkan jalan-Nya. Pemakluman kedatangan Tuhan itu adalah berita gembira yang memberi harapan dan sukacita bagi umat manusia, dan berita gembira ini menunjukkan bahwa Allah selalu setia pada janji-Nya.

Kitab Suci memberikan kesaksian bahwa sejak semula Allah menciptakan manusia menurut citra-Nya agar manusia hidup berbahagia bersama-Nya. Tetapi apa yang terjadi kemudian, justru hal yang sebaliknya. Manusia jatuh ke dalam dosa karena menolak cinta Allah.

Lalu, bagaimana dengan sikap Allah? Bosankah Allah terhadap manusia yang berdosa? Sekali-kali tidak. Allah tidak pernah bosan kepada manusia, meskipun manusia berdosa dan menolak cinta-Nya, sebab Allah dari kodrat-Nya adalah Maha Setia dan Maha Kasih.

Kesetiaan dan kasih Allah terbukti dengan pemakluman kedatangan Yesus Putra-Nya. Bangsa Israel, pada masa tampilnya Yohanes Pembaptis sungguh rindu akan kedatangan Tuhan. Mereka merasa seolah-olah berada di pembuangan, karena mereka dijajah oleh orang-orang Romawi.

Situasi ini mereka anggap sebagai hukuman atas dosa-dosa mereka. Oleh karena itu seruan Yohanes Pembaptis untuk bertobat, mereka terima dengan penuh harapan dan sukacita. Mereka merasa perlu untuk berbalik dari jalannya yang sesat, untuk banting stir dari dosa dan hawa nafsu.

Hanya dengan jalan pertobatan itu, mereka dapat hidup berbahagia dan siap menyambut kedatangan Tuhan. Masa Adventus adalah masa penantian akan kedatangan Tuhan. Pada masa ini barangkali kita perlu belajar dari pengalaman dan perasaan bangsa Israel. Sebab kita pun sedang menantikan kedatangan Tuhan pada akhir zaman dan pada akhir hidup kita.

Demikian dikatakan Santo Paulus dalam bacaan kedua (Flp 1:4-6.8-11). Santo Paulus menasihatkan kita agar kita hidup suci dan tak bercela menjelang hari Kristus. Maksud dari hari Kristus adalah Parusia, yaitu kedatangan Kristus yang kedua, yang terjadi pada akhir zaman dan juga pada akhir hidup kita.

Seperti bangsa Israel, kita pun seringkali kurang menghargai nilai-nilai Kristiani atau Injili seperti nilai kejujuran, kebenaran, keadilan, ketaatan, kerendahan hati, dan semangat melayani. Demikian juga jalan hidup, pandangan hidup dan motivasi kita untuk mengikuti Kristus seringkali kurang tepat dan murni.

Karenanya kita merasa berada dalam pembuangan dan dalam kuasa dosa. Oleh sebab itu kita membutuhkan pandangan hidup baru, jalan hidup dan motivasi yang baru. Kepada kita pun Yohanes Pembaptis berseru: Luruskan jalan hidupmu di hadapan Tuhan dengan hidup penuh kejujuran, kebenaran, keadilan, dan ketaatan.

Timbunilah lembah dosa dan kekuranganmu. Ratakanlah bukit kesombongan dan keinginanmu yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Dengan kata lain, harus ada perubahan konkret dalam diri kita masing-masing.

Setiap kita harus berubah dan hidup secara baru. Jangan hanya menyuruh orang lain berubah. Setiap kita harus bertobat dari dosa. Kita harus membetulkan dan meluruskan hidup menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.

Kita akan melihat dan mengalami keselamatan dan kebahagiaan dari Tuhan di kala melaksanakannya. Marilah menyadari situasi hidup kita yang seringkali masih jauh dari Allah, yaitu situasi keberdosaan. Selanjutnya kita perlu mempersiapkan diri bagi kedatangan Tuhan, terutama dengan persiapan batiniah.

Melalui pertobatan dan melakukan karya cinta kasih bagi sesama yang menderita dan membutuhkan bantuan. Semoga Tuhan menyanggupkan kita untuk bermetanoia atau bertobat dalam konteks mempersiapkan diri bagi kedatangan-Nya, mulai di hari Natal ini.

 

Mgr Silvester San
Uskup Denpasar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here